Part 16

1032 Kata
"Fal... fal... bangun," Kila menguncang-guncangkan badan Naufal. Yang diguncang tubuhnya pun mulai membuka mata perlahan. Naufal menguap. Saat nyawanya sudah terkumpul kembali, ia terheran-heran melihat banyak orang mengintip di jendela. "Itu kenapa orang-orang pada ngeliatin kita?" tanya Naufal. "Gue juga bingung." "Coba lo tanya sana," suruh Naufal. "Enggak. Lo aja sana," tolak Kila mentah-mentah. Naufal geleng-geleng kepala. Ia langsung berdiri untuk membuka pintu dan bertanya pada orang-orang yang sudah ada di depan rumah kosong itu. Belum Naufal mengucapkan satu katapun, dia disambar ocehan demi ocehan. Kila yang penasaran, menghampiri Naufal. "Mereka berdua sudah berbuat zina, Pak RT." "Usir mereka!" "Mereka berdua udah buat kotor desa kita!" "Ya ampun... padahal masih muda kok udah berani berbuat hal itu ya," "Anak zaman sekarang, gaya pacarannya begitu ekstrim, Jeng." "Itu orangtuanya enggak didik mereka apa," "Kasihan sama ibu dan bapak mereka, Jeng. Udah ngeluarin duit banyak buat sekolahin mereka, tapi malah berbuat zina kaya gitu," "Merusak bangsa," Naufal dan Kila kompak mengerutkan dahi. Kumpulan ibu-ibu beserta bapak-bapak yang ada di situ sangat riuh dan memekakkan telinga. "TENANG! TENANG!" Pak RT dengan suara berat nan keras segera melerai. Seketika tempat itu hening dan hanya terisi bunyi kendaraan motor yang lewat. Pak RT mendekati Kila dan Naufal. Mereka berdua dibawa ke rumah Pak RT untuk diinterogasi. *** "Kalian tidak berbuat zina di rumah kosong itu?" "Enggak, Pak. Saya sama dia itu adik kakak," balas Kila seraya menggeleng-gelenggkan tangan. "Ya, adik kakak. Mana mungkin sesama saudara berbuat kaya gitu," imbuh Naufal. Pak RT memelintirkan kumisnya. Ia tampak berpikir apakah harus mempercayai dua orang ini atau tidak. "Kalian punya bukti?" "Bukti apa, Pak? Apa kami harus nunjukin kartu keluarga? Itu enggak mungkin, Pak. Kami enggak bawa kartu keluarga," jawab Kila sedikit emosi. Naufal memegang bahu kecil Kila, lalu menepuknya 2 kali agar Gadis itu menyabar. Pak RT menatap wajah Kila dan Naufal dengan tajam. "Kalau kalian kakak beradik, kenapa bentuk wajah satupun nggak ada yang mirip?" Mampus! Kila berpikir keras menjawab pertanyaan tersebut. "Kita bukan saudara kandung. Ayah saya nikah sama ibunya dia," segah Naufal. "Nah, iya." Kila lega. "Kita boleh pulang sekarang?" tanya Naufal kepada Pak RT. "Jangan dulu," Pak RT berdiri. Dia membuka lemari yang tak berada jauh darinya. Mata Naufal dan Kila tak lepas memerhatikan Pak RT. "Kalian bersumpah dulu di depan kitab suci kalau kalian memang enggak berbuat zina," "Oke. Saya berani," Naufal bangkit dari duduknya. Disusul oleh Kila seraya berkata, "Saya juga berani," Mereka berdua mantap mengucapkan hal itu karena malam tadi Mereka benar-benar tidak melakukan apa-apa. Selesai bersumpah, Pak RT membiarkan Naufal dan Kila pergi. *** Sekarang, Kila berdiam diri di depan pintu rumahnya. Dia meremas kuat roknya. Semoga orangtuanya tidak ada di rumah. Untung saja ini hari minggu jadi Kila tidak perlu berbohong ketika izin. Jari telunjuk Kila memencet tombol bel. Ting tong Pintu dibuka oleh seseorang. Kila menilik, berharap bukan ayah atau ibunya yang membukakan pintu. "Bagus ya! Kemarin enggak pulang!" omel Yana. Astaga! "A-ampun, Mah..." pekik Kila kesakitan kala daun telinganya ditarik. "Masuk!" Yana melepaskan jewerannya. Kila masuk. Ia duduk di sofa ruang tamu. "Untung saja ayahmu sedang keluar kota. Kalau ada, kamu pasti sudah diusir dari rumah." ujar Yana. Kila menunduk. "Kamu itu perempuan. Seandainya di apa-apain kan, berbekas." lanjut Yana. "Kamu kemana? Jawab. Bukannya kamu sama Naufal? Kenapa dia enggak ngantar kamu pulang?" cecarnya. "Ya, Kila sama Naufal, Mah. Kita berdua kemarin nggak bisa pulang gara-gara nggak ada angkot sama sekali," jelas Kila. "Trus kalian istirahat di mana?" "Aku sama Naufal nginep di rumah kosong," balas Kila lirih. Yana terperanjat. "Apa?!" dia meletakkan tangan di pinggang. Kila semakin tidak berani berucap. "Jangan bilang kamu tidur bareng sama Naufal," ujar Yana. "Eng-enggak kok, Mah." "Syukurlah," Yana dengan mudah langsung percaya. "Sana kamu cepet mandi. Udah bau asem," perintahnya. Kila mengangguk, lalu beranjak. *** Kila merebahkan diri. Tubuhnya menjadi segar seusai mandi. Ia bangkit lagi untuk mencari ponsel. Sudah 1 hari ia tidak membuka ponsel, Kila dibuat gatal. "Oh my good!" Kila memegang dadanya. Ia terkejut melihat 124 telfon dan 1000 pesan. Kebanyakan pesan dan telfonnya itu dari Dania. Dering telfon berbunyi lagi. Langsung saja Kila mengangkat dan menempelkan ponsel tersebut di telinganya. "Hp gue jadi ngelag gara-gara sms yang dikirim lo." Suara Dania terdengar heboh di sebrang sana. "Kil, lo nggakpapa kan? Lo sehat? Fisik lo nggak luka, kan? Gue denger lo semalem nggak pulang. Gue khawatir banget sampai-sampai gue berniat ke kantor polisi untuk ngelaporin kalau lo itu hilang tiba-tiba. Kil, jawab gue dong!" "Gimana gue mau mau jawab kalau lo-nya nyerocos terus." "Hehehe... intinya lo pulang dengan selamat, kan?" "Iyaa..." "Lain kali, sebelum pulang gue bakal ke lo dulu deh. Udah dulu ya, gue mau bantu ibu gue ngasih makan si Alden." "Lo masih pake nama adik gue buat namain kucing lo? Hah?!" Tut tut tut Sambungan terputus. "Ish!" Kila melempar asal telfonnya. *** "Gue denger lo kemarin enggak pulang. Lo ke mana?" tanya Dasha pada Kila yang baru saja datang. Kila tersenyum kikuk. Ternyata berita menghilang 1 malam, sudah tersebar. "Gue ke... anu..." 'Aduh, gimana ngomongnya.' batin Kila. Dasha tetap menatap. Mengharap jawaban dari Kila. "Anda sangat kepo," kata Dania mendadak muncul di antara mereka. "Gue kan cuma mau tau," ucap Dasha. "Mending jangan bahas kemarin deh, yang terpenting kan, Kila sekarang udah ada." balas Dania. *** "Mamah gue curiga kalau lo ngapa-ngapain gue kemarin," Kila melipat tangan di d**a. "Ya... berarti dia sayang sama lo dong. Beda sama gue," Kila mengalihkan pandangan ke arah Naufal. "Loh, emangnya kenapa? Orangtua lo sama sekali nggak peduli?" "Bukannya nggak peduli. Orangtua, adik sama kakak gue nggak ada di rumah waktu gue pulang," Naufal meraih botol yang berisi es teh, lantas menyedotnya. Tatapannya jengah. "Uch... uch... uch... sabar ya, minus." "Sampai kapan lo nyebut gue minus?" tanya Naufal ketus. "Sampai lo berhenti jadi guru privat gue." "Ternyata bicara sama lo bukannya bungah, tapi malah nambah penderitaan gue." Naufal dari duduknya. Ia sedang tidak mood mengajar Kila sekarang. "Eits, tunggu. Lo melupakan kewajiban," Kila menghadang Naufal. "Dih, gue bukan suami lo," Pletakk Kila menjitak kening Naufal. "Pikiran lo kayaknya harus dibenerin. Mikir kok kejauhan," "Jangan kaya gitu, Kil. Siapa tau aja, lo sama Naufal jodoh."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN