Bab 14

1015 Kata
Keesokkan paginya, Zoya terbangun dan terkejut ketika tubuhnya di peluk denhan tubuh besar milik Zeyn. Dia dengan pelan melepaskan tangan Zeyn dari tubuhnya dan turun dari ranjang. Di melihat wajah Zeyn yang masih tertidur. Tidak ada kegiatan apapun dari mereka semalam, hanya saja memang kesepakatannya mereka akan tidur bersama dalam satu ranjang. Zoya menghela nafas panjangnya, dia melihat sikap Zeyn kepadanya memang bukan seperti cinta biasa, namun sebuah obsesi, hanya saja dia merasa jika ada sesuatu yang aneh dan dia embunyikan oleh Zeyn kepadanya. "Aku masih belum percaya dengan kata-kata jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi melihat Zeyn aku merasa bukan hanya jatuh cinta pada pandangan pertama." Batin Zoya yang masih melihat wajah tampan Zeyn yang terlihat damai jika tertidur seperti ini. "Apa aku mengingatkannya dengan seseorang? Atau ada hal lain?" Batinnya. Zeyn memang sangat tampan. Tidak salah jika banyak yang menginginkan menjadi wanitanya karena dia sendiri mengakui ketampanan Zeyn, dia bahkan tidak menyangka jika seorang pengusaha yang berpengaruh dan pimpinan mafia yang ditakuti banyak anak buahnya akan memilihnya menjadi wanitanya dan bahkan kini menjadi istrinya. Hanya saja dia masih belum menerima karena dia memang takut dengannya dan melihat kekejamannya kepada orang lain di depannya. "Apa kau sudah puas memandangiku?" Tanya Zeyn yang membuat Zoya terkejut, dia tidak tau jika Zeyn sudah terbangun dan tau jika dirinya memandanginya. Zoya tidak menjawab dan memilih untuk berdiri dan ingin pergi ke kamar mandi. Namun dia terkejut karena Zeyn malah menariknya sehingga dia jatuh di atas tubuhnya namun membuat Zeyn meringis karena Zoya jatuh dengan menyikut tubuhnya. "Kau menarikku." Zoya menjadi takut sendiri karena melihat Zeyn yang kesakitan karena tau jika tangannya tidak sengaja mengenai tubuhnya dengan keras. "Kau harus tanggung jawab." Ucap Zeyn yang memeluk tubuh Zoya. "Tidak! Lepaskan aku. Aku ingin ke kamar mandi." Ucap Zoya yang sepertinya tau apa yang di maksut Zeyn dengan mengatakan tanggung jawab kepadanya. "Tidak! Kau harus bertanggung jawab terlebih dahulu karena— aaargh Zoya!" Zeyn terkejut dan bahkan berteriak kesakitan karena Zoya menggigit keras d**a-nya sehingga dia terpaksa melepaskannya. Zoya sendiri terkejut karena dia menggigitnya terlalu keras namun dia langaung berlari ke kamar mandi dan menguncinya. "Astaga! Apa dia akan membunuhku karena aku menggigitnya dengan keras tadi?" Zoya menjadi gelisah dan bahkan takut untuk keluar dari kamar mandi yang mungkin akan di pukul atau lebih parahnya dia dibunuh olehnya. "Zoya!" Panggil Zeyn yang membuat Zoya teekejut dan menegang namun tidak menyauti. Sedangkan Zeyn mengerutkan dahinya karena Zoya tidak ada sautan sama sekali di dalam kamar mandi yang membuat dia menjadi khawatir sendiri. "Kau baik-baik saja?" Tanya Zeyn namun tetap tidak ada jwaban darinya. "Aku akan mendobrak pintunya jika kau tidak menyautiku." Ucap Zeyn namun semakin membuat Zoya ketakutan dan tidak berani menyautinya. Karena khawatir Zeyn akhirnya menendang pintu kamar mandinya dua kali sehingga pintunya benar-benar terbuka. Zoya terkejut dan berjalan mundur karena pintunya yang sudah di rusak oleh Zeyn. "Kau baik-baik saja? Kenapa tidak menyauti panggilanku." Zeyn jelas saja kesal karena dia tadinya sudah khawatir kepadanya. "Aku minta maaf, aku tadi tidak sengaja menggigit mu dengan keras, aku melakukan itu karena kau tidak melepaskanku." Zoya melihat da da Zeyn yang memerah dan bahkan ada bekas gigitannya. Zeyn mendekat dan akhirnya mengerti. "Aku tidak marah, kenapa kau sangat takut kepadaku." Ucap Zeyn yang merasa Zoya terkadang seperti berlebihan jika takut dengannya. Zoya mundur namun Zeyn terus mendekatinya sampai dia akhirnya menabrak tembok, Zoya yang tadinya ingin menghindar lagi namun tangannya tidak sengaja menyenggol kram yang akhirnya showernya menyala dan membasahi dirinya dan Zeyn. Zoya terkejut dan ingin pergi dari sana agar tidak mengenai air, namun Zeyn mencegahnya. "Lepaskan aku! Bajuku basah." Ucap Zoya yang bahkan mendorong tubuh Zeyn. Zeyn mengerang dan rasanya tidak tahan ingin sekali menarik Zoya dan mencumbuinya jika saja dia tidak terikat janji dengan Zoya yang tidak boleh menciumnya dan berhubungan intim dengannya. Zoya bahkan mengambil handuk di sana dan menutupi tubuhnya karena baju tidurnya yang terkena air ternyata menjadi transparan dan terlihat dalamannya. "Aku ingin mandi dan pergi kuliah, keluarlah dulu." Ucap Zoya yang membuat Zeyn tersenyum miring dan akhirnya keluar dari sana. Zoya menghela nafas panjangnya dan akhirnya meletakkan kembali handuknya. Dia dengan cepat membuka bajunya dan mandi karena takut jika Zeyn mungkin saja akan kembali mengingat pintunya sudah di rusak olehnya. Setelah mandi, Zoya berlari kecil Menuju ruang ganti. Dia mendengus kesal karena dia tidak memiliki bajunya sendiri. Di sana memang ada banyak baju wanita, namun entah itu milik siapa. Zoya tidak ada pilihan lain selain memakai salah satu baju yang ada di lemari dan cocok untuknya, beruntungnya di sana juga banyak baju dan dalaman yang masih baru dan terbungkus rapi. Zeyn tertegun melihat Zoya yang memakai baju milik Zoe dan benar-benar mirip dengannya, dia menjadi merindukannya dan merasa jika Zoya memang adalah Zoe. "Ini terkahir aku memakai baju wanitamu yang entah siapa. Jika kau menjadikanku ratu dan menuruti apa yang aku inginkan, seharusnya kau bisa memberikanku baju baru. Bukan baju bekas wanitamu." Ucap Zoya yang tau jika Zeyn memandanginya saat dia kini mengeringkan rambutnya. Zeyn masih terdiam dan sejujurnya dia merasa berat harus menyingkirkan barang-barang Zoe dari kamarnya. "Jangan-jangan ini milik mantanmu? Menyebalkan sekali." Ucap Zoya yang kesal sendiri. "Ini semua memang milik mendiang kekasihku." Ucap Zeyn pada akhirnya jujur. Zoya mengerutkan dahinya karena Zeyn mengatakan mendiang. Namun lalu tersadar itu artinya kekasihnya sudah meninggal. "Dia sudah meninggal?" Tanya Zoya yang di angguki oleh Zeyn. "Aku akan jujur jika hidupku hancur setelah kehilangannya, tapi kau datang dan memperbaikinya, untuk itu aku tidak ingin kehilanganmu lagi dan membuat hidupku akam tidak berarti." Ucap Zeyn. "Aku tidak datang, kau yang datang sendiri tiba-tiba." Ucap Zoya yang membuat Zeyn tersenyum dan mengangguk. "Aku menemukanmu dan aku bersyukur atas itu," ucap Zeyn yang akhirnya Zoya hanya diam saja dan tidak membahas apapun lagi. "Setelah kau pulang dari kampus, kita beli apapun yang kau butuhkan. Aku akan menjemputmu nanti." Ucap Zeyn namun Zoya hanya diam saja. Perkataan Zeyn bukan seperti ajakan baginya, melainkan sebuah perintah dan sudah pasti harus di turui olehnya. Zoya malas berdebat dan memilih untuk pasrah saja dan akan menurutinya. Yang terpenting Zeyn tidak mengekangnya dan tidak membatasi dia untuk pergi kuliah dan bertemu dengan teman-temannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN