Julius - Tidak jadi Mati
Tuhan sepertinya bekerjasama dengan dunia agar Julius tidak bisa mati dengan mudah.
Kedua kakinya sudah bersiap di pinggir apartemen kumuhnya, siap untuk melompat dan dalam satu langkah saja Julius bisa jatuh secara pasti—menghadapi kematian yang cepat, menyakitkan dan jauh lebih baik dibandingkan dengan harga dirinya yang terenggut secara perlahan.
Suasana atap apartemennya terasa mendukung. Sepi tanpa orang dengan matahari yang sudah nyaris tenggelam. Penghuni apartemen lain kemungkinan besar sedang keluyuran untuk bekerja maupun bersiap-siap mencari hiburan gelap sehingga tidak akan ada yang menyaksikan dirinya melompat. Dia juga tidak mempunyai siapapun lagi yang akan mengkhawatirkannya seperti dulu.
Semenjak kecelakaan yang menimpa keluarganya, hidupnya terasa bagaikan kapal yang karam. Tenggelam dalam hitungan lambat dengan keadaan rusak parah dan akan berakhir di dasar laut. Teman-teman di sekolahnya menjauhinya setelah status sosialnya menurun drastis. Ayahnya meninggal di tempat sedangkan ibunya menyusul kematian suaminya dalam kurun waktu tiga hari. Pada akhirnya hak asuhnya jatuh ke tangan pamannya yang tidak berguna. Seorang laki-laki pengangguran dengan berbagai hutang yang menumpuk, membuatnya terpaksa kabur dari rumah pamannya agar tidak terganggu dari kejaran penagih hutang yang salah sasaran.
Lupakan tentang jabatannya sebagai ketua rugby ataupun presiden kampus, pacarnya yang ternyata merupakan tiruan luar dalam boneka barbie dan hobinya yang menghambur-hamburkan uang, pelatih yang sudah membimbingnya selama ini dan bahkan teman-temannya yang selalu mengikutinya kemanapun. Semuanya lenyap tak tersisa seakan dia sebelumnya hanya bermimpi.
Tapi itu semua tidak mungkin, semua yang dialaminya nyata dan tidak bisa diulang. Kehidupannya langsung terjatuh pada titik paling bawah standar sosialnya selama ini. Lebih baik dia mati dibanding menerima segala cemoohan dan pembulian secara fisik yang diterimanya di kampus. Dia sudah muak dan merasa dirinya sudah tidak perlu lagi untuk hidup. Lagipula, mati akan membawanya ke suatu tempat yang tidak pernah dikunjunginya ataupun teman-temannya. Cowok itu akan bebas dari tekanan luar maupun di dalam dirinya sendiri.
“Tunggu!” suara teriakan yang sedikit melengking itu mengejutkannya. “Tolong jangan lakukan itu.”
Julius menoleh, menatap kosong pada sesosok perempuan seumurannya dengan rambut pirang pasir berantakan dan mata hijau yang berkilat cemas, tampak sangat lelah seperti baru saja berlari secepat mungkin. Seseorang yang tidak dikenalnya. Apa teman-temannya mengirim orang asing untuk menyaksikan kematiannya?
“Apa maumu?”
“Jangan melompat,” ujar gadis itu lebih pelan. “Tolong jangan melakukan hal yang berbahaya seperti itu.”
Cowok itu mengerjapkan matanya, merasa hal aneh ketika ucapan gadis itu seakan sedang berusaha mempengaruhinya. “Kenapa tidak?”
“Karena itu bukan hal yang baik.” Dia tiba-tiba menggelengkan kepalanya. “Maksudku, kau pasti juga masih punya hal lain untuk dilakukan, bunuh diri bukanlah cara yang tepat.”
Julius menatapnya selama beberapa saat, menimbang ucapan gadis itu di dalam otaknya yang sudah lama tidak berpikiran dingin dan tidak bisa tidak mengacuhkan gadis itu begitu saja walaupun ucapannya jelas-jelas terdengar naif. Pandangan matanya seakan terkunci pada tatapan gadis itu tanpa bisa dicegah.
“Bagus, jangan bergerak dari sana,” ujarnya perlahan dengan nada berhati-hati seakan cowok itu adalah seekor kucing liar dan kemudian berjalan mendekatinya. “Tetaplah di sana.”
Cowok itu mendengus mendengar perkataan gadis itu lalu berbalik. Kembali sadar dengan keadaannya saat ini dan posisi perempuan itu. Siapa dia bisa menyuruhnya untuk tidak melakukan hal yang paling diinginkannya saat ini? Dia seharusnya tidak mempedulikan orang itu dari awal. Pandangan mata Julius kini kembali terarah pada jalan yang berada 15 lantai di bawahnya—mempersiapkan dirinya kembali untuk melompat.
"Tidak, kamu salah, sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Hanya tinggal menunggu waktu sebelum orang-orang itu menghabisiku–seperti yang kulakukan dulu," ujarnya, mengarahkan satu kakinya keluar dari tepian atap. "Apa kamu mengira aku sebodoh itu?"
"Aku bisa membantumu," ucapnya dengan sangat cepat dan putus asa.
Julius menggelengkan kepalanya, menolak sebuah harapan maupun pikiran logis yang secara otomatis membenarkan ucapan gadis itu. "Sudah terlambat."
Dia mendengar suara teriakan perempuan itu dan perasaan jatuh yang melingkupinya ketika dia akhirnya memutuskan untuk melompat, merasakan kematian mendekatinya sebelum berganti menjadi sentakan yang begitu keras di lengannya dan benturan yang menghantam bagian samping tubuhnya.
Pegangan tangan gadis itu menahannya dengan mantap sebelum menariknya menuju tempat aman, bagian tengah atap, cukup jauh dari tepian yang sebelumnya menjadi tempatnya berdiri. Julius merasakan dirinya terombang-ambing dalam kesadarannya sendiri ketika dia melihat gadis itu mengambil ponsel dari saku celananya dan menghubungi pusat bantuan masyarakat dengan isakan.
Dia tidak mampu untuk berbicara, kesadaran seakan menariknya lebih kuat menuju ke kegelapan ketika perempuan itu mengusap wajahnya lembut.
"Syukurlah, aku belum terlambat," bisiknya membungkuk di dahi Julius yang sedikit lembab. Cowok itu dapat merasakan tetesan air mata membasahi pipinya. "Kamu belum boleh mati, Jules."
Julius memejamkan matanya, mengerang pelan saat bagian samping tubuhnya memberikan protes, dia sudah merasa tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya walaupun ada hal lain yang ingin dia tanyakan pada gadis itu. Suara desiran angin malam yang berada di sekeliling mereka menjadi kesadaran terakhirnya sebelum kegelapan menariknya dengan sepenuh hati.