Bab 15

1029 Kata
Bahkan saat pergi ke kampus, Zoya harus di antarkan oleh Zeyn dengan mobil mewahnya dan dikemudikan oleh supirnya. "Aku akan menjadi perbincangan orang-orang dan mengira jika mungkin aku menjual diriku." Ucap Zoya saat mereka hampir sampai ke kampusnya. "Aku akan merobek mulut yang berani mengatakan itu padamu." Ucap Zeyn yang membuat Zoya menghela nafas panjangnya. "Ya, robek lalu bakar saja." Ucapnya kesal namun Zeyn tersenyum mendengarnya. "Dengan senang hati." Zoya semakin malas mengobrol dengan Zeyn yang tidak jauh dari kekerasan. "Di sini saja." Ucap Zoya kepada sang supir. "Tidak! Aku akan mengantarkanmu sampai dalam." Ucap Zeyn menolak dan akhirnya membuat sang supir tidak jadi berhenti. "Berhenti!" Ucap Zoya yang akhirnya supir berhenti. "Jangan terlalu memaksaku, ini masih awal. Aku tidak ingin banyak orang tau jika aku sudah menikah." Ucap Zoya memprotes. Zeyn menoleh ke arah supirnya yang dimengerti olehnya. Pembatas antara penumpang dan supir akhirnya turun yang membuat Zoya sebenarnya terkejut. Ini pertama kalinya dia memang melihat mobil mewah dan canggih seperti ini dan bisa ada pembatas antara supir dan kursi belakang secara otomatis. "Justru semua orang harus tau jika kau milikku." Ucap Zeyn yang juga tidak mau kalah. "Kau saja bahkan menikahiku secara tertutup, bukankah itu berarti kau tidak ingin semua orang tau jika kau menikah denganku." "Ada alasan sendiri kenapa aku menikahimu secara diam-diam, tapi aku berjanji akan memberikan pesta mewah untuk pernikahan kita." "Tidak-tidak! Itu tidak perku karena aku tidak membutuhkannya. Sekarang aku ingin turun di sini dan jangan terlalu mengekangku." Zoya kini akhirnya berani memberontak karena dia tidak mau menjadi boneka Zeyn yang harus menuruti keinginannya. Dia akan memanfaatkan perkataan Zeyn yang mengatakan jika dirinya akan di ratukan olehnya dan semua keinginannya akan dipenuhi olehnya. "Baiklah, tapi kau harus memberiku hadiah atas semua keinginanmu." Ucap Zeyn tersenyum miring yang membuat Zoya merinding sendiri dengan perkataan Zeyn karena sepertinya tau apa yang di inginkan olehnya. "Aku tidak akan memberikan apapun kepadamu." Ucap Zoya menolak dan membuka pintu mobilnya namun di kunci. "Kita akan pergi sampai ke depan kalau begitu." Ucap Zeyn lalu memencet tombol di mana pembatasnya twbuka namun hanya sedikit. "Jalan sampai depan." Ucap Zeyn kepada sang supir. "Tidak! Baiklah apa yang kau inginkan." Ucap Zoya pada akhirnya. Dia benar-benar tidak mau semua orang tau jika dia turun dari mobil mewah milik Zeyn ini dan sudah pasti dia akan menjadi pusat perhatian semua orang. Zeyn tersenyum dan akhirnya menutup kembali pembatasnya. "Naiklah ke atas pangkuanku." Ucap Zeyn yang akhirnya membuat Zoya melotot namun sudah menduga jika tidak jauh dari kata mesumm. "Tidak! Kau sudah berjanji denganku! Jangan mengingkarinya." Ucap Zoya yang menolak. "Aku hanya memintamu untuk duduk di atas pangkuanku, bukan memasukkan milikku ke dalam tubuhmu." Ucap Zeyn yang membuat Zoya semakin melotot karena perkataan vulgar dari Zeyn. "Aku tidak mau.!" Zoya tetap menolak namun Zeyn akhirnya menariknya sehingga dia naik di atas pangkuannya. "Jangan keterlaluan, Zeyn! Ini bahkan area ramai dan banyak orang yang lalu lalang di sini." Zoya memberontak namun Zeyn tidak mau melepaskannya. "Tidak akan ada yang bisa melihat kita karena kacanya gelap." Ucap Zeyn menenangkan Zoya yang khawatir jika ada yang melihatnya. "Aku hanya ingin kau menciumku, maka kau boleh turun di sini." Ucap Zeyn tersenyum manis kepadanya. "Aku tidak mau!" Ucap Zoya yang jelas saja menolak apa yang di inginkan Zeyn kepadanya. "Kau yang menciumku atau aku yang melumat bibirmu." Ucap Zeyn mengancam. "Kau tidak akan melakukannya karena kau sudah berjanji kepadaku. Jika kau mengingkarinya. Maka aku akan membencimu dan peenikahan kita tidak akan pernah berhasil." Ucap Zoya yang kembali mengancam Zeyn. "Baiklah, aku ganti kata-kataku. Kau ingin menciumku, atau aku membuat tanda merah sebanyak tiga kali di lehermu dan di sini?" Ucap Zeyn menyentuh benda kenyal Zoya yang membuat dia melotot dan menepisnya. "Kau kemaren hanya memintaku untuk tidak mencium bibirmu, jadi jika di lain tempat bisa saja termasuk da damu." Lanjutnya Zoya benar-benar kesal dengan perkataannya sendiri. Dia akhirnya dengan cepat mencium pipi Zeyn. "Sudah! Sekarang lepaskan aku." Zoya ingin turun namun Zeyn masih tidak melepaskannya. "Aku sudah katakan tiga kali, kau harus menciumku 3 kali dengan berbeda-beda." Ucap Zeyn. "Itu curang! Aku tidak mau." Ucap Zoya jelas lagi-lagi menolaknya. "Kalau begitu biar aku yang menciummu." Ucap Zeyn yang ingin membuka kancing Zoya dan jelas saja dia menolaknya. "Kau benar-benar brengsekk, Zeyn!" Ucap Zoya yang benar-benar muak dengan Zeyn yang merasa jika dia di permainkan olehnya. "Bukankah suami istri memang harusnya seperti ini!" Zoya hanya diam saja karena benar-benar malas berdebat dengannya. Dia ingin mencium pipi Zeyn lagi namun Zeyn malah menghindar. "Tidak bisa di tempat yang sama." Ucap Zeyn "Benar-benar brengsekk!" Gumamnya pelan, namun sebenarnya masih bisa di dengar oleh Zeyn. Zoya akhirnya mencium kening Zeyn, namun satunya lagi dia bingung harus mencium di sebelah mana. Dia ingin mencium hidung mancung Zeyn namun dia curiga jika Zeyn nantinya akan berbuat yang tidak-tidak sehingga mungkin saja dia bisa mencium bibirnya. Zoya melihat leher Zeyn dan mendekat ke sana. Zeyn meremas pinggang Zoya karena dia tidak menyangka jika Zoya akan berani mencium lehernya di mana itu adalah daerah sensitifnya. Dia mengakui jika Zeyn benar-benar wangi, dia bahkan mengantongi paket lengkap yang bukan hanya tampan dan kaya, dia sangat rapi, dan juga wangi, jika orang lain yang melihatnya, Zeyn kemang lelaki sempurna. Jadi tidak salah jika banyak wanita yang menginginkannya. Zeyn ingin meraih Zoya dan membalas mencium lehernya namun Zoya menghindar. Zeyn tersenyum dan akhirnya melepaskannya, Dia menekan tombol di mana Zoya bisa membuka pintunya. Zoya jelas saja langsung keluar dari sana bahkan tanpa menoleh ke arah Seyn lagi. "Sial! Kapan dia bisa di ikat di atas ranjang." Gumam Zeyn yang merasa terpancinf dengan apa yang dilakukan oleh Zoya. Dia bahkan memegang miliknya yang terbangun karena ulah Zoya tadi mencium lehernya. Namun dia akhirnya terkekeh dan meminta supir untuk pergi dari sana. Sedangkan Zoya merasa jantungnya berdetak dengan cepat karena ulahnya sendiri. "Astaga! Aku benar-benar berani." Ucap Zoya karena dia tadi bahkan tidak menyangka jika akan melakukan itu kepada Zeyn. Dia masih bisa merasakan bau tubuh dan parfum Zeyn yang wangi. "Jangan terkecoh dengannya. Zoya! Ingat jika dia adalah pria kejam." Gumamnya. Jika boleh jujur, Zoya jelas saja masih ingin mencari cara bagaimana bisa terlepas dari Zeyn, karena dia tidak mau memiliki kehidupan yang terlalu keras dan berbahaya seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN