Part 22

1012 Kata
"Anu... gue... teman... ya! Gue ke sini mau nungguin teman kok." gugup Hani. Salahnya dia tidak menyiapkan alasan terlebih dahulu. "Teman Laki-laki?" tanya Naufal curiga. "Kepo lo, ah!" Hani menabok lengan Naufal. "Pelayannya mana? Gue mau pesan nih." Hani duduk ke tempatnya semula, matanya kemudian mengarah ke sudut restoran. Sampai akhirnya ada Cewek yang sepertinya lebih tua 3 tahun dari Hani menghampiri tempat duduk Naufal. Wajah Perempuan itu terlihat ramah sekali. "Anda mau pesan apa?" tanya Pelayan itu tepatnya pada Hani. "Dua botol boba, satu botol yogurt, dua loyang pizza, tiga bungkus martabak manis, satu es teh, empat centuky, empat mangkok bakso beranak, dua bungkus burger, satu gelas kopi mocacino sama kopi susu." Hani tersenyum. "Udah. Segitu aja, Mbak." Mulut Naufal menganga. Apa Kakaknya itu sudah tidak waras? "Eits, jangan dengarin dia, Mbak. Pesanannya satu botol yogurt sama satu burger aja." cegah Naufal. "Gue yang bayar! Tenang aja. Jangan banyak bicit lo." Hani hendak menabok lagi lengan Naufal, tapi Adiknya itu berhasil menghindar. "Hih! Dasar adik laknat!" geramnya. "Maaf, sebenarnya pesanan Anda apa saja?" tanya Pelayan itu sopan. "Adik durhaka!" "Gue bakal aduin lo ke Mamah nanti!" "Lo ngapain di sini?! Lo mau pacaran ya?" Ujar Hani bertubi-tubi. Naufal diam bagaikan orang bisu. Pelayan restoran yang melihat itu menghela nafas. Berusaha bersabar. "Ekhemm... ekhem..." Hani kontan menoleh. Ia kira Pelayan itu sudah pergi. "Pesanannya sesuai yang saya bilang ya," "Oke," "Eh, tunggu!" sergah Hani mencegah. Refleks sang pelayan terhenti. "Ada apa?" "Mbak mau enggak, jadi adik ipar saya?" tanya Hani tanpa ragu-ragu. What! Kakaknya ini benar-benar sudah melewati batas. "Pergi aja sana, Mbak. Jangan dengar kata dia. Kakak saya penyakitnya lagi kumat." celetuk Naufal. Hani mengalihkan pandangan. "Ngaco lo." tinjauannya teralihkan kembali ke Pelayan. "Mbak mau?" "Maaf, saya sudah berkeluarga dan sebentar lagi akan mempunyai anak." Pelayan tersebut mengelus perutnya yang masih terlihat datar. Hani melongo tak percaya, sedangkan Naufal mendesau lega. *** Rumahnya yang hening membuat Kila lebih tenang menyelesaikan urusannya. Ia mencari di situs internet tentang emak comblang serta cara-cara agar bisa membuat Laki-laki menyukai perempuan. Saat itu juga dia catat poin-poinnnya. Dia juga menelefon Dasha untuk mempersiapkan benda yang harus dibawa besok. Ketenangannya terganggu saat Alden masuk! "Kakak..." panggil bocah Laki-laki itu. "Ada apa? Jangan bilang, mau BAB." "Enggak. Ada yang dateng. Alden disuruh orang itu buat panggil Kak Kila." jawab Alden polos. "Orangnya cewek atau cowok?" "Maksud Kakak?" Kila lupa bahwa Adiknya tersebut belum begitu mengerti. "Maksud Kakak, orangnya kaya Mamah atau Ayah?" "Mamah." Berarti perempuan? Tapi siapa? Yang jelas, itu bukan Dania sebab Kila tahu, sahabatnya selalu bilang-bilang terlebih dahulu. "Ayok, kita turun ke bawah." Kila meletakkan laptop yang tadi berada dipangkuannya. Dia meraih lengan Alden untuk menuntunnya. *** "Mau apa lo ke sini?" Naufal melipat tangan di d**a. Sesekali ia membenarkan kaca mata yang sudah turun dari matanya. Hani yang sedang makan pun tersendak. Ia segera meminum es teh yang ada di sana. "Jahat lo! Kakak lagi kesendak, lo malah diem aja." dongkol Hani. "Kakak mau apa?" tanya Naufal sekali lagi. "Lo harus buat Kila sama Abian saling suka!" tegas Hani. "Hah?" sungguh. Naufal dibuat terkejut dua kali oleh Kakaknya ini. "Kakak lagi kesurupan ya? Apa perlu Naufal panggil ustadz sekarang?" ledeknya. "Sembarangan! Kakak bicara beneran ini." bantah Hani. "Abian sering nyakitin Kila. Naufal enggak rela kalau Gadis sebaik dia dekat sama Cowok setan itu." tegas Naufal. Hani merasa tersentuh. Tapi, tidak sekarang. Dia harus fokus pada tujuannya. "Lo harus mau! Kalau enggak, lo enggak bakal dikasih uang jajan selama 6 bulan." "Terserah. Bahkan selama satu tahun Naufal enggak dikasih uang pun enggakpapa. Naufal gak mau buat seseorang menderita." "Siapa yang lo buat menderita? Lo justru buat Kila bahagia, Fal," Hani melemah. Tidak seperti sebelumnya. "Bahagia apanya? Kila jelas-jelas benci dan enggak suka si Abian." "Trus Kila suka ke siapa? Dia suka ke lo?" ceplos Hana yang membuat Naufal terbelalak. "Enggak." elak Naufal, tapi ucapan Kakaknya itu sepertinya benar. Buktinya ketika dia berada di dekat Kila, dia merasa gugup dan jantungnya berdegup tak beraturan. "Enggak apa iya?" Hani menaik turunkan alisnya. Menggoda. "Udah lah! Gue pulang." Naufal tidak bisa lama-lama di dekat Kakaknya. Bisa-bisa rahasianya terbongkar. "Pesanan Anda," Sang Pelayan datang membawa nampan yang berisi 1 gelas kopi mocaccino. Naufal menyeluk saku. Ia memberikan uang lembaran berwarna biru, kemudian diletakkan di nampan itu sembari mengambil kopi moccacino tersebut. "Heh! Gue masih mau bicara! Dasar Adik laknat lo ya! Gue sumpahin semoga lo kepeleset di jalan!" walaupun Kakaknya koar-koar, Naufal acuh. Dia tetap melanjutkan langkahnya. *** "Penampilan lo kok beda?" Dania pangling. Tumben Sahabatnya itu rambutnya diikat. "Jidat lo bening banget ya." lanjutnya meledek. "Ish!" Kila menabok lengan Dania. Bukannya memuji, tapi dirinya malah diejek seperti tadi. "Ampun mak jago." celetuk Dania spontan. "Argh... udahlah!" Kila melanjutkan langkah ke kelas. "Tungguin gue, kikil!" *** "Gimana? Lo udah siap?" tanya Kila pada Dasha tanpa mengalihkan pandangan dari Abian yang sedang memainkan bola basket. Semua murid cewek berteriak histeris melihat para Laki-laki gagah yang berkeringat. Bagi Mereka sangat sexy dan tampan, tapi lain dengan Kila. Dia malah menganggap itu menjijikan. Bisa kebayang bagaimana bau badan para Laki-laki itu. "Sa," panggil Kila. Yang dipanggil terlihat terpana akan sesuatu. Apalagi kalau bukan para murid cowok itu. "Dasha!" gertaknya lumayan keras. "Eh, kenapa? Lo udah siap?" Kila menepuk jidatnya. Seharusnya dia yang berkata seperti itu. "Botol." pinta Kila seraya meninjau ke arah benda yang sedang dipegang Dasha. "Hah? Ini? Buat apa? Jangan bilang lo mau nyiram dia pake air. Kasihan dianya, Kila." tukas Dasha. "Bukan, tante. Saya mau kasih air ini ke dia nanti kalau udah istirahat." Kila berbicara formal sekali sembari tersenyum kecut. "Oh, ya udah. Ini." Dasha mengajukan botol. Saat Kila akan ke bangku penonton tempat Abian berada, tiba-tiba Naufal muncul di hadapannya. "Waktunya belajar. Sebentar lagi lo mau ujian." ujar Naufal jelas, singkat dan padat. Kila tersenyum lebar. Akhirnya Naufal berbicara padanya. "Tapi, gue mau ad-" "Jangan buang waktu." Naufal memegang lengan Kila membuat Gadis itu sedikit tersentak. Ada perasaan aneh yang mendesir di tubuhnya. Yang jelas, Kila tak tahu jelas apa perasaan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN