Aku memeluk lututku sendiri. Aku juga sengaja duduk dekat-dekat dengan Abian karena takut, bukan hal lain.
"Kita sampai kapan melek kaya gini?" tanyaku membuka keheningan.
"Gue belum ngantuk." jawab Abian lirih.
"Ini baru pertama kalinya. Gue enggak pernah ke tempat se gelap ini sebelumnya." ujarku. "Gue yang salah. Seharusnya gue enggak bikin rencana kaya gini." lanjutku sangat lirih.
"Apa lo bilang?"
Mampus! Abian tidak boleh mendengar perkataanku tadi. Bisa-bisa aku diamuk.
"Apa? Gue enggak bilang apa-apa kok."
"Aneh."
Argh! Ingin aku memakinya, namun tempat ini semakin gelap. Suasana juga tidak mendukung.
"Gue takut." Aku memeluk lutut erat-erat.
***
Suara ayam berkokok samar-samar terdengar. Aku mengerjapkan mata. Hari sudah pagi. Aku menguap. Aku baru sadar ternyata se malaman aku tertidur di bahu Cowok itu. Aku melihat Abian, ia masih tertidur rupanya.
Aku baru teringat! Hari ini hari selasa. Tidak mungkin jika sekolah ini libur. Aku panik. Semoga saja hari ini tidak ada yang ke gudang. Tapi, aku ingin masuk sekolah. Aku harus menunggu gudang ini dibuka terlebih dahulu. Aku rapih kan rambutku yang sedikit berantakan. Sialnya aku tidak membawa bedak, liptint, ataupun kaca. Wajahku pasti sudah pucat.
Terdengar suara dari pintu gudang sana. Aku yakin itu Pak Satpam. Akhirnya aku bisa keluar dari gudang ini!
Selepas mendengar suara langkah kaki menjauh, aku bersiap-siap.
"Hey..." aku menguncang-guncangkan pundak Abian.
Abian mengusap wajahnya. Ia tampak terkejut.
"Udah pagi. Pintunya udah dibuka." ujarku. Abian segera berdiri, tak lupa dia menggendong tasnya.
"Kita ke UKS dulu buat obatin luka lo, ya." lirihku. Sebelum keluar, aku menyembulkan kepala. Menengok ke kanan ke kiri untuk memastikan tidak ada murid di sana. Dirasa aman, aku keluar disusul Abian. Kami sekarang seperti maling.
Aku berjalan ke UKS. Sekolah masih terlihat sepi. Aku melihat jam tangan, ternyata sekarang masih pukul enam pagi.
Tak memakan waktu yang lama, Kami akhirnya sampai di UKS. Abian duduk di ranjang sana, sedangkan aku mengambil kotak P3K.
Aku membuka kaus olahraga ku yang dililitkan di tangan Abian. Aku ngilu. Luka Abian ternyata cukup parah. Kebetulan aku mengambil jurusan kesehatan, jadi aku tahu apa yang harus dilakukan.
"Tahan ya. Ini sakit, tapi cuma sebentar kok." cakapku berusaha membuat Abian tenang.
"Sshh..." Abian mendesis. Aku pelan-pelan mengoleskan salep antibiotik ke luka itu. Setelah selesai, aku meraih perban untuk membalut luka tersebut. Lega rasanya. Akhirnya selesai. Aku menutup kotak P3K, mengembalikannya ke tempat semula.
"Gue cabut ke kelas, ya." ucapku. Aku mengambil kaus olahraga yang terletak di samping Abian, memasukkannya ke tas. "Oh ya, lo jangan cerita ke siapapun kalau kita terkunci di gudang. Okay?"
"Tentu."
AUTHOR POV
Kila berjalan ke kelas. Sedangkan Abian masih terdiam sembari terus mengamati tangan yang kini sudah diperban.
Ketika Abian hendak keluar juga, sebuah benda mendadak menggelinding muncul di depannya. Benda itu merupakan ikat rambut Kila. Kenapa Gadis itu lupa membawanya.
Abian berjongkok, mengambil ikat rambut itu, kemudian meletakkannya di dalam tas. Dia akan mengembalikan benda itu jika sudah dicuci nanti.
Dania terheran-heran. Tadi dia melihat Kila keluar dari UKS dan sekarang, ia menampak Abian juga keluar dari ruangan itu. Apa yang Mereka berdua lakukan di UKS? Dan, kenapa Kila berangkat se pagi ini.
"Pikiran gue enggak boleh negative dulu." monolog Dania. Dia mengejar Kila seraya berdengking heboh memanggil nama Kila.
"Dateng-dateng udah teriak-teriak. Berisik tau." risih Kila.
"Bibir lo kok pucat? Lo belum sarapan? Trus kenapa rambut lo sekarang enggak diikat lagi?" cecar Dania. Matanya memandang Kila dari atas sampai bawah.
Kila gelagapan. Tak tahu harus menjawab apa.
"Kenapa lo ke UKS sama si Abian itu? Kalian habis ngelakuin apa di sana?"
"Gue habis obatin tangan Abian yang luka. Lo jangan negative thinking dulu napa." Kila berusaha untuk tidak gugup jika gugup, sudah pasti Sahabatnya itu malah tambah curiga.
"Kila!" Dasha berlari mendatangi orang yang ia panggil itu.
"Maaf, ya. Gue enggak bisa ke gudang kemarin karena Ayah tiba-tiba nelefon dan bilang gue harus pulang ke rumah secepatnya karena nenek sakit." jelas Dasha penuh penyesalan.
"Iya. Enggakpapa. GWS buat nenek lo." respons Kila.
"Hah? Ke gudang? Buat apa kalian ke sana?" Dania kebingungan. Pagi ini cukup aneh baginya.
Kila dan Dasha saling menatap. Mereka bingung untuk mencari alasan yang tepat.
***
Seisi murid ke tempat duduk masing-masing sehingga menimbulkan bunyi riuh yang memekakkan kuping. Detik kemudian, setelah seorang guru datang, barulah keadaan menjadi senyap.
"Selamat pagi anak-anak."
"PAGI, BU..." jawab seisi kelas serempak.
"Keluarkan buku kalian. Hari ini Ibu akan membahas materi di halaman 120."
Gawat! Kila tidak membawa bukunya. Isi tasnya hanya ada buki-buku sesuai jadwal kemarin.
"Kenapa lo bengong?" tanya Dania.
"Dan, bukunya barengan, ya. Gue tadi lupa bawa buku Matematika."
"Sejak kapan lo jadi pelupa?"
"Sejak hari ini. Gue enggak fokus karena semalam habis marathon drakor." Kila berbohong. Dia tidak mau Dania mengetahui yang sebenarnya.
"Ya udah." Dania meletakkan buku matematika tebal itu di tengah agar Kila bisa ikut melihat.
Dania memperhatikan wajah Sahabatnya itu dari samping. "Kil, lo enggak bedakan? Muka lo kelihatan natural banget."
"Gue bedakan kok, cuma tipisan aja."
***
Tak hanya Dania, Naufal pun merasa heran pada penampilan Kila.
"Lo paham?" tanya Naufal menyudahi pembelajaran Mereka.
"Paham, pak guru." Kila meletakkan tangan di jidat, lalu terkekeh.
Mereka berdua memang aneh. Kemarin, keduanya bertengkar, tapi hari ini Mereka bersikap seakan-akan tidak terjadi apapun kemarin.
"Seragam lo kok kusut? Belum disetrika?"
"Hah? A-apa?" degup jantung Kila berpacu cepat.
"Kemarin gue enggak lihat lo di gerbang. Lo mampir ke mana sebelum pulang?"
"A-anu... anu... gue..." ayo, Kila! Pikirkan alasan masuk akal. Jangan sampai Naufal curiga padanya.
"Gue habis ke kelas sepuluh."
"Kelas sepuluh? Buat apa?" ekspresi Naufal begitu datar. Sangat.
"Buat nagih uang kas OSIS." jawab Kila asal.
"Kakak serius? Kapan Kakak datang ke kelas aku?"
Kila membulatkan mata. Itu suara Gita, adik kelasnya. "Kakak datang kok. Kamu mungkin udah pulang kali,"
"Enggak deh, Kak. Aku kemarin piket cukup lama dan Kakak enggak kelihatan dateng tuh, ke kelas aku."
Adik kelasnya ini memang susah diajak kerja sama. Alhasil, Kila gelagapan. Naufal terus menatapnya dengan tatapan horor sekaligus datar. Sangat menyebalkan.