“Apa kamu sudah sadar?” tanya seseorang terdengar begitu dekat darinya.
Julius membuka matanya secara perlahan, menatap langit-langit sebuah ruangan yang ditempatinya, dan secara perlahan memerhatikan tempatnya berada dengan lebih baik. Sebuah meja, sofa, tirai yang terbuka di sekeliling tempat tidurnya dan dua pintu yang tertutup rapat. Ruangan ini didominasi dengan warna putih, tanpa melihat pun, dia tahu jika pakaian dan tempat tidurnya juga sama putihnya dengan ruangan ini.
Apa dia akhirnya mati?
Sebuah sosok tiba-tiba berada di hadapannya, seorang gadis yang tampak familier dan menatapnya dengan lega. “Syukurlah, kamu benar-benar sadar. Kupikir aku hanya berkhayal lagi,” ujarnya. Matanya terlihat sedikit berkaca-kaca sebelum gadis itu mengerjapkan matanya, melangkah lebih dekat ke sisi tempat tidurnya untuk menekan sebuah tombol yang tepat berada di atas kepalanya dan kemudian menatap Julius sambil tersenyum. “Sebentar lagi dokter dan perawat akan datang. Apa kamu ingin makan sesuatu atau mungkin kudapan? Aku mau ke kafetaria.”
Cowok itu menatap gadis itu dengan pandangan tidak mengerti. “Apa kamu juga sudah mati?”
Gadis itu seketika terdiam, menatapnya seakan dia sudah gila lalu menyentuh dahinya. “Kamu tidak demam. Apa kamu baik-baik saja?”
“Aku sudah mati karena melompat,” ujar Julius sama sekali tidak mendengarkan ucapan gadis yang berada di hadapannya. “Apa kamu juga begitu?”
“Tidak, kamu masih hidup, aku juga,” ujarnya menggeleng, tampak khawatir. “Apa kepalamu terbentur terlalu keras kemarin? Kita ada di rumah sakit, kamu harusnya bisa mengetahuinya hanya dengan melihat tempat ini tadi.”
“Rumah sakit? Kenapa aku—” Julius segera bangkit dan meringis kesakitan ketika menggerakkan tubuhnya terlalu cepat. Seluruh tubuhnya seakan memprotes setiap gerakannya saat memaksakan dirinya bangun.
“Astaga, jangan bergerak secepat itu. Kau baru saja sadar setelah seharian tertidur,” ucap gadis itu sedikit panik saat membantunya membetulkan posisi tubuhnya. Julius menatapnya sekilas saat gadis itu terlihat sangat berhati-hati menyentuhnya dan menyapu tangannya pada dahi cowok itu yang sedikit berkeringat. “Aku tidak ingin cederamu memburuk dan kembali tidak sadarkan diri.”
Julius meredakan napasnya yang masih terengah dan menatap gadis itu yang membalas pandangannya dengan cemas. “Apa kamu baik-baik saja? Apa gerakan tanganku tadi menyakitimu? Bagian mana yang sakit?”
Cowok itu menahan tangan gadis itu dari tubuhnya, menolak untuk memandang raut wajah khawatir yang mengganggunya. Tatapan gadis itu membuatnya merasa bersalah karena dia terlihat sungguh-sungguh memperhatikannya. “Aku tidak apa-apa, tinggalkan aku sendiri.”
“Baiklah,” jawab gadis itu setelah sempat terdiam, sedikit tersenyum. “Aku akan ke bawah sebentar untuk membeli kudapan. Harusnya dokter dan perawat akan segera tiba saat aku pergi.”
Gadis itu berbalik menuju pintu kamarnya dan hendak berjalan keluar saat cowok itu memanggilnya.
“Tunggu,” Julius mengucapkannya tanpa sempat menahannya, dia terlihat berusaha menjaga getaran dari suaranya saat melanjutkan ucapannya, merasa sangat malu karena berani bertanya mengenai hal yang menyangkut kebodohannya. “Kenapa kamu menolongku? Kamu bisa saja membiarkanku melompat saat itu, pura-pura tidak melihat atau pergi saat sadar aku akan....” Dia tidak dapat melanjutkan ucapannya. “Kita bahkan tidak saling mengenal.”
Julius tidak bisa melihat reaksi gadis itu setelah menyelesaikan ucapannya karena sedang menunduk menatap tangannya, tidak berani melihat tatapan meremehkan yang mungkin saja ditahan gadis itu semenjak tadi. Tapi kemudian dia hanya dapat mendengar suara gadis itu yang terdengar tulus di telinganya.
“Aku menolongmu karena memang itu yang harus aku lakukan untukmu, sekalipun kita tidak saling mengenal, aku tidak mungkin membiarkanmu saat hal itu terjadi di depan mataku,” ujarnya. “Apa wajahku terlihat sangat kejam sehingga kamu bisa menyimpulkannya seperti itu?”
Cowok itu sedikit tersentak mendengar nada terluka gadis itu. dia menggeleng pelan, masih belum puas dengan jawaban yang diterimanya. “Kenapa harus? Aku bahkan tidak pernah meminta siapapun menolongku sebelumnya. Kenapa kamu menolongku dengan alasan untuk diriku sendiri?”
“Baiklah ... kalau kamu tidak suka dengan alasanku sebelumnya, anggap saja karena aku kebetulan berada di sana, melihatmu berniat melakukan hal yang kurasa akan disesali setiap orang yang pernah mengalaminya untuk selamanya,” ujarnya, menampilkan senyum yang seolah mengatakan jika gadis itu sangat mengerti akan kondisinya. “Istirahatlah, Jules. Jangan membuat dirimu kelelahan. Aku akan segera kembali.”
Pintu kamar kembali tertutup setelah gadis itu berjalan keluar. Julius menggerakkan tangannya untuk memegang lengan yang diperban dan meremasnya pelan, mata cowok itu terasa panas, tapi tidak ada air mata yang keluar. Ucapan gadis itu benar, dia akan menyesali perbuatannya seumur hidup jika dia benar-benar mati karena bunuh diri, tapi dia tidak menyukai kenyataan bahwa dirinya membenarkan ucapan seseorang yang bahkan baru bertemu dengannya kemarin.
*
Dokter itu menjelaskan keadaannya dengan lengkap, menyuruhnya istirahat dan menyarankan pola makan sehat yang baru agar daya tahan tubuhnya membaik. Cowok itu boleh keluar dari rumah sakit setelah memar di tubuhnya tidak tampak mengerikan dan nyeri saat digerakkan. Dia tidak punya pilihan selain mendengarkan semua itu sambil berbaring hingga gadis itu kembali ke kamarnya.
“Bagaimana? Apa kata dokter?” tanya gadis itu, duduk di dekat tempat tidurnya setelah meletakkan berbagai kudapan di atas meja dan mengambil satu bungkus keripik untuk dia makan. “Apa kamu juga mau kudapan? Ada roti dan biskuit juga. Aku lapar sekali karena menunggumu sadar.”
Julius hanya meliriknya sekilas sebelum mengalihkan pandangan dan menutup matanya, berusaha membuat dirinya tertidur sehingga tidak mendengar ucapan gadis itu sekaligus tidak menatap ekspresinya yang belum-belum membuatnya gelisah. Gadis itu seakan melupakan pertanyaan konyolnya beberapa saat lalu dan segera memperlakukannya seperti teman lama.
“Hei, apa kamu sedang mengabaikanku?”
Tidak ada jawaban.
“Baiklah, tidak apa-apa. Aku hanya senang karena kamu sudah sadar, kupikir kamu akan butuh teman mengobrol karena tidak ada yang menjenguk atau menemanimu selain aku. Pamanmu sempat datang untuk menyerahkan kartu asuransi ke bagian administrasi, omong-omong—kalau kamu ingin tahu—tapi dia tidak menyempatkan diri untuk mengunjungimu bahkan setelah kupaksa. Aku malah ditampar karena katanya aku terlalu berisik, lucu sekali kan?” ujarnya sambil tertawa.
“Aku tidak apa-apa kalau misalkan kamu khawatir, pipiku hanya terasa sedikit perih, beberapa perawat langsung menolongku saat pamanmu yang kasar itu pergi dan mereka memberiku kue coklat yang sangat enak. Baik sekali ya? Seorang perawat bahkan memberikan aku selimut tanpa kuminta sebelumnya. Apa niatku untuk menemanimu terlihat sangat jelas atau karena mereka tahu kalau pamanmu tidak akan datang lagi untuk mengunjungimu?” tanyanya keheranan, masih mengunyah keripik. “Sofanya juga empuk sekali, aku sempat mencoba untuk tidur di sana sebelum kamu bangun, rasanya seperti tertidur di tempat tidur sungguhan walaupun memang kurang lebar. Kamar VIP memang beda ya dari kelas reguler. Apa kapan-kapan aku menginap di kamar seperti ini kalau sakit? Sepertinya aku akan cepat sembuh.”
“Berisik. Kau sangat berbeda dari apa yang kubayangkan sebelumnya,” ujar Julius tampak sangat terganggu. “Apa kamu tidak punya kerjaan selain mengoceh hal tidak penting seperti itu?”
“Memang apa yang kamu bayangkan tentangku sebelumnya?” tanya cewek itu sebaliknya tampak senang dan membersihkan bumbu keripik dari tangannya, tersenyum lebar. “Kupikir kamu tidak akan memedulikanku hingga kamu tertidur karena mendengarkan ceritaku.”
“Cewek bijak yang tidak banyak bicara jika diperlukan.” Julius menampilkan ekspresi yang sangat lucu pada gadis itu jika situasinya berbeda. Dia benar-benar kesal karena sama sekali tidak bisa mengabaikan gadis itu. “Bagaimana mungkin aku bisa tidur kalau kamu sangat berisik? Pulang ke rumah dan kamu bisa mengoceh sepuasmu tanpa dicegah oleh siapapun.”
“Begitu? Sayang sekali, aku sudah lama tidak punya rumah untuk pulang,” ujarnya sambil terkekeh lalu tersenyum tipis. “Ah, jangan memandangku seperti itu, Jules. Aku sama sekali tidak kesulitan untuk mencari tempat tidur selama beberapa hari dari orang-orang baik yang mau menolong, bersyarat maupun tidak bersyarat, pasti aku punya tempat untuk tidur walaupun memang bukan rumah untuk pulang.”
Cowok itu terdiam, tidak bisa menahan diri untuk menatap gadis cerewet yang duduk di samping tempat tidurnya itu dengan pandangan tidak terbaca. Dia sungguh tidak mengerti dengan seseorang yang bisa tetap ceria walaupun punya kesulitan seperti itu, terlihat tanpa beban seakan tidak punya masalah, tapi juga masih sempat membuat seseorang yang diselamatkannya kesal setengah mati sekaligus kebingungan. Julius mengalihkan pandangannya dan memejamkan matanya lagi untuk tidur.
“Baiklah, aku tidak peduli jika kamu mau mengoceh tentang hal apapun lagi,” ujarnya pelan. “tapi tolong jangan terlalu berisik, aku benar-benar ingin tidur.”
“Tentu saja, aku akan lebih tenang,” ujarnya, terdengar sangat senang dari nada bicaranya. “Aku akan bercerita tentang orang paling membosankan yang pernah kutemui saat mencari tempat untuk tidur. Wajah orang itu mirip pamanmu, postur tubuhnya juga, tapi dia tidak kasar, pemarah ataupun sifat buruk yang kemungkinan besar dimiliki oleh pamanmu itu, tapi dia sangat pendiam dan tidak bereaksi apapun saat aku berbicara dengannya. Oh! Dia pernah bereaksi sekali, tertawa datar yang tidak tulus sama sekali, yang membuatku ingin menggoyang-goyang bahunya karena gemas....”