Bab 13

1035 Kata
"Zeyn tidak ada di mansion?" Tanya Zoya kepada salah satu pelayan di sana saat mereka menghidangkan makan malam. "Tidak, Nyonya. Mungkin Tuan Zeyn sedang ada urusan." Jawabnya. "Aku berharap dia tidak kembali saja." Ucap Zoya namun pelayan itu hanya tersenyum tipis. "Apa anda membutuhkan sesuatu lagi sebelum kita pergi, Nyonya?" "Eh! Kalian mau ke mana?" Tanya Zoya ketika para pelayan mau pamit. "Kita kembali ke paviliun, setiap selesai tugas kami menghidangkan makan malam, kita selalu kembali ke paviliun. Tuan Zeyn tidak memperbolehkan siapapun untuk memasuki mansion utama jika sudah malam." Jawabnya. "Tapi waktu itu kau masih ada di sini?" Tanya Zoya karena memang kemaren dia masih ada di aini waktu malam dan mengantarkan dia makanan. "Perintah Tuan Zeyn agar anda mau makan, Nyonya." Jawabnya yang dimengerti oleh Zoya. "Baiklah, terima kasih. Tapi tolong temani aku makan dulu, tidak enak sekali duduk di meja besar ini sendirian." Ucap Zoya yang membuat pelayan terkejut dan saling pandang. "Siapa, Nyonya?" Tanyanya. "Kalian semua. Siapa lagi. Duduk saja." Ucap Zoya yang membuat para pelayan lainnya menggeleng krena tidak berani. "Tidak Nyonya, kami tidak berani. Kami akan makan nanti di paviliun." "Kenapa? Tidak ada Zeyn di sini." Ucap Zoya yang sebenarnya memaksa karena dia sangat kesepian di mansion besar seperti ini. "Nyonya, kami menghormati anda, tapi tolong kasihani kami, jika kami menuruti anda, takut nyawa kami yang akan menjadi taruhannya." Ucap pelayan yang membuat Zoya terkejut. "Separah itu? Kalian hanya menemaniku makan, bukan mencuri." "Tapi tidak ada yang berani duduk di meja makan jika bukan keluarga dari keluarga Tuan Dante." Zoya mendengus kesal karena banyak sekali aturan Zeyn yang membuat dia merasa tidak nyaman. Zoya akhirnya mengambil ponselnya dan menghubungi Zeyn yang memang di sana ada nomor telefonnya. Panggilan telefon Zoya langsung di angkat oleh Zeyn yang memang sedang perjalanan pulang. "Iya, Sayang? Kau merindukanku? Aku masih di jalan." Ucap Zeyn yang membuat Zoya jijik sendiri. "Aku ingin makan malam dengan pelayan mansion tapi mereka takut kau akan membunuhnya jika mereka duduk di kursi makan bersamaku." Ucap Zoya yang sepertinya di mengerti oleh Zeyn. Dia bahkan tersenyum karena secara tidak langsung, Zoya meminta izin kepadanya jika pelayannya akan makan bersamanya. "Kau Nyonya di dalam mansion, kau boleh memerintahkan semua anak buahku atau pelayan di sana sesuai keinginanmu," ucap Zeyn. Zoya langsung mematikan sambungan telefonnya tanpa mengatakan apapun lagi. "Dengar bukan? Sekarang duduk saja. Aku membutuhkan teman." Ucap Zoya yang membuat pelayan akhirnya duduk meskipun sedikit ragu. Sebenarnya ini bahkan pertama kalinya mereka duduk di sana, bahkan saat dulu Zeyn bersama Zoe, mereka tidak pernah mengizinkan siapapun untuk lancang menggunakan fasilitas mansion. Setelah makan malam, Zoya terpaksa membiarkan mereka semua kembali ke paviliun karena mereka juga memaksa. Zoya akhirnya kembali ke kamarnya dan melihat laptopnya, bagaimanapun dia masih anak kuliahan, hanya saja sebentar lagi dia sudah lulus. Pukul 10 malam, belum ada tanda-tanda Zeyn pulang, dan Zoya sangat bersyukur atas itu. Dia akhirnya membersihkan dirinya dan mengganti bajunya terlebih dahulu sebelum tidur. Dia besok ingin pergi kuliah pagi-pagi, untuk itu dia ingin segera tidur. Namun saat dia baru selesai mengganti bajunya, tubuhnya di peluk dari belakang oleh seseorang yang jelas saja membuat Zoya terkejut dan nyaris berteriak. "Kau harus mengenal bau tubuh dan parfum suamimu, Zoya!" Ucap Zeyn yang jelas saja itu dia, tidak akan ada yang berani masuk ke dalam mansion apalagi sampai menyentuh Zoya seperti ini selain dia. "Lepaskan aku, Zeyn!" Zoya jelas saja memberontak karena tubuhnya yang masih di peluk oleh Zeyn dari belakang. Zoya menegang ketika Zeyn mencium tengkuk leher belakangnya yang membuat dia menjadi merinding sendiri. Dan ini pertama kalinya ada yang menciumnya seperti ini karena dulu meskipun dia memiliki mantan kekasih, mereka hanya berciuman dan tidak pernah melakukan hal lain lagi. "Kau harus mengingat janjimu. Jangan membuatku— "Aku hanya mencium lehermu karena kau sangat wangi, aku sangat menyukainya." Ucap Zeyn yang akhirnya melepaskan pelukan Zoya dan tersenyum miring kepadanya. "Akan lebih baik jika kau tadi tidak pulang, karena— stop! Jangan mendekat." Zoya menjadi panik karena Zeyn membuka bajunya di depannya dan mendekatinya. Bahkan perkataannya menjadi terpotong karena ulah Zeyn yang bahkan seperti pria yang sangat mesumm kepadanya. Entah kenapa melihat wajah Zoya yang ketakutan seperti ini kepadanya membuat dia semakin ingin mendekatinya. "Apa kau tau, jika kau adalah wanita satu-satunya yang berani menolakku, di saat semua wanita menginginkan menjadi wanitaku dan bahkan ingin naik ke atas ranjangku." Ucap Zeyn lalu merengkuh tubuh Zoya karena dia sudah berkali-kali di tolak olehnya. "Kalau begitu terima saja mereka dan kau lepaskan aku, aku tidak tertarik naik ke atas ranjangmu." Ucap Zoya yang benar-benar membuat Zeyn semakin ingin mempertahankannya dan memilikinya. "Kau akan terlepas jika aku sudah mati, karena selama aku hidup aku tidak akan melepaskanmu, aku sudah katakan berkali-kali jika kau milikku!" "Lalu bagaimana jika aku yang membunuhmu." Ucap Zoya. "Dengan senang hati." Ucap Zeyn yang mengambil pistol dari dalam saku celananya dan memberikannya kepada Zoya. Zoya jelas saja terkejut, dia bahkan tidak pernah memegang benda itu dan hanya sempat melihat jika bertemu dengan polisi. Zeyn bahkan mengatahkan pistol itu di kepalanya yang membuat Zoya benar-benar takut. "Aku akan senang jika memang kau yang membunuhku, asal bukan kau yang meninggalkanku." Ucap Zeyn yang hampir menarik pelatuknya. "Tolong jauhkan benda itu, aku takut." Tangan Zoya bergetar dan bahkan dia menangis. Zeyn melepaskan tangannya dan akhirnya Zoya pun melepaskan benda itu dari tangannya. Zeyn memeluk tubuh Zoya namun di biarkan olehnya. "Maafkan aku, jangan takut lagi." Ucap Zeyn yang menjadi merasa bersalah, dia bisa melihat tubuh Zoya yang bergetar karena takut. "Tolong jangan seperti ini, kau membuatku semakin tidak nyaman jika memperlihatkan semua benda itu kepadaku," "Aku adalah orang biasa, bahkan bisa bertemu dengan orang sepertimu, aku tidak pernah membayangkannya. Jika boleh aku jujur, aku ingin memiliki suami dan kehidupan yang jauh dari ini." Ucap Zoya yang merasa hidupnya benar-benar selalu dibuat ketakutan oleh Zeyn. "Maafkan aku, tapi mulai saat ini kau harus membiasakannya, karena ini adalah kehidupanku, selain pengusaha, aku memang sudah memiliki bisnis gelap dan tidak bisa aku hentikan." Ucap Zeyn yang membuat Zoya rasanya semakin lemas. "Kau harus tau jika kau adalah kehidupanku, aku benar-benar mencintaimu dan tidak mau kehilanganmu, aku harap kau mengerti dan akan berusaha menerimaku sebagai suamimu, aku benar-benar akan melakukan apapun untukmu agar kau bisa menerimaku dan tidak akan pergi dariku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN