Part 18

1014 Kata
"Kikil," aktivitas mengepel Naufal terhenti. Tatapan Kila menjadi kesal. Sejak kapan Naufal memanggilnya seperti itu? Tapi, yang terpenting saat ini adalah dia harus berterimakasih karena Naufal sudah menyelamatkannya. "Lo sendirian aja? Si Abian kok nggak kelihatan?" Kila menilik ke sekitar Naufal. "Dia udah pulang dari tadi lewat halaman belakang sekolah," "Dasar! Nggak tanggung jawab banget." Kila merasa dongkol sendiri. Detik kemudian, ekspresinya berubah manis. "Makasih, ya. Kalau lo nggak dateng waktu itu, mungkin gue udah dikuburan," "Iya. Sama-sama," Naufal kembali melanjutkan acara mengepelnya. Tersisa ruang perpustakaan dan ruang OSIS yang sama sekali belum Naufal bersihkan. Kila kemudian menarik langkah menuju depan gerbang untuk pulang. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Muncul rasa tidak tega. "Fal, gue tinggal nggakpapa?" Kila berbalik badan menghadap Naufal. "Nggakpapa. Kalau mau pulang, pulang aja." jawab Naufal tenang. "Beneran nih?" "Iya," "Misalnya kalau ada apa-apa, lo enggak takut gitu?" "Nggak," "Kalau ada penjahat, lo bisa ngelawan?" "Bisa." "Ya udah gue pergi, ya." ujar Kila, namun tubuhnya masih terdiam di tempat. Naufal berdeham. "Gue pergi, nih. Lo beneran nggak takut?" "Nggak." sahut Naufal acuh. "Beneran ya," Naufal kini merasa gemas. Dari tadi, Kila mengatakan akan pergi, namun Gadis itu tidak melakukan aksi. "Lo kapan pergi?" tanyanya berusaha menyabar. Kila terkekeh seraya mengusap lehernya yang tidak gatal. "Gue mau nemenin lo," "Loh, nggak jadi pulang?" Naufal keheranan. "Nggak. Hitung-hitung, ini sebagai balas budi karena lo udah nyelamatin gue tadi pagi," jelas Kila. Naufal hanya membalas 'oh'. Kila mendudukkan diri, kemudian melipat pahanya sehingga terlihat seperti nyonya bos. Beberapa menit kemudian, Gadis berambut lurus itu merasa bosan sebab dari tadi menyaksikan seseorang memgepel. Perutnya bahkan sudah berbunyi karena kelaparan. "Lo lama banget sih," Kila mengeluh. "Bentar. Tinggal perpustakaan," sahut Naufal yang masih setia dengan kegiatannya. "Kenapa lo nggak kabur kaya Si Abian? Lagian juga, guru-guru kan sekarang udah pulang semua," "Tapi kan, besok guru BK ngecek gue udah ngelaksanain tugas apa belum." "Bener juga sih. Sini gue aja yang ngepel biar cepet selesai," Kila berdiri. Ia segera merebut pel yang Naufal pegang. "Tapi..." "Udah. Lo tinggal diem aja," *** "Fyuhh. Akhirnya selesai," lega Kila. Wajahnya sekarang penuh keringat. Baru kali ini ia mengepel ruangan selebar itu. Deg Kila tersentak saat merasakan Naufal sedang mengelap keringatnya. Jarak dia dengan Laki-laki itu sangat dekat. Kenapa... kenapa wajah Naufal terlihat tampan ketika sedekat ini? "Naufal..." Yang merasa terpanggil sontak menoleh. Nampak Lusi dengan wajah tidak ada ekspresi sama sekali. Gadis itu terkejut melihat sahabatnya sangat dekat bersama Kila. "Loh, bukannya lo udah pulang ya?" Naufal kembali berdiri tegak. Sedangkan Kila masih berusaha mengontrol jantungnya yang berdetak tak karuan. "Aku tadi pulang cuma mau ngambil minuman buat kamu," jawab Lusi. "Oh, gitu. Sini minumannya," Lusi segera menyerahkan botol yang tadi ia genggam. Naufal menerima. Namun sebelum itu, ia melihat Kila sekilas. Dia merasa kasihan. "Lo mau minum?" tawarnya. "Boleh?" Kila menanya balik. Naufal mengangguk. Kila mengambil botol itu, lalu meminumnya hingga tersisa setengah. Lusi yang menyaksikan sedari tadi memilih untuk diam. Minuman itu seharusnya diminum oleh Naufal, tapi kenapa diminum oleh Perempuan tak sopan itu? "Udah?" Naufal menilik wajah Kila. Detik kemudian, botol yang masih ada isinya diserahkan ke telapak tangannya. "Gue juga haus," ucap Naufal sembari membuka tutup botol, lantas menengguk tanpa ada rasa jijik sedikitpun padahal botol itu bekas bibir Kila. Lusi menatap tak percaya. Baru kali ini Naufal berbuat seperti itu. Walaupun persahabatan Mereka sudah bertahun-tahun lamanya, Naufal sama sekali tidak pernah meminum dari botol bekas bibirnya. "Lo kok enggak..." "Nggak jijik? Gue lagi haus banget soalnya," kata Naufal memotong kalimat yang akan diucapkan oleh Kila. "Fal, kita pulang yuk!" ajak Lusi tanpa basa-basi memegang lengan Naufal. "Ayo," Setelah Mereka bertiga sampai di depan gerbang, ketiganya dikejutkan dengan mobil yang mendadak sudah ada di depan Mereka bertiga. "Bapak dari tadi nungguin di sini?" tanya Kila pada supir pribadinya. "Iya, Non. Saya mau nyamperin non, tapi saya lihat Non lagi berdua sama Pacar Non. Saya nggak berani mengganggu," "Apa? Pacar?" Kila melotot tak terima. Telapak tangan Lusi terkepal erat di balik rok selututnya. "Saya bukan pacarnya, Om." ucap Naufal pada Pak Yayan. Ekspresinya begitu tenang. Berbeda dengan Kila. "Kila udah dijemput kan? Kalau begitu, ayo kita pulang, Fal," Lusi merangkul lengan Naufal dengan erat tak seperti biasanya. Kila masuk ke dalam mobil. Namun sebelum itu, ia mengatakan, "Sekali lagi, gue ngucapin terimakasih." ujarnya. Detik kemudian, lekukan indah terukir di wajah cantik Kila. Naufal membalas senyum. "Sama-sama," "Udah. Ayo cepat," Lusi segera menarik Naufal. Menjauh dari Kila. Senyuman itu membuat Naufal terpesona. Ada sensasi aneh muncul di hatinya. *** Sementara itu, Abian sedang menyendiri di kamar. Kejadian tadi pagi terus terlintas di benaknya. Bagaimana keadaan Gadis yang dipukulinya tadi pagi? Apakah dia baik-baik saja? "Astaga..." Abian mengacak rambut. Di dalam lubuk hatinya, muncul perasaan bersalah. Seharusnya dia tidak memukul Gadis itu. Kenapa ia tak bisa mengendalikan emosinya? Bunyi notif dari ponselnya membuat perhatian Abian teralihkan. Ia segera meraih benda pipih tersebut. 'Gue tau hari ini peringatan kematian ibu kandung lo. Emosi lo meluap karena nggak terima kalau ibu lo meninggal. Tapi, jangan limpahkan emosi lo ke cewe yang gak ada sangkutannya sama kematian ibu lo. Lo bisa dipenjara. Gue harap, lo inget pesan gue sekarang.' Pesan itu dari Dasha. Abian tidak membalas pesan itu. Dia memilih untuk mematikan ponsel, kemudian tidur. Tidak ada niatan di hatinya kalau besok ia meminta maaf pada Gadis bernama Kila. Gadis itu sudah ikut campur dalam urusannya dan Dasha. Sampai kapanpun, ia tidak akan meminta maaf. *** "Pipi kamu kenapa? Kok lebam? Apa jangan-jangan kamu berantem?!" Yana mulai menginterogasi Kila. Baru pertama kali putri kesayangannya pulang dengan keadaan muka penuh lebam. "Kila berantem sama cowok ta-" "Apa?! Kamu berantem sama cowok?! Ada masalah apa kamu sama cowok itu? hah?!" Yana mulai tersulut emosi. Dia tak bisa menerima Anaknya dilukai seperti ini. Yana berniat untuk ke sekolah Kila besok dan melaporkan kejadian ini pada suaminya. "Tunggu penjelasan dari aku dulu, Mah. Kejadiannya begini..." Kila menceritakan peristiwa tadi pagi secara detail. Kebencian Yana pada Laki-laki yang sudah memukul anaknya semakin meningkat. "Mamah akan bilang ke ayahmu soal ini. Anak itu harus dikeluarkan dari sekolah,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN