"Apa lo bilang?!" Kila menoleh ke arah Dania.
Dania terkekeh tanpa dosa. Tanpa beban.
"Kenapa sih? Semua orang pada nyebelin," dongkol Kila. Ia menghentak-hentakkan kakinya berkali-kali. Setelah itu, dia berlalu begitu saja.
"Semangat, Fal!" seru Dania.
Dahi Naufal berkerut. "Buat?"
"Buat ngedapetin Kila," Dania mengedipkan mata.
"Lo sama si Kikil ternyata enggak ada bedanya, yah. Sama-sama aneh,"
"Gue enggak aneh!" kali ini, giliran Dasha yang merajuk.
"Orang aneh mana sadar dirinya aneh," ujar Naufal.
"Beginilah kalau air s**u dibalas a-"
"Air ketuban trus nanti keluar bayi," tawa Naufal pecah saat itu juga. Lusi tak sengaja lewat di depan ruangan itu. Ia panas hati melihat Naufal bersama Dania.
"Kamu lagi ngetawain apa?" tanya Lusi pada Naufal.
Dania dan Naufal tak merasakan kehadiran Lusi. Dania memicingkan mata, jengkel. Sedangkan Naufal terus tertawa.
***
"Udah gue bilang berkali-kali. Gue enggak suka lo!" Abian mendorong Dasha hingga Dasha terhempas tepat di depan kaki Kila yang sedang berdiri di sana.
Kila dengan cepat berjongkok. "Lo enggakpapa kan?"
Dasha menunduk.
"Berdiri. Lo enggak boleh kelihatan lemah," Kila membantu Dasha untuk bangkit. Setelah Dasha berdiri, dia menuntun Dasha untuk duduk di kursi yang terletak di dekatnya.
Kini, emosi Kila sudah di ubun-ubun. "Lo mau ke mana?!" ucapnya sedikit membentak seraya menggenggam erat lengan Abian agar tak pergi saat itu juga.
"Lo jahat!" lanjutnya.
"Lo sama Dasha enggak ada bedanya. Sama-sama ngemis cinta dari gue," remeh Abian.
"Gue enggak ngemis cinta dari lo!"
Abian mendecih. "Trus buat apa lo nyegat gue?"
"Buat beri lo pelajaran!"
Plakk
Mulut Dasha menganga. Ia segera menghampiri Abian untuk memastikan apakah Kekasihnya baik-baik saja setelah ditampar oleh Kila.
"Sakit kan? Gimana rasanya? Panas? Sama kaya perasaan Dasha saat ini. Dia udah lembut-lembut dan baik sama lo, tapi lo malah ngasih dia rasa sakit," ujar Kila tegas.
Dasha dibuat tersentuh. Ia bisa merasakan apa gunanya sahabat saat ini.
Mata Abian berapi-api. Amarahnya meledak. Ini baru pertama kalinya ada Seorang Gadis yang berani memukul dirinya.
"Lo..." Abian dengan marah menghampiri Kila. Ia harus membalas perbuatan Gadis itu. Kali ini, Abian tak akan mengampuninya!
Dengan sergap, ia mendorong Kila hingga punggung kecil Perempuan itu terbentur keras di tembok.
"Lo mau apa?!" Dasha panik.
"Diem lo. Jangan ikut campur!" peringat Abian seraya menunjuk-nunjuk wajah Dasha.
"Tapi..."
"Pergi atau gue pukul!" ucap Abian menyela. Dasha tak jadi untuk mengatakan sesuatu. Ia berlari begitu saja untuk mencari bantuan agar Kila selamat.
Perhatian Abian teralihkan kembali pada Kila yang sedang meringis kesakitan. Ia mendekati Kila dengan seringai seram.
"Lo... lo... lo jangan berani macem-macem!" Kila gemetar ketakutan kala Abian semakin mendekatinya.
Jarak Mereka sangat dekat. Abian memegang kedua pipi Kila dengan kuat sampai-sampai pipi tirus itu memerah.
"Lepas..." rintih Kila kesakitan.
"Lo siapa? Hah? Kenapa lo berani nampar gue? Punya hak apa lo? Jawab!" ujar Abian dengan suara berat.
"Maafin gue..." Kila memohon. Air matanya sudah berkaca-kaca.
Plakk
Kali ini Abian yang memukul pipi Kila dengan keras. Pengecut. Sebutan itu memang pantas untuk Abian saat ini karena sudah berani memukul Perempuan.
Kila menyadari. Dia salah. Ia salah karena menaruh perasaan spesial pada Laki-laki yang ternyata bersikap kasar di luar dugaannya.
Abian memegang kerah seragam Kila membuat Perempuan itu terduduk kembali.
"Sakit kan? Gimana rasanya? Panas? Sama kaya perasaan Dasha saat ini. Dia udah lembut-lembut dan baik sama lo, tapi lo malah ngasih dia rasa sakit," Abian menirukan ujaran Kila dengan wajah meledek. Tawa menyebalkan, kemudian muncul dari mulut Abian.
"Dasar gila," ejek Kila memandang Abian jijik.
Ekspresi Abian kembali dongkol. "Apa kau bilang?!"
"Aww... shh.." Kila meringis kesakitan lagi ketika pipinya ditampar untuk kedua kalinya.
Bukannya diam, Kila mendongakkan wajah. Raut wajahnya terlihat menantang. "Pengecut! Baru kali ini gue ketemu sama cowok yang berani mukul perempuan! Gue benci lo! Gue nyesel pernah suka sama lo!"
"Lo yang mulai duluan!" Abian memukul Kila lagi. Namun, dia memukul Kila tanpa henti.
"WOY!" suara menggelegar terdengar dari arah sana. Kegiatan Abian terhenti.
Nampak Murid Laki-laki berkacamata tengah berdiri tegap di sana. Abian tertawa kecil. Ia meremehkan Naufal. Ya, Laki-laki berkacamata itu adalah Naufal.
"Banci! Beraninya sama cewek doang!" hardik Naufal.
Kila merasa lega. Wajahnya seakan-akan sudah terasa remuk akibat pukulan Abian yang sangat kencang.
Mereka berdua pun saling adu tinju. Naufal saat ini berbeda seperti biasanya. Jiwa Laki-laki sesungguhnya kini muncul. Sudut bibir Mereka sudah robek hingga mengeluarkan cairan merah yang berbau amis.
Beberapa menit kemudian, Naufal berhasil mengalahkan Abian. Ia segera mendekati Kila yang sedang terkapar lemas.
"Mi-minus..." Kila tersenyum. Detik kemudian, ia pingsan. Naufal mengangkat badan Kila dengan kedua tangannya untuk membawa Gadis itu ke UKS.
***
"Pelan-pelan dong," Kila menggeplak lengan Dania.
"Sabar. Ini sebentar lagi selesai kok," sahut Dania dengan nada tenang seraya terus menempelkan kapas yang sudah diberi obat agar luka di wajah Kila membaik.
"Kila... lo enggakpapa kan? Lo baik-baik aja? Seharusnya lo jangan nolongin gue tadi," panik Dasha yang tiba-tiba datang.
"Gue enggak baik-baik aja," Kila terkekeh kecil. "Mending, lo putus aja sama Abian, Sa."
"Enggak bisa, Kil. Gue udah terlanjur suka banget sama dia," respons Dasha seraya menatap sendu. "Gue bakal nunggu sampai dia buka hatinya buat gue," lanjutnya penuh harap.
Kila merasa iba. "Kalau dia enggak mau buka hatinya, lo mau nyerah?"
"Enggaklah. Justru itu, gue harus berusaha keras agar dia ngebuka hatinya," jawab Dasha. "Oh ya, gue minta maaf atas nama Abian. Dia hari ini lagi bener-bener down karena ini peringatan kematian ibunya,"
"Ibunya?" Kila terkejut.
"Ya, dia bukan anak kandung di keluarganya. Dia anak angkat," jawab Dasha.
"Pantes aja dia kasar kaya gitu. Ternyata enggak pernah ngerasain kasih sayang," timpal Dania yang sedari tadi diam.
"Lo dari tadi ke mana aja?" lanjut Dania bertanya.
"Gue habis ke kantor,"
"Gimana nasib Naufal? Dia dihukum apa nggak?" cecar Kila yang penasaran.
"Dia dihukum ngepel seluruh sudut sekolah sama Abian,"
"A-apa? Seluruh sudut sekolah?" Kila menganga.
"Iya," balas Dasha.
"Anterin gue ke sana,"
***
Bel pulang berbunyi. Kila menuju ke tempat di mana Naufal masih melaksanakan hukumannya. Tepat di depan kelas XII. Sebenarnya, tadi ia akan menuju ke Naufal dengan diantar Dasha, namun bel berbunyi membuat Kila mengurungkan niatnya.
"Naufal..." panggil Kila.