"Raka!" Zoya benar-benar senang ketika melihat sahabatnya lagi dan bahkan lega karena sahabatnya baik-baik saja.
"Kau baik-baik saja?" Bukan Zoya yang bertanya, melainkan Raka sendiri karena dia di culik oleh Zeyn.
"Kata-kata itu seharusnya aku yang menanyakannya." Omelnya.
"Aku baik-baik saja, bahkan saat pulang aku di beri uang dan makanan oleh anak buah Zeyn." Ucap Raka jujur.
"Jadi kau di suap olehnya dan kau mau begitu?"
"Ck! Jelas saja awalnya aku tidak mau, aku khawatir denganmu, kau di bawa secara paksa, tapi di menjelaskan jika dia sangat mencintaimu dan akan menikahimu, dia akan membahagiakanmu, aku melihatnya juga sepertinya dia tulus. Jadi akhirnya aku menerimanya."
"Dia tidak memukulimu kan? Apa dia baik padamu? Kau benar-benar menikah dengannya kemaren?" Tanya Raka yang mencecar banyak pertanyaan kepada Zoya.
"Dia tidak memukuliku, aku baik-baik saja dan aku memang menikah dengannya. Aku terpaksa melakukannya karena dia mengancamku, dia mengatakan jika akan melukaimu dan akan menghancurkan panti di mana aku di besarkan."
"Dan asal kau tau, jika dia adalah mafia, dia pimpinannya, aku tidak mau hidup dengannya. Aku melihat dia membunuh orang di depan mataku, aku tidak bisa hidup seperti ini." Ucap Zoya namun sebenarnya Raka tidak terlalu terkejut karena dia sudah tau jika memang Zeyn adalah pimpinan mafia.
"Aku tau jika dia adalah pimpinan mafia." Ucap Raka yanh kini malah Zoya yang terkejut.
"Bagaimana kau bisa tau?"
"Karena dia Zeyn Dante! temanku juga ada yang bekerja dengannya. Dia mafia kejam, tapi dia kejam dengan musuhnya, awalnya aku juga tidak mengetahuinya sampai kemaren aku dibawa ke markasnya dan bertemu dengan temanku,"
"Awalnya aku juga mengutuknya. Bahkan temanku tidak berani untuk membantuku dan hanya menenangkanku."
"Tapi sampai keesokkan harinya. Dia menemuiku dan mengatakan itu padaku, jika dia mencintaimu dan akan menjagamu, untuk itu aku di bebaskan. Bahkan aku di antar temanku dan menceritakan kisah Zeyn padaku. Dan memaksaku untuk menerima uang yanh diberikan Zeyn."
"Kisah apa?" Tanya Zoya penasaran namun Raka tidak bisa mengatakannya karena terlanjur janji dengan temannya.
"Aku tidak bisa cerita banyak. Tapi kisahnya lumayan tragis, dia pernah merasa hancur karena kehilangan kekasihnya, dia mati tepat di depan matanya karena musuhnya menembaknya." Ucap Raka memberitahu.
Namun perkataan Raka malah membuat Zoya semakin takut jika hidup bersama Zeyn.
Dia takut jika kematiannya kelak akan tragis dan malah bisa saja jika dia mungkin di siksa oleh musuh Zeyn. Dia cukup tau jika orang-orang seperti Zeyn masih memiliki banyak musuh.
"Dia menyukaimu dan akan menjadikanmu ratu, bukankah itu benar?" Tanya Raka.
"Aku merasakannya malah bukan seperti ratu, dia sangat mesumm dan selalu memiliki pemikiran untuk menyentuhku dan aku sangat risih dengannya." Ucap Zoya jujur namun Raka malah menggaruk dahinya.
"Bukankah dia suamimu? Aku rasa tidak ada masalah jika dia menyentuhmu," ucap Raka.
"Apa maksutmu? Aku tidak mencintainya, bahkan bersamanya aku merasa tidak nyaman."
"Dia sangat kaya, kau mengatakan ini mungkin karena belum terbiasa." Ucap Raka yang semakin membela Zeyn, jelas saja Zoya merasa tidak suka.
"Kenapa kau menjadi membelanya. Dia adalah pria yang berbahaya, dan kau tau sendiri jika selama ini aku bahkan menghindari kekerasan atau menghindari hal semacam itu, tapi sekarang aku harus hidup berdampingan dengan pimpinan mafia yamg seenaknya membunuh orang." Ucap Zoya.
"Kehidupanmu memang mungkin akan diliputi bahaya, tapi Zeyn pasti bisa melindungimu, dia pernah hancur dan tidak mau hancur lagi jika kehilanganmu." Ucap Raka.
Zoya yang kesal memilih untuk diam,
"Jangan terlalu di fikirkan, karena temanku mengatakan jika kau tidak mungkin bisa kabur dari Zeyn. Dia akan bisa menemukanmu ke manapun kau berada." Ucap Raka.
Namun saat Zoya ingin menjawabnya, mereka harus masuk ke kelas yang membuat obrolan mereka akhirnya terhenti.
"Tidak! Aku tidak bisa hidup seperti ini, jika memang Zeyn memiliki hati yang baik. Itu berarti ancamannya waktu itu hanya untuk menggertakku. Dia tidak mungkin membunuh Raka atau membuat keributan di panti, dia hanya membunuh musuh-musuhnya yang bersalah." Gumam Zoya lalu terlihat memikirkan sesuatu.
"Aku harus pergi darinya." Gummanya lalu menyusul Raka untuk masuk ke dalam kelas.
*****
Sedangkan di tempat lain, Zeyn nampak mengetuk mejanya karena belum mendapatkan petunjuk apapun tentang Zoya dan Zoe.
Memang kejadiannya sudah sangat lama, untuk itu benar-benar susah untuk mengulitinya.
Bahkan penjaga dan pengasuh panti pun tidak memiliki petunjuk apapun lagi selain kalung yang dimiliki oleh Zoya.
Dia sama sudah tertera nama Azoya Gabriella V. Masih ada nama V di belakangnya yang tidak diketahui oleh panti, apa itu V.
"Aku benar-benar penasaran. Dia satu rumah denganmu, bagaimana bisa kau tidak tau apapun jika dia memiliki kaling atau tidak." Ucap Luca.
"Aku sudah mencari ke mana-mana, tapi kalung itu benar-benar tidak ada di kamarnya." Ucap Zeyn.
"Kau harus tanya lagi kepada orang tuamu karena mereka yang menemukan Zoe waktu itu, tanyakan juga apa dulu ada marga V di kalung Zoe. Jika memang ada. Itu berarti memang mereka adalah saudara kembar," ucap Ronald yang dibenarkan oleh Zeyn karena memang dia benar-benar membutuhkan bantuan orang tuanya dalam hal ini.
Zeyn akhirnya memutuskan untuk menghubungi ayahnya, namun ibunya sudah menghubunginya lebih dulu.
Zeyn tau jika mungkin ayahnya sudah mengatakan kepada ibunya jika dirinya sebenarnya sudah menikah. Untuk itu ibunya kini menghubunginya.
"Ya, Mom?"
"Kau pasti tau kenapa Mommy memghubungimu." Ucap Anya dari seberang sana.
"Hm, karena chat Mommy tidak aku balas." Ucap Zeyn.
"Seriuslah, Zeyn! Bagaimana bisa kau menikah tanpa kemberitahu orang tuamu."
"Mom, kau pasti juga sudah tau bagaimana situasinya, ini bukan karena hal yang mudah, aku bahkan harus benar-benar mengancamnya agar dia mau menikah denganku." Ucap Zeyn yang akhirnya membuat Anya menghela nafas panjangnya.
"Mommy sangat ingin menemuinya, Mommy ingin tau seberapa miripnya dia dengan Zoe." Ucap Anya namun Zeyn hanya terdiam.
"Dengar, dulu Zoe memang memiliki kalung, hanya saja saat itu dia merubahnya menjadi sebuah gelang, mungkin kau bisa mencarinya." Lanjutnya yang membuat Zeyn terkejut.
"Gelang?" Beonya.
"Aku akan mencarinya setelah ini." Ucap Zeyn lalu bahkan mematikan sambungan telefonnya, padahal ibunya belum selesai bicara.
"Kau gila, ibumu tadi masih berbicara tapi kau sudah mematikannya." Ronald bahkan mengomeli Zeyn karena dia mematikan sambungan telefonnya.
"Tidak ada waktu, aku ingin tau yang sebenarnya." Ucap Zeyn lalu memgambil kunci mobilnya dan berencana untuk pulang ke mansion.
Luca dan Ronald yang penasaran tentu saja selalu ikut ke manapun Zeyn pergi.
Mereka masuk ke dalam mobil Zeyn yang akhirnya dibiarkan olehnya