Julius - Yang akan Datang

1131 Kata
"Jules!" Sam tampak mendatanginya dengan bersemangat. Dia terlihat terengah begitu tiba di hadapannya. "Aku diterima di klub jurnalistik lho!" Julius mengangguk, berusaha untuk tidak menunjukkan reaksi yang ikut senang untuknya dan hanya memberikan raut wajah datar. “Selamat.” “Tanggapanmu hanya begitu? Aku sudah capek-capek berlari hanya untuk memberitahumu dari lantai satu, apa tidak ada senyum yang bisa kudapatkan darimu? Kamu kan yang mendaftarkan aku ke klub itu supaya bisa terbebas dari pengawasanku.” Sam berbicara panjang lebar hingga beberapa mahasiswa diam-diam menoleh, tapi langsung mengalihkan pandangan begitu bertatapan dengannya. Julius menghela napas pelan. “Kamu sudah dapat tugas dari Louisa? Kudengar mereka memberikan masa percobaan untuk anggota baru.” “Benar!” Cewek itu mulai menceritakan apa yang akan dilakukannya selama seminggu ke depan dan anggota klub jurnalistik yang sudah ditemuinya tadi. Kebanyakan mereka semua seangkatan dengan Julius, lebih tua setahun, tapi mereka memperlakukan Sam seperti rekan seperjuangan. Beban kerja klub memang berat sehingga mereka selalu bersyukur dengan kedatangan anggota, baik sukarela maupun terpaksa atau hanya untuk sementara. “Sepertinya aku akan bertahan lama di sana.” Julius diam-diam tersenyum selama Sam menceritakan semua yang terjadi. Cewek itu belum apa-apa sudah jatuh hati meskipun baru masuk sebagai anggota baru. Entah apa yang akan dirasakannya begitu sudah mulai melakukan tugas, tapi cowok itu yakin kalau Sam tidak akan punya masalah dengan itu dan melakukannya dengan baik. “Oh, iya.” Sam tiba-tiba menghentikan ceritanya. “Pertandingan anggota baru klub rugby sudah dekat kan? Aku akan mewawancarai mereka sebelum dan sesudah pertandingan.” Dia mengangguk. Seingatnya, pertandingan mereka akan diadakan seminggu lagi, tapi cowok itu belum memutuskan untuk melihat pertandingan. Sebagai tuan rumah, tentu saja lapangan rugby kampus mereka akan menjadi pusat acaranya. Julius tidak yakin apa dia bisa datang jika tiga orang itu kemungkinan besar akan hadir juga. Dia tidak mau mengambil resiko. “Kamu pasti datang kan? Mereka kan dilatih olehmu, pasti mereka mengharapkanmu untuk datang.” Julius menggeleng. “Aku akan menunggu kabar dari Paul atau Casey.” “Begitu… aku pikir kamu akan tetap datang untuk melihatku.” Cowok itu tampak terpana, tidak menyangka kalau Sam akan berkata seperti itu padanya. “Memang apa gunanya aku datang melihatmu?” “Yah, kamu bisa melihatku di layar lebar.” Sebuah dengusan yang tidak terdengar familiar terdengar dari Julius. Dia tahu kalau maksud cewek itu adalah layar yang berdampingan dengan papan skor, tapi layar itu biasanya hanya digunakan jika ada pertandingan besar. Kali ini levelnya hanya pertandingan tunggal antara kampus tetangga yang masih dalam satu wilayah Chicago, jadi hal yang dikatakannya tidak akan terjadi. Sam terlihat bingung. “Kenapa kamu tertawa?” “Aku sudah melihatmu setiap hari, kenapa melihatmu di layar lebar akan berbeda?” Dia memutuskan untuk tidak membahasnya dan mengatakan hal lain. “Mungkin saja aku akan kelihatan lebih cantik?” “Sekarang kamu juga sudah cantik.” Cewek itu menutup mulutnya, mengulurkan tangannya untuk menyentuh dahi Julius yang terlihat bebas dari keringat. “Kamu benar-benar Julius? Aku baru saja mendengar pujian darimu.” “Sudahlah.” Sam tertawa lalu menjauhkan tangannya. “Kabari aku kalau kamu mau pulang, aku masih harus bersiap-siap untuk tugasku besok.” Julius menatapnya yang langsung berjalan pergi bersamaan dengan dosen mata kuliah yang memasuki ruangan. Cewek itu otomatis mendapat izin untuk tidak mengikuti jam kuliah karena mengikuti kegiatan klub jurnalistik. Cowok itu juga terlepas dari pandangan Sam yang kadang membuatnya sulit berkonsentrasi. Entah kenapa dia merasa sedikit kesepian, walaupun segera menepisnya untuk memikirkan hal lain. Masalahnya sekarang adalah keputusannya untuk datang ke pertandingan atau memilih untuk menonton lewat rekaman yang akan disimpan pengurus anggota klub. Di satu sisi, Julius lebih suka hadir di pertandingan karena bisa langsung melihat para anggota yang diperhatikan olehnya, terutama untuk evaluasi setelah pertandingan dan latihan selanjutnya, tapi jika dia melihat dari rekaman pun sebenarnya tidak masalah. Yang jadi masalah adalah ketiga orang itu. Cowok itu sama sekali tidak ingin memancing keributan dan membuat kerugian untuk dirinya sendiri saat hanya ingin menonton pertandingan anggota klub yang dilatihnya. Dia juga tidak ingin ada artikel mengenai dirinya yang malah membuat pertandingan mereka menjadi tidak berarti. Walaupun sudah setahun berlalu, Julius selalu saja muncul dalam buletin kampus dengan isi artikel yang sebenarnya tidak terlalu penting. Saat dia bertanya untuk pertama dan terakhir kalinya, Louisa tidak menjawab dan hanya tersenyum yang tidak bisa diartikan apapun. Dia menghela napas dan kembali memperhatikan kuliah hingga selesai. . “Kamu sudah menunggu lama?” Julius menggeleng. Sam terlihat lebih tenang dari biasanya saat mereka berjalan menuju halte. Kampus sudah terlihat sepi dengan segelintir mahasiswa yang masih menyelesaikan urusan klub dan sebagiannya lagi dengan mahasiswa semester akhir yang mengurus tugas untuk kelulusan mereka. Sam meregangkan tangannya. “Aku pikir kamu akan meninggalkanku karena senang aku tidak ada untuk mengawasimu.” “Aku senang, tapi… sepertinya ada orang lain yang memperhatikanku.” Cewek itu terlihat terkejut. “Benarkah? Aku pikir hanya aku yang memperhatikanmu selama ini.” Julius tidak memberi tanggapan. Mendengar Sam berkata seperti itu, sepertinya memang orang lain yang memperhatikannya selama menunggu kedatangan cewek itu. Awalnya dia mengira kalau seseorang yang memperhatikannya adalah seseorang dari kelas yang diikutinya sebelum pulang, tapi setelah melihat-lihat, sosok yang tidak diketahui itu sama sekali tidak terlihat maupun mendekatinya. Sekarang dia tidak merasa diperhatikan lagi. “Lupakan saja.” Cowok itu tiba-tiba merasa konyol karena membahas sesuatu yang tidak penting, mungkin saja orang itu tidak benar-benar mengikutinya. Sam menepuk tangannya ringan. “Kalau ada apa-apa lagi hubungi aku saja. Aku akan langsung datang.” “Tidak apa-apa, aku sepertinya hanya salah paham.” Cewek itu tetap mempertahankan tanggapannya mengenai cerita Julius. “Tetap saja, katakan padaku kalau terjadi sesuatu.” “Baiklah.” Julius memutuskan untuk menunggu di tempat yang lebih ramai atau di perpustakaan saja kalau misalkan harus menunggu cewek itu lagi. Dia juga mempertimbangkan untuk langsung pulang karena Sam pasti akan semakin sibuk dengan kegiatannya dengan klub jurnalistik. “Oh, kamu sudah bertanya pada Paul dan Casey mengenai kedatanganmu ke pertandingan?” Cowok itu mengangguk. Paul yang menghubunginya lebih dulu untuk memberikan rekaman latihan terakhir para anggota sebelum pertandingan dan mereka kemudian berdiskusi soal apa saja yang harus disempurnakan dari yang terlihat di video. Setelahnya, Paul mengatakan hal yang sama dengan Sam soal para anggota yang akan senang dengan kehadirannya. “Dia menyerahkan keputusannya padaku.” Sam terlihat senang. “Kalau begitu datang saja, aku akan menunggumu.” “Aku belum memutuskan, ada yang harus kupikirkan dulu.” “Ah… oke.” Cewek itu terlihat kecewa sebelum kembali menepuk punggung tangannya sambil tersenyum. “Katakan saja kalau kamu membutuhkan bantuanku.” Julius tidak membalas ucapannya untuk kali ini. Dia berniat untuk menjauhkan cewek itu dari mereka, tapi jika Sam terus bersamanya dan tetap ikut campur, dia pasti tidak akan bisa melakukan apapun untuk menghentikan mereka untuk mengincar cewek itu. Cowok itu harus memikirkan keputusannya sebaik mungkin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN