KILA POV
"Hah... hah... hah..." aku berusaha mengatur nafasku sendiri. 20 menit aku berteriak-teriak dan mengetuk pintu, hasilnya tetap sama. Tidak ada perubahan. Aku merogoh tas untuk mengambil air minum yang selalu ku bawa. Setelah dapat, aku langsung menengguk setengah. Tenggorokanku lega.
Aku perhatikan Abian yang sedang memanjat. Dia rupanya berusaha keluar dari jendela. Jendela terbuat dari seng yang sudah berkarat. Di sana juga terdapat beberapa paku. Aku dengar, ada murid yang diamputasi tangannya sebab terinfeksi setelah terkena seng yang ada di sana.
"Percuma. Jendela itu enggak bisa dibuka." tegurku. Abian terlihat tidak menghiraukannya. Aku kesal. Lihat saja kalau sudah terjadi apa-apa, aku tidak akan menolongnya.
Ya, Tuhan... mimpi apa aku semalam. Terjebak di satu ruangan dengan orang yang paling ku benci.
"Akh..."
Aku tergemap. Itu suara Abian. Langsung saja aku menghampiri dia.
"Kenapa lo?"
Tak ada jawaban.
Tes
Ada tetesan air yang mengenai keningku. Aku merabanya dengan tangan. Aku terkejut. Tetesan itu bukamlah tetesan air, melainkan darah.
"I-ini darah lo?" tanyaku terbata-bata. Abian terdengar mendesis kesakitan. Aku jadi tidak tega melihatnya. Aku takut dia terinfeksi, kemudian tidak! Itu tidak akan ku biarkan terjadi.
Abian nampak turun sambil memegangi telapak tangan kanannya yang berlumur darah. Aku langsung mengambil tas, membukanya dengan tergesa-gesa lalu meraih kaus olahraga ku dan botol air minum yang masih tersisa. Aku meraih tangan Abian yang terluka itu, lalu menyiramkan air untuk membersihkan.
"Ini bisa infeksi kalau enggak diobatin." sungguh. Aku merasa menyesal sekaligus bersalah. Mataku mulai berkilauan air mata. Melihat darahnya saja sudah membuatku ngilu.
Abian terdiam saja. Dia terus menatapku. Aku berusaha untuk tidak menghiraukan.
Entah kenapa, hatiku terasa perih kala melihat darah yang keluar semakin deras. Dengan sigap, aku mengikat tangan Abian yang terluka dengan kaus olahragaku agar pendarahan bisa berhenti. Selepas selesai, aku mendesau lega.
Tapi, kenapa air mata ini terus saja mengalir?
"Makasih," aku terkesiap mendapati Abian sedang mengusap pipiku. Dia juga tersenyum padaku. Ini pertama kalinya aku melihat Abian tersenyum. Wajahnya terlihat lebih tampan.
"Sama-sama. Lo bisa balikin baju olahraga sama ikat rambut gue nanti." jawabku.
Sehabis itu, tidak ada lagi pembicaraan antara Kami berdua. Abian terlihat merogoh-rogoh tas sepertinya dia mencari sesuatu. Detik kemudian, dia menatapku. Aku kontan mengalihkan pandangan. Takut dia mengetahui kalau aku memerhatikannya diam-diam.
"Lo enggak bawa hp?" tanya dia.
Aku menggeleng pelan.
Adzan maghrib terdengar berkumandang di masjid sana. Hari sudah menjelang malam. Parahnya, di gudang sama sekali tidak ada lampu.
Aku khawatir. Semoga saja orangtua ku tidak pulang ke rumah hari ini. Aku baru teringat. Aku harus mengajukan pertanyaan itu selagi momennya pas seperti ini.
"Kenapa lo selalu benci Dasha?" aku bertanya spontan. Aku menoleh ke samping. Abian tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dia terlihat tenang.
Dia tidak menjawab. s**l!
"Ngatain gue budeg, tapi lo sendiri juga budeg." misuhku mengungkit kejadian pagi tadi.
"Cinta itu enggak bisa dipaksain." jawab Abian akhirnya.
Aku sedikit bingung akan jawabannya itu.
"Gue sama sekali enggak suka dia apalagi cinta, tapi Dasha maksa gue buat cinta sama dia. Gue benci orang model kaya gitu."
Pernyataan Abian cukup masuk akal di telingaku, tetapi bagiku, dia tetap salah.
"Seenggaknya, kalau lo enggak suka, lo jangan bersikap kasar ke dia. Bisa enggak sih?"
"Kalau dia enggak dikasarin, dia deketin gue terus." Abian sepertinya sudah terpancing emosi. Aku harus lebih hati-hati lagi dalam bertanya jika tidak, bisa-bisa Abian melakukan sesuatu buruk padaku.
"Kalian udah tunangan kan? Kenapa lo enggak putusin aja tunangannya?"
"Orangtua angkat gue enggak akan terima itu. Gue enggak mau buat Mereka kecewa."
Abian terlihat menghela nafas. Aku jadi kasihan.
"Gue juga enggak mau bikin kecewa orangtua, tapi permintaan orangtua gue itu nilai tinggi. Bukan maksa anaknya untuk menyukai seseorang."
"Gue mau turutin permintaan orangtua, tapi permintaan Mereka bikin gue tertekan. Kalau aja gue udah bisa kerja sendiri, gue enggak bakal bergantung sama Mereka." ujar Abian.
"Emang lo enggak bisa buka hati buat Dasha? Dia setiap hari curhat ke gue kalau dia suka banget sama lo."
"Enggak akan." dia menolak mentah-mentah saranku.
"Satu hari aja."
"Enggak." lagi-lagi Abian menolak.
"Satu menit? Satu detik? Seperempat menit?" cecarku asal.
"Selamanya enggak akan pernah."
Aku gemas. Abian tipe cowok paling menyebalkan yang pernah ku temui.
"Lo emang cowok enggak ada hati ya," ejekku.
"Gue punya hati. Kalau enggak, gue udah meninggal sekarang."
Abian menjengkelkan! Maksudku itu perasaan bukan hati organ tubuh. Aku berusaha memendam emosiku daripada nanti aku kemasukan setan yang ada di sini.
Mataku melihat luka yang dibalut kaus itu. Abian terlihat tenang-tenang saja. Aku jadi penasaran.
"By the way, luka lo udah enggak sakit lagi?"
"Enggak. Ini udah baikan."
"Lo enggak sakit gitu?" tanyaku lagi.
Abian menggeleng pelan.
"Kita yakin mau nginep di sini? Gelap. Ada nyamuknya lagi." keluhku. Aku menabok lengan di mana nyamuk jahat sedang menghisap darahku.
"Gue udah dobrak, tapi gagal. Gue juga udah buka jendela itu, tapi malah tangan gue berdarah." Abian mengungkit-ngungkit usahanya. Aku mendecak kesal.
"Gue juga udah teriak-teriak sama gedor pintu. Tenggorokkan gue sakit tau."
"Udah. Enggak ada faedahnya kalau berdebat." Abian berdiri.
"Lo mau ke mana?" aku memegang tangannya.
"Cari sapu."
"Gue ikut." jujur, aku merasa takut sekali. Terlebih lagi, di belakang gudang ini merupakan halaman belakang sekolah yang sudah terkenal dengan cerita horror nya.
Setelah mendapatkan sapu, Abian menyapu sebagian gudang itu.
"Lo tidur di sini dan gue di pojok sana."
Apa Abian sudah gila? Jaraknya terlampau jauh. Aku jelas tidak mau lah. Kalau ada apa-apa kan, nanti aku harus repot berjalan ke pojokan itu.
"Enggak! Gue mau tidur di samping lo aja." tolakku.
"Hah? Yakin? Lo enggak takut gue bakal nyerang lo?"
Ya ampun! Pikiranku jadi ke mana-mana. Aku tidak pernah berpikir seperti itu sebelumnya. "Enggak. Kalau lo kaya gitu, gue bakal pukul lo sampe bonyok!" ancamku.
"Bercanda. Lagian juga gue enggak bakal berbuat kaya gitu. Ogah."
"Lah, trus lo kenapa bilang itu tadi?" aku melipat tangan di d**a.
"Gue cuma mau ngetes lo." Abian beralih ke sudut pojok sana. Dia duduk. Aku pun menyusulnya.
Hari semakin lama semakin gelap. Ruangan yang ku pijaki ini menjadi gelita.
Kami berdua diam. Tak ada yang memulai pembicaraan karena tidak tahu harus membicarakan apa.
Hanya suara jangkrik yang terdengar. Menambah suasana menyeramkan.