Bukan Kila namanya kalau menyerah begitu saja. Dia tahu dari Dasha kalau Abian itu tidak sarapan setiap pagi. Oleh karena itu, Kila menyuruh Dasha untuk membeli makanan. Ia mencoba memberi makanan itu untuk Abian. Siapa tahu, hari ini diterima oleh Cowok itu.
"Serahin semuanya ke gue. Pokoknya lo jangan bicara apapun ke dia, okay? Lo cuek aja." ujar Kila. Seketika Dasha mendesau lega.
"Iya,"
"Eh, itu makanan buat gue ya? Sini. Gue laper banget. Emak gue lagi pergi ke rumah nenek sejak kemarin jadi gue sama sekali enggak ada yang masakin." keluh Diana.
"Dateng-dateng udah curhat aja lo." sinis Kila seraya mengamankan satu bungkus makanan tersebut.
"Buruan." Dania berusaha meraih bungkusan itu.
"Eits, ini bukan buat lo." cegah Kila. "Sa, lo temanin Dania ke kantin ya," dia mengibrit lari. Dania semakin penasaran.
***
"Bian!" teriak Kila lumayan keras. Untung saja belum ada satu murid pun di sana.
Abian memutar bola mata. Apa Gadis itu tidak lelah mengejarnya terus? Dia mempercepat langkahnya, akan tetapi Kila terlanjur berhasil mencegahnya.
"Dari Dasha! Buat lo!" serunya ketika sudah ada di depan Abian.
"Udah gue bilang berkali-kali. Gue enggak suka Dasha. Lo budeg atau d***u sih?" sungut Abian.
Kila diam saja. Tangannya terus menyodorkan bungkusan itu seraya tersenyum manis.
"Pergi!"
Kila menggeleng.
"Pergi! Gue enggak mau."
Lagi-lagi Kila menggeleng.
"Lo pilih usir kasar atau lembut?"
"Lembut."
"Ya udah. Buang makanan itu."
"Enggak. Mubadzir."
"Lo makan aja sana."
"Enggak. Gue udah kenyang."
"Sana!"
"Enggak."
Kila tetap bersikukuh. Ia tidak akan pergi sampai Abian menerima makanan yang ia bawa.
"Tapi lo ka-"
Belum selesai Abian berbicara, tubuhnya ditabrak dari belakang oleh seseorang hingga Abian tak sengaja membuat Kila ikut-ikutan terjatuh. Dia juga tak sengaja menindih tubuh mungil itu.
"Lo lihat kan? Mereka saling suka. Seiring berjalannya waktu, perasaan bisa berubah, Fal," ujar Hani ketika akan melewati Adiknya itu.
"Jangan ikut campur." tegur Hani kala melihat Naufal akan menghampiri Kila dan Abian.
"Ma-maaf, Kak. Aku tadi dikejar Vita sampai-sampai aku enggak sengaja nabrak." takut diamuk, Adik kelas Kila bernama Rere itu melangkah cepat.
Naufal tidak bisa menyaksikan itu lebih lama lagi. Dia membalikkan badan. Hatinya merasakan perasaan aneh. Dia tak tahu apa arti perasaannya sekarang ini.
Setelah mata Mereka bertemu beberapa detik, Abian langsung berdiri. Baru pertama kali dia mengalami hal ini.
Kila gugup. Ia berdeham beberapa kali. Keringatnya juga sudah mulai keluar di keningnya. "Pokoknya lo harus terima ini. Terserah mau dimakan atau enggak. Yang penting, jangan dibuang."
***
"Kenapa lo sama Abian sedeket itu tadi?" tanya Dasha. Raut mukanya menunjukkan rasa tidak suka.
"Rere enggak sengaja nabrak Bian, jadi pacar lo itu jatuhnya ke gue. Lo jangan salah paham, Sa. Masa iya, gue ngerebut cowok lo." terang Kila. Dasha tetap merasa cemburu.
"Lo cemburu ya?" ledek Kila. "Gue salut sama lo, Sa. Bian benci banget sama lo, tapi lo tetap cinta sama dia. Gue jadi iri deh."
"Cari pacar. Nanti enggak iri." jawab Dasha.
"Belum ada yang cocok. Semua cowok suka ke gue hanya karena gue cantik. Kalau gue udah nenek-nenek, wajahnya keriput, apa iya Cowok masih suka ke gue?"
"Masih kalau cowok itu benar-benar tulus ke lo."
***
Bel pulang sudah berbunyi. Kila masih menunggu Dasha untuk datang ke gudang. Dia merencanakan sesuatu dan tentunya agar Dasha dekat dengan Abian.
'Lo kok lama banget? Cepetan dateng ke sini sebelum Bian dateng. Nanti rencana kita bisa gagal lagi.'
Selesai mengetik pesan, dia meletakkan kembali ponselnya ke saku. Sering kali Kila menengok jam tangan yang terpasang cantik di tangan kanannya.
5 menit
10 menit
Argh! Dasha mengapa sangat lama sekali? Kila berdiri. Dia hendak beranjak pergi dari sana, namun Abian malah berjalan ke arahnya! Ah, bukan, tapi ke arah gudang! Beberapa menit yang lalu sebelum dia ke sini, Kila menyuruh guru olahraga untuk memerintah Abian meletakkan matras bekas ke gudang. Awalnya guru olahraga itu menolak, tapi apalah daya. Dia takut kehilangan pekerjaannya.
Kila mondar-mandir tak jelas. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk masuk ke gudang. Ia bersembunyi di sudut paling pojok agar tidak kelihatan.
Kreet
Suara pintu dibuka mulai terdengar.
"Abian? Lo ngapain di sini?"
"Gue mau naruh ini di dalam sana." jawab Abian. Kila sama sekali tidak tahu siapa orang yang menanyakan Abian itu.
"Hati-hati ya. Katanya di dalam angker."
Perkataan itu cukup membuat Kila gemetar ketakutan.
Suara langkah yang kian mendekat membuat Kila memejamkan mata. Takut ketahuan.
Brugh
Matras yang ukurannya lumayan besar itu berhasil diletakkan. Abian menepuk kedua tangannya, berusaha menghilangkan debu. Tunggu, perhatiannya kini teralihkan pada bayangan yang ada di sudut pojok sana. Apa benar ada Murid di sini? Atau hanya hayalannya saja?
Kila mengerjapkan mata. s**l, mengapa Abian malah melangkah mendekat?
"Siapa lo?" tanya Abian mulai merasa was-was.
Grepp
Lengan Kila dipegang oleh seseorang. Dia berusaha untuk melepaskan pegangannya, namun mengapa tenaga Abian ini sangat kuat?
Saat Abian menatapnya lekat, entah mengapa Kila jadi membeku. Mata Mereka kembali bertemu seperti tadi pagi.
"Izinkan daku mencintaimu selamanya..." Pak Tio --- satpam sekolah, bersenandung sesuai dengan lagu yang kini sedang didengarkannya. Ia menekan lebih dalam headset nya. Pak Tio mengeluarkan kumpulan kunci yang berada di sakunya. Dia memilih kunci gudang. Dengan sigap, ia mengunci ruangan itu.
Tatapan Mereka berdua seketika buyar. Menyadari pintu gudang sudah ditutup, Kila belingsatan begitu pun Abian.
Tok tok tok
"Buka!" teriak Kila sekencang mungkin. Pintu diketuk-ketuk sekuat tenaga oleh tangan mungilnya.
"PAK SATPAM! ADA ORANG DI DALAM"
"SIAPAPUN YANG ADA DI LUAR, TOLONG BUKAIN PINTUNYA!"
"TOLONG GUE!"
"TOLONG!"
Ah, sudah. Tenggorokannya sudah sakit sekarang. Bisa-bisa suaranya nanti hilang. Mengelih Abian yang santai-santai saja, Kila menjadi geram.
"Bantuin gue dong! Lo mau kita ke jebak di sini semalaman?" dongkol Kila.
"Minggir." titah Abian. Kila justru melongo seperti orang d***u.
"Gue mau dobrak." imbuh Abian.
Benar juga kata Cowok iblis itu. Dia berjalan menjauhi pintu.
Abian melangkah mundur, ia berlari ke arah pintu seraya menyiapkan tendangannya.
Brak
Nihil. Pintu itu tidak terbuka sama sekali. Kila mati-matian menahan tawa. Gayanya begitu angkuh, tapi lihat apa yang terjadi sekarang.
"Mending gue yang beraksi."
Kila kembali menggedor-gedor pintu sambil berteriak kencang tanpa henti. Abian menutupi kedua telinganya sungguh sangat berisik.