Kila POV
Hari sudah menjelang malam. Langit sudah gelap, hanya cahaya bulan yang menerangi.
Aku masih mencari rumah sewaan untuk ku tempati, tapi sampai sekarang belum menemukan. Abian terlihat mendengus kesal. Aku tahu, pasti dia capek. Di depan tempat perbelanjaan, mobil Abian berhenti.
“Lo mau makan apa?”
Aku mengerjap. “Mie aja.”
“Gak bagus buat lo.”
“Ya udah. Terserah,”
Dia turun dari mobil. Aku memandangi punggungnya yang kian menghilang masuk ke dalam tempat itu. Ternyata Abian bisa menjadi baik ataupun jahat. Iya, dia bisa menjadi jahat. Terbukti saat dia memukuli Naufal saat di rooftop sekolah.
Sepertinya tidak memakan waktu 15 menit, dia kembali membawa satu bungkus plastik. Ia duduk di sampingku lagi seraya membuka bungkusan plastik itu.
Eh, tunggu. Tadi aku mengalami pendarahan, apa berarti dia sudah tahu kalau aku hamil? Mengapa sikapnya biasa saja padaku? Aku jadi tidak habis pikir.
Aku menerima roti berukuran cukup besar yang diberikan dia. “Makasih,”
Dia berdeham.
Kami hening beberapa saat. Sekarang, roti yang ku pegang sisa setengah. Aku putuskan untuk membungkus roti itu kembali ke plastik karena sudah cukup kenyang. Aku perlahan menoleh ke arahnya.
“Lo...” aku ingin bertanya, tapi ragu.
“Apa?”
“Tadi gue masuk rumah sakit gara-gara apa?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Lo pendarahan,”
“Kenapa gue bisa pendarahan?”
“Lo kelelahan,”
Aneh. Dia sama sekali tidak berbicara soal ‘bayi’. Aku sangat penasaran. Dia mengetahui atau pura-pura tidak tahu?
Hening kembali. Dia melanjutkan aktivitas makannya.
“Bian,” panggilku.
“Hm?”
“Lo tau?” tanyaku lirih. Aku yakin dia bisa mendengar.
“Tau apa?”
“Tau itu.” Aku tak berani terus terang. Terlalu menakutkan. Bagaimana jika dia membenciku? Dan tidak mau berteman lagi dengaku?
“Iya.”
Aku terbelalak. “lo tau itu? Serius? Coba tebak, arti ‘itu’ apa?”
“Nggak tau.”
Abian ini gimana sih? Katanya dia tahu, tapi barusan dia bilang gak tau. Dia sepertinya mencoba mempermainkanku.
“Gue tau. Lo hamil. Andaikan gue ngejauhin lo dari Cowok itu pasti hidup lo gak akan hancur kaya gini.”
Aku tergemap. Abian barusan mengatakan hal itu berarti dia mengetahuinya. “Lo nggak jijik atau benci sama gue gitu?”
“Buat apa? Gue bukan siapa-siapa lo jadi gue gak berhak ngerasa benci apalagi jijik. Sekarang gue Cuma lakuin tugas sebagai orang yang menolong sahabatnya.”
Sahabat? Entah mengapa, itu sangat menyakitkan ketika aku mendengarnya. Aku tersenyum samar, “Makasih, sahabat.”
“Sama-sama. Maafin sahabat lo ini karena nggak bisa lindungi lo dari Cowok itu.”
“Bukan dia yang salah, tapi ada orang lain yang jebak dia,”
Dia terlihat terkejut. Matanya menatapku lekat. “siapa yang jebak dia?”
“Fardo.”
“Apa?!”
Aku mengangguk. Air mataku jatuh. Aku menceritakan cerita yang Naufal ceritakan malam itu. Abian tampak tidak terima. Aku bisa mengetahuinya. Terbukti ketika dia mengepalkan tangan.
“Gue boleh tanya sesuatu?”
Aku mengangguk.
“Kenapa lo pergi dari rumah?”
Aku tersentak mendengarnya. “setelah gue cerita sebenarnya, apa lo tetep percaya sama gue?”
“Pasti.”
Setelah satu tarikan nafas panjang, aku menceritakan semuanya. Tentang p****************g itu, kepergian Kak Hani ke luar negeri dan fitnahnya kepadaku, aku ceritakan semuanya. Aku tidak berhentinya menangis. Menceritakan itu sama saja membuka luka yang amat dalam sekaligus menganga. Abian menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Posisi ini mengingatkan ku pada Naufal. Biasanya Naufal yang menjadi sandaranku, namun sekarang dia entah ke mana. Aku tidak tahu kabarnya. Sengaja aku tak mengabari karena aku sudah tahu, Naufal pasti akan membenciku sama seperti ibunya.
“Kenapa lo nggak lapor ke polisi? Ibu cowok culun itu gak punya hati. Lo kan lagi hamil cucunya masa main diusir.”
“Gue nggak bisa lapor polisi. Gue... gak punya bukti.” Aku kembali menangis. “Dan... ibunya Naufal bilang kalau anak ini bukan anak kandung putranya.”
“Tes DNA. Lo harus ngelakuin itu waktu bayinya lahir nanti.”
“Enam bulan lagi. Gue gak sanggup hidup sendirian selama enam bulan,”
Abian melepaskan pelukan. Dia menangkup pipiku dengan kedua telapak tangannya sambil berkata, “Sahabat lo ada di sini jadi jangan bilang lo sendiri lagi, oke?”
Aku mengangguk. Aku melihat ada sisa-sisa cokelat di ujung bibirnya. Tanganku tergerak untuk mengusap itu. Dia tampak terkejut.
“Ada ini,” aku menunjukkan sisa cokelat yang kini sudah ada di jariku.
Dia terus menatapku. Aku menurunkan pandangan.
“Buka!”
Seseorang mengetuk kaca mobil. Aku dan Abian refleks menengok. Mataku membulat. Di sana ada Naufal dan Lusi.
Wajah Naufal tampak marah sekali. Aku hendak membuka pintu mobil, tapi Abian mencegahku.
“Biar gue aja.” Katanya.
“Tapi—“
“Angin malam dingin. Gak baik buat kesehatan lo.”
Aku menurut. Dia keluar dari mobil. Tepat di depan mobil, mereka terlihat berbicara sesuatu. Sungguh, aku tidak bisa mendengarnya.
Lusi melirik ke arahku. Dia mengetuk kaca mobil, aku langsung bukakan saja daripada kaca itu rusak karena diketuk-ketuk keras oleh dia.
“Pembohong! Lo tega bohongin Naufal!”
Aku tersentak mendengar ucapannya. Lusi membentak diriku. Dan baru pertama kali aku mendengar dia berbicara dengan memakai sebutan ‘lo-gue’.
“Maksud lo apa? Gue bohong soal apa?”
Perih.
Lusi menjambak rambutku begitu kuat. Aku merintih kesakitan sambil berusaha lepas dari jambakannya.
Aku melirik ke arah Naufal dan Abian. Mereka malah saling melemparkan tinju satu sama lain. Ini tidak bisa dibiarkan. Bisa-bisa mereka saling melukai.
Dengan sekuat tenaga, aku mendorong Lusi kemudian keluar dari mobil.
“Naufal!” teriakku cukup keras.
Mereka terhenti.
Aku berlari ke arah Naufal. Hendak memeluknya, tapi dia mengatakan...
“Jijik. Jauh-jauh dari gue.”
Aku spontan mengurungkan niatku untuk memeluknya. Tadi benar-benar Naufal yang mengucapkan itu atau aku salah dengar?
Bugh!
Abian meninju Naufal tanpa basa-basi. “Dasar laki-laki b******k! Lo udah hancurin masa depan dia!”
“Bian! Jangan kaya gitu!” tanganku terulur untuk membantu Naufal berdiri, namun tanganku ditepis kasar olehnya.
“Jangan sentuh gue! Tangan lo kotor!”
Aku spontan melangkah mundur. Naufal berubah. Aku sebelumnya sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi aku kira Naufal akan mempercayaiku. Ternyata tidak.
Naufal melirikku dan Abian dengan tatapan yang aku benci. Tatapan yang menggambarkan dia begitu merasa jijik. “kalian jangan bersandiwara lagi. Gue tau, kalian ada hubungan spesial.” Dia kini menatapku. “gue kecewa. Lo berkhianat. Kenapa lo bilang kalau bayi itu anak gue?”
Aku sungguh tak mengerti. Mengapa Naufal berbicara seperti itu?
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Tanganku memegang perutku sendiri. “ini bayi kamu, Fal. Aku ngelakuin itu Cuma sama kamu. Kamu kenapa ngomong kaya gitu? Kenapa kamu begitu marah sama aku, Fal? Kenapa?” air mataku kembali turun. Aku melangkah, berusaha mendekatinya, tetapi dia malah menjauh.
“JANGAN DEKETIN GUE!”
Abian memegang lenganku. Badanku mendadak lemas usai dibentak Naufal seperti tadi. Ini pertama kali dia membentakku. Samar-samar pandanganku kabur. Tubuhku ambruk tepat di lengan Abian. Setelah itu, pandanganku mendadak jadi gelap.