Part 23

999 Kata
Kila dengan sigap beralih ke depan Naufal. "Tunggu. Satu menit aja. Please... nanti gue balik lagi ke lo. Boleh ya?" mohon Kila mengatupkan kedua tangan seraya memperhatikan wajah Cowok itu. "Enggak." "Ntar gue enggak bakal bilang ke ayah kalau lo enggak ngajar hari ini." ujar Kila. "Gaji lo enggak bakal dipotong." tambahnya. "Ini bukan masalah gaji, tapi ini masalah tanggung jawab gue. Gue enggak mau nilai ujian lo rendah kaya tahun kemarin." Naufal berusaha menjelaskan, namun Gadis itu seakan-akan acuh. "Nilai gue enggak akan rendah. Gue janji." Kila melihat ke arah Abian. Gawat! Laki-laki itu sepertinya akan kembali ke kelas untuk ganti baju. "Udah, ah! Gue nanti ke sini lagi." dia dengan cepat berlari untuk menghambat Abian. "Biaan! Gue mau ngomong sesuatu." dengan sigap, Kila memegang lengan Abian. Refleks Abian menoleh ke belakang. Dia terpesona dengan penampilan baru Gadis itu. "Mau apa lo? Lo mau cari gara-gara lagi?" tukas Abian. "Enggak. Gue mau kasih ini. Ini dari pacar lo." Kila meletakkan botol tepat di telapak tangan Abian. Awalnya Kila lega sebab Abian terlihat menerima minuman itu, tapi dugaannya ternyata salah. Abian melempar botol itu ke bawah hingga air di dalamnya tumpah. "Lo-" "Gue enggak suka makanan, minuman atau apapun dari teman lo itu. Inget baik-baik. Bila perlu, lo tulis di jidat sekalian." cicit Abian. Kila justru mendongak. Wajahnya seperti menantang dengan mata berkaca-kaca. "Dasha pernah buat salah apa ke lo? Lo enggak hargain kerja keras dia?" "Lo jangan ikut campur. Gue benci." kedua tangan Abian mendorong bahu Kila cukup kencang. Kedua mata Gadis itu membulat, terbelalak. Dia sudah pasrah jika jatuh ke tanah. Mungkin habis ini Kila harus membeli seragam baru lagi. Tapi tunggu, kenapa dirinya tidak jatuh-jatuh juga? Perlahan, kepalanya mendongak. "Naufal?" Yang disebut namanya hanya berdeham. Ia menegakkan kembali tubuh mungil Kila. "Dasar pengecut!" misuh Naufal pada Abian yang masih diam di tempat. Ingin dia melontarkan ribuan makian pada Abian itu, namun ia tidak ingin membuat mulutnya berdosa. "Cupu." balas Abian mengejek. Naufal mengepal erat tangannya. "Iya, gue cupu, tapi gue bukan Cowok pengecut kaya lo." setelah itu, ia menyeret Kila menjauh dari sana. Abian menggertakkan giginya. Dia menendang botol yang tadi dia buang. Tak peduli dengan mata semua murid yang memperhatikan Mereka, Naufal terus menarik Kila ke perpustakaan. Ia tidak melepaskan genggamannya walaupun sebentar. Sesampainya di tempat yang dituju, Naufal baru melepaskan genggaman. "Ngapain lo deketin dia?" "Bukan urusan lo." jawab Kila nampak sebal. "Lo aneh." kelakar Naufal. "Karena?" Kila memicingkan mata. "Lo kemarin benci Cowok itu, kenapa sekarang lo malah kaya lintah ke dia?" "Gue bukan lintah! Gue manusia." "Bagi gue, lo sama lintah tuh enggak ada bedanya. Lo nempel terus ke Abian." "Apa lo bilang? Lo sebut gue lintah?" Kila mengusap wajahnya. "Gue tanya, apa hak lo sampai lo ngatur-ngatur gue? Lo bukan teman, sahabat apalagi pacar. Kenapa lo ngatur-ngatur gue? Jangan mentang-mentang lo guru privat gue, lo jadi bersikap seenaknya." Naufal terdiam seribu bahasa. Memang benar apa kata Kila, namun di dalam hatinya, ia merasa bertanggung jawab penuh dan juga dia tak rela jika Kila diperlakukan kasar seperti tadi. "Kalau lo coba halangin gue, gue enggak bakal mau jadi murid lo lagi. Gue bakal lapor ke ayah." Kila tak bisa menahan emosinya lagi. Dia memilih untuk pergi. Bahunya menabrak kasar bahu Naufal. Lusi bersembunyi di balik pintu sebab ia sedari tadi menguping pertengkaran Mereka. Ada rasa senang dan kecewa. Senangnya, Naufal dan Kila bertengkar. Kecewanya, Naufal sangat peduli sekali pada Gadis sok cantik itu. Dia takut, sahabatnya itu ada perasaan untuk Kila. "Fal, kamu kenapa dimarahin dia?" tanya Lusi. "Enggak. Cuma masalah sedikit." Naufal mendudukkan diri di bangku. Ia membuka buku, berusaha untuk bersikap tidak terjadi apa-apa. "Beneran?" tanya Lusi lagi. "Kalau ada apapun, kamu boleh cerita ke aku kok. Aku enggak akan bilang ke orangnya. Tenang aja." "Enggak perlu, Lus." Naufal tersenyum singkat. "Lusi!" tiba-tiba Fardo sudah berdiri di pintu perpustakaan. Lusi spontan melongok. Mendapati Kakaknya terlihat marah sekali, ia langsung pamit le Naufal. Naufal tentunya membolehkan. "Kakak ngapain ke sini sih?" bisik Lusi setelah agak jauh dari perpustakaan. "Udah gue bilang berapa kali, gue enggak setuju lo deket-deket sama cowok minus itu!" gertak Fardo. *** Untuk pertama kalinya Hani mendatangi Adik Laki-lakinya itu. Dia satu sekolah dengan Naufal, tapi Hani jarang bertemu sebab kegiatan kelas 12 sangatlah padat. Tidak seperti Naufal yang masih kelas 11. Dan juga, Hani sering menghabiskan waktu dengan teman sekelasnya ketika istirahat. "Gue lihat, Kila nangis. Lo ngelakuin apa ke dia?" Hani menarik bangku, kemudian duduk. "Lo ngelarang dia buat dekat sama Abian ya?" Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini? batin Naufal. "Tumben ke sini. Mau minta uang jajan?" Naufal yang mengalihkan topik penbicaraan, membuat Hani geram. "Ih! Lo itu benar-benar adik nyebelin ya? Kenapa gue harus saudaraan sama lo?" Hani menghela nafas. Berusaha untuk menyabar. "Dengar ya, lo enggak boleh ngelarang Kila buat deket ke siapapun. Lo sadar diri kan?" lanjutnya nyelekit. Naufal malah mengeluarkan uang di sakunya, lalu meletakkan uang tersebut tepat di depan Hani. "Ini sisa uang gue. Lo bisa pakai. Gue enggak akan minta ganti." "Matahari!" Hani sebenarnya tidak ingin memanggil itu, namun emosinya kini sudah sampai diubun-ubun. "Kenapa? Takut kena sinar matahari?" lagi-lagi Naufal bersikap seperti orang bodoh. "Gue bilang sekali lagi," "Lo jangan ngatur-ngatur Kila!" "Lo enggak boleh kaya gitu, kecuali lo pacarnya!" "Inget itu!" Hani pergi begitu saja. Naufal mengacak rambutnya frustasi. Apa yang dia lakukan begitu salah? Padahal, Naufal hanya ingin Kila tidak terluka. Itu saja. "Ada aku. Walaupun semua orang nyalahin kamu, tapi aku enggak bakal ikut-ikutan." Pundak Naufal terasa disentuh. Ia yakin di belakangnya itu Lusi sebab suara tadi sangat familiar di telinganya. "Kamu udah makan belum sih?" tanya Lusi. Naufal menggeleng. "Kita ke kantin atau aku yang beliin makanan buat kamu?" Lusi hendak berjalan keluar. Naufal segera mencegahnya. "Temanin gue." pinta Naufal. Mereka berdua saling menumpahkan unek-unek yang selama ini Mereka pendam. Kadang-kadang Lusi ikut kecewa mendengar curahan Naufal begitupun sebaliknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN