Naufal tidak bisa menahannya. Dia memilih pergi tanpa menjawab pertanyaan Kila.
"Fal, kita ke kantin yuk." Lusi sudah menghadang di depan pintu.
"Ayo,"
Kila memperhatikan sinis Mereka berdua. Kenapa saat dirinya bertanya, ia malah dihiraukan oleh Cowok itu.
"Gue ikut!" sergah Kila bergabung di antara Mereka berdua.
Naufal terlihat menjauh dari Kila, sedangkan Lusi tersenyum tipis.
***
"Astaga. Dia kesurupan apa, tiba-tiba makan se meja sama Mereka." bisik Dania pada Dasha.
"Samperin aja,"
"Enggak. Itu anak pasti bakal nolak."
"Gue aja yang samperin ya," Dasha berdiri. Ia meminum es terlebih dahulu agar tenggorokannya tidak serat.
"Trus gue di mana?"
"Mau ikut?" Dasha menanya balik.
"Ogah." ucap Dania malas. Ia melanjutkan aktivitas makannya.
"Gue gabung boleh?" tanya Dasha yang baru saja sampai di sebelah bangku Mereka.
"Boleh," jawab Naufal.
"Gue boleh pergi dari sini?" tanya Kila pura-pura. Ia hanya mengetes apakah Naufal akan menjawab atau tidak. Dasha yang hendak duduk kini terhenti.
Tidak ada pergerakan mulut Cowok itu. Kila memicingkan mata. Apa maksudnya coba? Pertanyaan semua Gadis dijawab oleh Naufal kecuali, pertanyaan dirinya.
"Boleh kok," respons Lusi.
"Enggak jadi. Mager tau," cakap Kila cuek. "Duduk aja, tante. Enggak bakal ada kecoa kok di situ." ujarnya pada Dasha.
"Iya-iya."
Belum beberapa menit Dasha duduk, dia melihat ada Abian duduk di bangku sana. Dasha merasa gatal. Ia gatal ingin duduk di sebelah bangku Pacarnya itu.
"Lanjutin aja ya, gue mau pergi." pamit Dasha.
"Loh,"
Dania tersenyum lebar. Ia kira Dasha akan menghampirinya, namun ternyata salah. Sahabat barunya itu malah mendatangi si cowok iblis, Abian.
"Kenapa pesennya cuma itu doang?" tanya Dasha. Ia sengaja duduk berdekatan dengan Abian sampai-sampai kaki Mereka bersentuhan.
Seperti biasa, Abian acuh. Ia menganggap Dasha bagaikan hantu yang tak terlihat.
Kila yang melihat pemandangan itu merasa jenuh sendiri. Kenapa Dasha tetap menyukai cowok itu walaupun sudah dikasari beberapa kali?
"Lo budeg? Gue udah bilang. Jangan.deketin.gue." tandas Abian.
"Itu anak kenapa masih aja deketin tuh cowok." gerutu Kila gemas. Langsung saja dia melangkah cepat menuju pasangan bertolak belakang tersebut.
"Hey!" Kila menggebrak meja cukup keras menggunakan kedua tangannya.
"Lo enggak bisa halus ke cewek? Kalau sikap lo kaya gini, berarti lo sama aja menghina ibu lo." sergah Kila dengan penuh amarah.
Abian mendecak kesal. "Lo ngapain ganggu gue lagi? Oh, gue ngerti, wajah lo mau gue buat bonyok lagi?"
Kejadian itu terngiang lagi di kepala Kila. Membayangkannya saja sudah mengerikan apalagi sampai mengalaminya.
"Sa, yuk pergi!" Kila menarik lengan Dasha hingga Gadis itu kontan berdiri.
Dasha hanya bisa diam. Lagian juga, jika dia terus-terusan berada di situ, Abian akan semakin membencinya.
***
"Gue kasihan sama lo. Kenapa lo terus deketin dia sih? Lo enggak capek?" protes Kila.
Dasha malah tersenyum simpul membuat Kila bertanya-tanya.
"Kenapa lo? Jangan-jangan lo kesurupan setan yang ada di sini." mata Kila mengeliling. Ia memandang ke sana kemari. Memang sih, terdapat pohon bambu di dekat Mereka.
Yang ditanya malah semakin aneh, Dasha malah menangis.
"Eh, lo kenapa lagi ini? Tadi nangis, sekarang malah nangis."
"Ternyata lo sahabat gue, La. Baru pertama kali gue ketemu orang sebaik lo dan juga Dania. Kalian berdua selalu ada buat gue. Awal gue masuk ke sekolah ini, gue kira, lo orangnya jahat karena kelihatan suka sama Abian." air mata Dasha kini turun.
"Gue dulu memang suka sama itu anak, tapi gue sekarang udah berubah. Gue malah benci banget sama dia." Kila mengepal tangannya kuat-kuat. "Pokoknya lo harus jauhin dia, okay? Nanti gue cariin cowok yang lebih baik lagi dibanding itu anak." ujar Kila penuh tekad.
"La, lo mau nggak jadi Mak comblang antara gue dan Abian?"
"A-apa?"
***
"Dania! Lo harus bantu gue!" Kila dengan heboh menggebrak meja yang sedang disinggahi oleh Dania.
"Bantu apa? Jangan bilang lo mau gue bantuin buang kotorannya si Alden pulang nanti." sahut Dania asal.
"Enggak lah. Itu kan udah tugasnya pengasuh. Ngaco lo." Kila menoyor kepala Dania.
"Iya-iya. Trus lo minta bantuin apa? Jangan belibet deh."
"Bantuin gue buat jadi mak comblang antara si Dasha sama Abian!"
Mata Dasha membulat seolah akan keluar. "What?"
"Lo enggak mau?" Kila memastikan.
"Tunggu-tunggu. Kayaknya gue salah dengar. Lo ngomong apa tadi?" Dania menyelipkan rambutnya. Ia menyodorkan kuping tepat di depan mulut Dania.
"Lo enggak salah denger, Dania Riftaka. Lo mau bantu gue buat jadi emak comblang atau enggak?" Kila berusaha menahan amarah.
"Lo udah gila ya? Tadi istirahat, lo enggak mau Dasha sama Abian, tapi sekarang? Please... deh, lo jangan ngadi-ngadi." sungut Dania sangat tidak setuju.
"Gue enggak ngadi-ngadi, Dan. Gue serius. Gue berubah karena gue emang betul-betul kasihan sama Dasha. Gue mau bantu dia buat dapetin cintanya."
Dasha berdiri. Ia menggelengkan kepala. "Enggak." setelah penolakan mentah-mentah itu, ia segera berlalu.
"Tapi, Dan, tungguin gue." Kila mengejar Dania, tetapi Sahabatnya itu melangkah sangat cepat.
"Oke. Gue bakal berjuang sendiri!" gumam Kila penuh tekad.
Hanya butuh waktu 15 menit, Kila mengambil keputusan itu. Dia tidak ingin cinta Dasha bertepuk tangan. Percayalah, itu rasanya sangat menyakitkan. Kila pernah mengalami seperti itu ketika kelas 8 SMP.
***
Di tempat lain, Naufal risih lantaran duduk di hadapan 2 pasangan yang sedang bermesraan. Mana Keduanya saling suap menyuapi seperti pengantin baru.
"Kamu tau enggak?"
"Tau apa?"
"Kamu paling cantik di dunia ini. Enggak ada cewek yang lebih cantik daripada kamu."
Naufal mencoba fokus pada bukunya sembari menunggu pesanan makannya. Ia membaca halaman demi halaman, nanun tetap saja! Telinganya itu bisa mendengar apapun yang ada di sekitarnya.
"Kamu tau enggak? Saat kita punya anak, aku mau anaknya itu mirip kamu."
Muncul semburat merah di pipi Sang Gadis. "Tapi, aku maunya mirip kamu biar ganteng."
"Aku maunya perempuan, sayang."
"Enggak. Aku maunya laki-laki." balas Lelaki itu.
"Perempuan!" teriak Sang Gadis sampai-sampai seisi restoran itu menatap ke arahnya.
"Iya, sayang. Kamu tenang dong, jangan emosi kaya gitu. Malu kan dilihat orang."
"Hey! Ngapain lo di sini?" tegur Hani yang baru saja sampai di restoran itu.
"Justru gue yang nanya. Ngapain Kakak di sini?"
"Anu..." Hani bingung. Ia sebenarnya sengaja ke restoran ini untuk memberitahukan sesuatu pada Adiknya itu.
Melihat Kakaknya terlihat seperti memikirkan sesuatu, Naufal dibuat semakin penasaran.