Bab 17

1154 Kata
Zeyn bahkan dengan buru-buru langsung menuju kamar Zoe, setelah sampai di mansionnya. Tujuannya langsung ke ruangan ganti Zoe dan memeriksa semua perhiasannya di sana. Luca dan Ronald juga ikut mencari namun anehnya tidak ada gelang yang dimaksut oleh ibunya. "Sial! Kenapa tidak ada apapun di sini." Zeyn bahkan mengumpat karena dia sudah membongkar barang-barang Zoe. Tapi tidak ada apapun. "Kamarmu?" Ucap Luca yang akhirnya Zeyn juga pergi ke kamarnya yang mungkin Zoe meletakkan gelangnya di sana. Mereka kembali mencari bahkan membongkar semua yang ada di dalam lemari namun juga tidak menemukan apapun. "Brengsekk!" Umpatnya karena kesal. "Itu berarti kau harus menanyakannya kepada Zoya. Jika dia juga memiliki kalung dan ada inisial V di belakangnya, itu berarti mereka kembar." Ucap Ronald yang membuat Zeyn terdiam. Dia memang belum menanyakan apapun kepada Zoya perihal kalung yang entah dia memilikinya atau tidak. "Aku akan menjemputnya sekarang." Ucap Zeyn yang ingin pergi namun Luca mencegahnya. "Jangan bodoh dan menjadi pria yang terlalu memperlihatkan obsesi dan posesifmu, Zeyn! Biarkan dia menyelesaikan kegiatannya terlebih dahulu. Dia akan semakin takut dan tidak nyaman jika sikapmu begini." Ucap Kuca yang memperingati sahabatnya dan sebenarnya dia sendiri juga merasa kesal karena merasa Zeyn benar-benar berlebihan. Padahal dulu saat bersama Zoe, bahkan dia tidak terlalu seperti ini. "Aku harus memastikannya." "Lalu jika kau sudah tau, apa yang ingin kau lakukan? Kau meninggalkannya?" "Itu tidak mungkin! Dia akan selamanya milikku tidak peduli apapun masa lalunya." Ucap Zeyn dengan tegas dan jelas saja marah dengan perkataan Luca. "Kalau begitu tenanglah dan bersabarlah, jangan seperti ini." Ucap Luca yang membuat Zeyn mengeraskan rahangnya namun akhirnya menurutinya. "Apa kau mencintainya? Atau hanya mencintai wajahnya?" Tanya Ronald yang membuat Zeyn masih terdiam. "Aku tidak tau, yang terpenting dia milikku dan aku tidak mau kehilangannya." "Sikap Zoe dan Zoya berbeda jauh, aku yakin kau sama sekali tidak melihat diri Zoe di dalam tubuh Zoya, itu berarti kau mencintainya." Ucap Ronald yang membuat Zeyn terdiam. Kata-katanya yang mengatakan jika dirinya mencintai Zoya memang sudah dia keluarkan agar Zoya percaya jika dirinya memamng mencintainya dan ingin selalu bersamanya. Namun sejujurnya dia belum tau pasti jika memang dirinya mencintai Zoya atau hanya menginginkan wajahnya karena mirip dengan Zoe karena awalnya memang niatnya hanya tidak ingin wajah dan tubuh Zoya dimiliki oleh orang lain. Ronald dan Luca saling pandang dan akhirnya mengerti jika Zeyn sepertinya memang mencintai Zoya bukan hanya wajahnya, namun semua yang ada pada dirinya. Zeyn akhirnya mengambil ponselnya dan menghubungi Zoya. Zoya yang saat itu masih ada kelas jelas saja langsung mamtikannya dan tidak mengangkatnya. "Lebih baik kita meting dulu, sebentar lagi kita harus bertemu dengan klien, jangan menganggu istrimu yang sedang kuliah," "Itu resikomu karena memiliki istri yang masih kuliah." Ucap Luca yang akhirnya Zeyn menurutinya. Sebenarnya Zoya sudah seharusnya lulus, hanya saja dulu dia sering cuti dan terlambat untuk masuk kuliah, meskipun dia mendapatkan beasiswa, tetap saja tidak semua tercover dan Zoya harus memiliki uang untuk kebutuhan kuliah dan sehari-harinya. Hanya saja sebentar lagi kuliah Zoya sudah selesai, untuk itu Zeyn tidak mempermasalahkan saat Zoya meneruskan kuliahnya agar dia bisa bersamanya setelah dia sudah menjadi sarjana. ***** Sedangkan di tempat lain. Seorang pria merasa bingung dan hampir tidak percaya ketika mendengar berita dari anak buahnya, yang ternyata Zeyn sudah menikah dan bahkan terlihat sangat mencintainya. "Dia belum lama di tinggal mati oleh kekasihnya, mustahil jika dia bisa mencintai wanita lain. Aku sangat tau bagaiman Zeyn sangat mencintai Zoe." Ucap Oscar. "Kabarnya wanita itu mirip dengan Zoe, Tuan." Ucap salah satu anak buahnya. "Benarkah? Semirip apa?" Tanyanya. "Kita tidak bisa mendekati bahkan mencari tau lebih jauh karea wanita itu di jaga ketat oleh anak buah Zeyn, Tuan." "Apa dia tidak bisa bela diri seperti Zoe?" Tanya Oscar. "Kami akan mencari tau lebih lanjut, Tuan." Oscar akhirnya mengangguk dan meminta anak buahnya segera pergi dari sana. Dia menjadi sangat penasaran siapa wanita yang dinikahi oleh Zeyn, di mana dia bahkan menolak banyaknya wanita dan bahkan artis wanita terkenal sekalipun untuk menjadi istrinya, jika dia sampai menikahinya, itu berarti dia sangat spesial. "Aku pikir kau sudah hancur,Zeyn! Tapi kenapa kau masih bangkit." Gumam Oscar yang mengepalkan tangannya. Oscar adalah salah satu musuh Zeyn yang sempat bekerja sama dengan kelompok John, hanya saja saat penyerangan di pernikahannya, dia tidak ikut dan berencana akan menyerangnya dari kejauhan seperti anak buahnya yang membunuh Zoe, hanya saja sialnya saat anak buahnya ketahuan membunuh Zoe, anak buahnya yang lain malah kabur dan takut untuk menjalankan tugasnya. Namun beruntungnya, Zeyn tidak pernah tau jika dirinya yang sudah membunuh Zoe, kekasih yang di gilai olehnya selama ini. Setelah kematian John, Oscar merasa kesal karena tidak ada kambing hitamnya lagi dan akhirnya kini dia harus bekerja sendiri untuk menghancurkannya. "Karenanya bahkan perusahaanku selalu menurun dan tidak bisa menyainginya. Sial!" Gumamnya yang kesal. Dia akan menghancurkan Zeyn kembali namun lewat wanita yang di duga adalah istri dari Zeyn saat ini, dia akan memastikan akan merasa mati dua kali karena kehilangan wanita yang dia cintai dua kali. "Aku harus memikirkan cara yang matang." Gumam Oscar. ***** Sedangkan Zoya yang sudah selesai dari kuliahnya meminta Zeyn untuk menjemputnya di luar saja. Dia tidak mau banyak orang tau tentnag dirinya yang akan di jemput mobil mewah, apalagi jika ada yang tau jika dirinya menikah dengan keluarga Dante, mungkin saja semuanya bukan hanya iri tapi pasti akan memusuhinya. "Ini terkahir kalinya kau memintaku untuk menunggumu di sini, aku ingin masuk ke dalam dan menggandengmu di depan semua orang." Ucap Zeyn yang sebenarnya itu adalah bentuk protesan. "Aku tidak mau, seperti ini saja sampai aku menerimamu." Ucap Zoya yang membantah, Zeyn akhirnya hanya diam saja lalu mengemudikan mobilnya. Kini memang Zeyn yang menjemput Zoya sendiri karena dia ingin bertanya sesuatu kepadanya. "Aku ingin bertanya kepadamu suatu hal." Ucap Zeyn yang membuat Zoya menoleh sekilas namun lalu membuangnya. "Apa?" "Apa kau sedari kecil memiliki kalung?" Tanya Zeyn yang membuat Zoya mengerutkan dahinya. "Kalung apa?" "Kalung pemberian orang tuamu mungkin, entah kalung apapun." Ucap Zeyn yang membuat Zoe terdiam . "Bagaimana kau bisa tau aku memiliki kalung pemberian orang tuaku?" "Kau masih ingat orang tuamu?" Tanya Zeyn. "Aku tidak mengingat apapun. Hanya saja memang aku memiliki kalung di masa kecilku." "Apa ada tulisan namamu di sana?" Tanya Zeyn yang lagi-lagi membuat Zoya mengerutkan dahinya. "Ya? Bagaimana kau bisa tau?" Ucapnya lagi. "Apa tulisan yang tertera di kalungmu? Apa aku booleh melihatnya?" Tanya Zeyn. "Ada apa sebenarnya? Kenapa kau ingin tau soal kalungku." Zoya tidak langsung mengatakannya karena merasa aneh dengan Zeyn dan sepertinya dia ingin tau tentang kalungnya. "Katakan saja, aku hanya ingin tau apa yang tertulis di sana. "Azoya Gabriella, apalagi." "Apa tidak ada lagi?" Tanyanya yang masih ingin mengorek Zoya. Namun belum Zoya menjawab, mobil Zeyn ada yang menembak yang jelas saja mereka berdua terkejut. "Apa itu?" Tanya Zoya panik, dia bahkan reflek memegang lengan Zeyn karena merasa tembakannya sangat keras. Zeyn sangat marah dan bahkan mengeraskan rahangnya ketika ada yang mengganggunya. "Pegangan yang kuat, dan jangan takut." Ucap Zeyn namun sejujurnya semakin membuat Zoya ketakutan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN