Kila mendongak. Nampak Dania yang tiba-tiba sudah ada di sana.
"Penyebabnya?"
"Gue dengar dari anak-anak, ayah dia meninggal tadi malam."
Kila terperanjat dari duduknya. "A-apa?" raut mukanya begitu tak percaya.
"Lo nggak tau?"
"Nggak," segera Kila menutup buku yang tadi ia baca. "Gue harus ke rumah dia sekarang."
"Eits, tunggu. Lo nggak perlu ke sana."
"Nggak perlu? Kasihan dia, Dan." mata Kila mulai basah. Entah kenapa, hatinya terasa tersayat selepas mendengar kabar tersebut.
"Tenang dulu, Kil. Nanti pas pulang, ada perwakilan masing-masing kelas buat ngelayat ke rumah dia." cegah Dania. Di dalam pikirannya, kenapa reaksi Kila begitu berlebihan? Bukankah Sahabatnya sangat membenci Naufal?
"Ayahnya meninggal gara-gara apa?" tanya Kila dengan suara parau. Tubuhnya terduduk kembali.
"Kecelakaan."
"Kenapa dia nggak telefon gue?" lanjut Kila.
"Mana gue tau. Btw, kenapa lo peduli banget sama dia?"
***
Bendera kuning terpasang di depan rumah. Menandakan ada seseorang yang meninggal dunia. Semua pelayat menggunakan baju hitam polos begitupun Kila, Dania dan beberapa teman-temannya.
Nampak Yuni, Reni, dan Hani menangis terisak-isak. Sedangkan Naufal terdiam dengan air mata terus mengalir. Kila mendekati Mereka untuk menguatkan.
"Sabar, Tante." ujar Kila seraya mengelus-elus punggung Yuni.
"Tante bener-bener nggak nyangka, Kil..." Yuni menyandarkan kepalanya di bahu teman anaknya.
"Reni juga gak nyangka. A-ayah pergi secepat itu," timpal Reni.
"Om Sean udah tenang di sana, Tan, Ren."
Lusi yang sedari tadi menyaksikannya, menatap Kila tak suka.
Tak lama kemudian, jenazah Sean dibawa ke pemakaman yang berjarak cukup jauh dari rumah untuk dimakamkan.
Kila berjalan tepat di belakang Naufal. Dia ingin sekali menguatkan guru privatnya itu, namun situasi saat ini sangat tidak mendukung.
***
Hari sudah gelap. Dania dan teman lainnya sudah pulang ke rumah kecuali, Kila yang masih tetap ingin berada di rumah Naufal. Yuni, Reni, Hani sama sekali tidak keberatan.
"Kil, kamu panggilin Naufal buat makan malam ya. Kasihan dia. Dari pagi belum makan sama sekali." titah Hani.
"Iya," sahut Kila segera berdiri.
Kedua mata Kila mencari-cari Naufal. Sampai akhirnya, dia melihat Naufal sedang menyendiri di halaman depan rumah.
Langsung saja Kila mendudukkan diri di sebelah Naufal.
"Fal..."
Yang dipanggil berdeham.
"Lo nggak laper, Fal?"
"Nggak."
"Beneran? Ibu lo masak makanan enak buat lo, lho."
"Tolong. Bisa lo pergi? Gue mau sendiri." pinta Naufal.
Kila terkesiap. Baru kali ini ia melihat sisi berbeda di dalam diri Naufal. Bahkan kacamatanya kini dilepas membuat tampang Naufal sangat berbeda.
"Nggak. Gue nggak akan pergi." elak Kila. "Fal, gue tau lo ngerasa kehilangan banget. Tapi, lo jangan kaya gini. Jangan nyiksa badan lo sendiri."
"Mau gue usir secara kasar atau halus?" ketus Naufal. Kila terdiam sejenak.
"Oh, berarti gue harus ngusir lo secara kasar." Naufal bangkit, kemudian meraih lengan Kila. Refleks Gadis itu berdiri. Akan tetapi, Kila malah mendekap erat Naufal. Sangat erat.
Hani yang melihat hal itupun terkejut bukan main. Namun, ia senang karena Mereka berdua dekat seperti apa yang diinginkannya. Ia tak bisa membiarkan momen ini berlalu begitu saja. Hani akan mengabadikannya dengan foto. Tangannya merogoh saku untuk mengambil ponsel. Setelah dapat, ia memfoto Kila dan Naufal beberapa kali.
"Lo jangan kaya gini. Gue jadi ikutan sedih. Mana Naufal yang cerewet? Mana Naufal yang selalu nasehatin gue?" tanya Kila mencecar.
Mata Naufal kembali berkaca-kaca, lalu satu tetes air mata jatuh di pundak Kila.
"Lo mau nangis? Nangis sepuasnya sekarang. Gue siap jadi sandaran lo kapanpun lo mau." kata-kata ini seharusnya dilontarkan oleh Laki-laki, namun untuk kali ini kaum perempuan yang mengucapkannya.
Mereka berdua saling mendekap satu sama lain. Naufal menumpahkan semua air matanya. Sedangkan Kila ikut-ikutan menangis. Kila seakan-akan bisa merasakan kesedihan Naufal padahal dirinya tidak pernah kehilangan ayah/ibunya.
***
Esoknya Naufal berangkat sekolah seperti biasa. Ia kini menjadi canggung berhadapan dengan Kila terlebih lagi kala mengingat dirinya menangis di dekapan Gadis itu.
"Naufal!" panggil Lusi semangat. Ia berusaha menjejeri langkah Naufal.
"Aku turut berduka ya." lanjut Lusi.
"Iya." Naufal tersenyum singkat.
"Buku tulis aku yang isinya materi kemarin, udah aku taruh di kolong meja kamu, ya." jelas Lusi.
"Kila udah minjemin bukunya ke gue." sergah Naufal.
"Kila?"
"He'em."
Lusi mengepalkan tangan kirinya. "Oh ya, Kila tadi malam nginep di rumah kamu?"
"Nggak nginep kok."
"Trus buat apa dia lama-lama di rumah kamu?"
Kejadian itu kembali terlintas di benak Naufal. "Dia cuma bantuin ibu."
Jawaban Naufal yang tak jelas membuat Lusi curiga.
"Ta-"
"Bro! Gue turut berduka. Maaf kemarin gue nggak bisa ke rumah lo karena nenek gue sakit." sergah Dion, teman sekelas Naufal. Mendadak sudah ada di sana.
"Sans."
Mereka berdua pun beranjak ke dalam kelas tanpa memerhatikan Lusi yang masih berdiam diri di sana.
***
"Aww..."
"Heh! Kalau jalan lihat-lihat dong!" bentak Dania. Tak rela jika sahabatnya ditabrak kasar seperti itu. Namun, ucapannya terhenti ketika mengetahui kalau Abian lah yang menabrak Kila.
"Biarin, Dan." gumam Kila.
"Tapi kan dia,"
"Udah. Jangan ladenin cowok itu. Gue muak berurusan lagi sama dia." tandas Kila. Dania terpaksa mengalah. Jika sahabatnya itu tidak menghentikannya, sudah pasti ia memukul Abian sampai cowok tersebut kapok untuk mengganggu Kila.
Abian tetap melanjutkan langkah. Mendengar apa yang diucapkan Kila, membuat emosinya naik sampai ke ubun-ubun.
Detik kemudian ekspresi Kila menjadi sumringah. "Minus!"
"Eh, Kila, lo belum istirahat." tangkas Dania mencegat.
"Bentar. Gue mau belajar dulu." Kila memalingkan muka. Ia berlari kecil menghampiri Naufal.
"Hah?" Dania tergemap. Apa yang dikatakan Sahabatnya barusan? Biasanya Kila sangat malas ketika mendengar hal yang ada kaitannya dengan belajar.
"Ma-mau apa lo?" sungguh. Debaran jantung Naufal sangat cepat saat Kila berdiri tepat di depannya.
"Ih. Kok lo jadi kaya azis gagap sih?" Kila mendecak. "Kita ke perpus yuk!" tegasnya.
***
"Lo paham semua?" tanya Naufal menyudahi belajar Mereka. Dari tadi ia tak berani menatap Kila.
Kila mengangguk.
"Ya udah. Gue mau ke kantin." Naufal menutup buku, kemudian menaruh beberapa buku tersebut di rak buku perpustakaan.
"Tunggu. Gue mau tanya sesuatu."
"Apa?" Naufal membuang muka. Ia melihat-lihat buku yang ada di sana.
"Kenapa lo kaya nggak berani ngelihat gue? Apa muka gue nyeremin?" Kila berusaha membalikkan badan Naufal agar menatapnya.
Laki-laki itu tetap kekeh untuk tidak memandang Kila. Jantungnya saja kini sudah berdetak kencang. Apa jadinya jika ia menatap Gadis itu?