PART 78

1091 Kata
Abian terbelalak melihat Kila pingsan dipangkuannya. “Bangun!” seru Abian sambil menepuk pipi Kila. Yang membuat dia lebih panik, di rok Kila terdapat darah mengalir cukup banyak. Berbeda ketika saat di tepi jalan siang tadi. Bukannya menolong, Naufal berdiri hendak meninggalkan Kila. “Woy! Dia pingsan!” Abian melotot tidak terima. Naufal berdecak. “Itu pacar lo kan? Di perut itu, anak lo kan? Ngapain gue harus ikut campur.” Lusi tersenyum miring. Ia senang, Naufal sudah masuk dalam kebohongan yang ia buat. Dia rasa, hari ini semesta berpihak padanya. Semua berjalan sesuai keinginan. Melihat Naufal pergi, Lusi segera mengikuti Cowok itu dari belakang. “Naufal! Dia pingsan. Kamu kok enggak nolongin?” “Berisik. Dia bukan siapa-siapa gue.” tegas Naufal. “Tapi dia—“ “Diem. Naik cepet.” titah Naufal, sudah menaiki motor. Ia menyodorkan helm full face pada Lusi. Lusi langsung memakainya. Usai itu, dia naik. Kedua lengannya melingkar di pinggang Naufal. Lain tempat, Abian begitu khawatir. Dia bergegas memasukkan Kila ke dalam mobilnya. Untuk kedua kali, dia mengendarai mobil dengan kecepatan lebih tinggi dari sebelumnya. 15 menit berlalu, dia sampai di depan rumah sakit. Rumah sakitnya begitu asing. Abian tidak punya pilihan lain. Kalau dia kembali ke rumah sakit tadi siang, akan membutuhkan waktu berjam-jam. Dia takut Kila kenapa-napa jika dibiarkan terlalu lama. ••••••••••••••••• “Kamu habis ke mana, Nak? Kok jam segini baru pulang,” Yuni menatap gelisah putranya. Naufal tak menghiraukan. Dia tetap melanjutkan langkah ke kamar. Yuni mengejar Naufal, namun begitu sampai di depan pintu, Naufal membanting pintu kamarnya sendiri. “Astaga,” Yuni mengelus d**a. Selama 17 tahun ini, dia tak pernah melihat Naufal semarah itu pada dirinya. “wanita itu pasti membuat Naufal seperti ini. Di dalam kamar, Cowok itu meninju tembok kamarnya sendiri. Ia membanting apa pun yang ada di dekatnya. Rasa bersalah kembali muncul. Apakah Kila baik-baik saja? Bayi di perut itu tidak apa-apa? Bagaimana jika Kila keguguran? Naufal mengacak rambutnya. Frustasi. Dia begitu bodoh. Seharusnya ia menolong pacarnya itu bukan malah kabur. Tapi yang membuat dia ragu, anak itu sebenarnya anak siapa? ••••••• “Jadi gimana, Dok keadaannya? Dia tidak apa-apa kan?" tanya Abian begitu Dokter sudah keluar dari ruaangan. "Pasien mengalami keguguran tidak lengkap. Keguguran ini menyisakan jaringan janin di dalam rahim sehingga pasien harus melakukan prosedur kuretase. Jika pasien tidak melakukan prosedur itu, pendarahan akan tetap berlanjut dan bisa terjadi infeksi rahim." Bahu Abian merosot. Tatapan yang tadinya penasaran berubah menjadi kosong. Meskipun bayi itu bukan anaknya, namun dia bisa merasakan kesedihan yang Kila alami nanti. "Kapan prosedur itu dilakukan, Dok?" "Besok. Suruh pasien untuk melakukan puasa 6 jam sebelum prosedur itu dilakukan ya. Dan juga panggil anggota keluarga lain untuk menemani pasien." "Tapi dia sebatang kara, Dok." "Lalu kamu siapanya pasien?" "Saya Kakak laki-lakinya." sudah jelas yang dikatakan Abian itu bohong. Daripada dia diinterogasi panjang, lebih baik untuk berbohong sementara. Lagian juga, berbohong demi kebaikan itu tidak apa-apa kan? Perlahan, pintu itu dibuka. Kila terdiam. Tidak ada lengkungan sedikitpun di sudut bibirnya. Wajah Gadis itu tersirat kebencian yang begitu dalam. Dia sudah tahu semuanya. Sedih? Jelas. Walaupun bayi itu tidak diharapkan, namun Kila tak ada niatan untuk menggugurkannya. Tapi hari ini, dia mengalami keguguran. Tuhan seolah sedang menguji kesabarannya. "La, lo udah siuman?" "Hm." Abian beringsut duduk di tepi ranjang. Mereka hening sejenak. Abian memilih untuk diam. Dia tak membahas soal keguguran itu. Ia tidak ingin Kila syok dan terpukul. "Kenapa Tuhan mempermainkan gue?" Satu pertanyaan itu membuat Abian kalap menjawabnya. Apa Cewek itu sudah tahu bahwa dia mengalami keguguran? "Kenapa saat gue udah nerima bayi itu, Tuhan ambil dia dari gue? Kenapa?! Kenapa?!" Kila mencengkram kuat kerah baju Abian. Air mata Gadis itu mulai turun deras membasahi pipi. Hidungnya kini sudah memerah. "Sabar. Mungkin ini udah takdir." "Takdir s****n! Orang tua gue gak tau ke mana, gue diusir dari rumah Naufal karena fitnah dan sekarang... bayi gue..." Kila menangis kencang. Tangan Abian tergerak untuk mengelus-elus punggung Cewek tersebut. "Apa... gue dilahirkan cuma buat disakiti?" parau Kila membuat Abian tersenyum miris. "Lo harus kuat." "Gue gak bisa kuat terus menerus! Sesuatu pasti ada batasnya kan? Dan sekarang gue udah ada dibatasan itu." Kila kembali menangis tersedu-sedu. Tangisan pilu itu membuat Abian ikut merasa sedih. Dia menarik Gadis tersebut ke dalam dekapannya. "Hidup gue nggak berarti lagi, Bian! Hidup gue, tubuh gue dan masa depan gue hancur! Semuanya hancur! Gak berarti lagi." "Keluarin unek-unek lo. Gue siap dengerin." Abian menghela nafas. "semua air mata kesedihan lo, keluarin semua. Tapi untuk besok, gue gak mau lihat lo nangis karena sedih lagi. Gue mau lo menangis bahagia." "Ikhlasin, La. Kejadian ini pasti ada hikmahnya." lanjut Abian. "Berat." Kila memukul-mukul dadanya sendiri. Rasanya begitu sesak. Mengapa kehilangan kali ini begitu menyakitkan? Rasa sakitnya lebih dalam daripada rasa sakit saat ia mengetahui kalau kedua orang tuanya menghilang tanpa kabar. ******** Sudah 1 minggu Naufal bersikap aneh dan berbeda dari biasanya di hadapan Yuni. Tidak bergabung di meja makan, selalu pulang malam dan jarang berbicara dengan Yuni apalagi Reni. Mereka berdua bingung. Kesalahan apa yang mereka perbuat sampai-sampai Naufal berubah 1 minggu terakhir ini. "Kak Naufal gak gabung lagi?" Reni menarik kursi, lalu duduk di sana. Yuni langsung memberi putrinya 1 piring makanan. "Tidak. Cewek itu sudah memberi pengaruh buruk pada Kakak kamu jadi kakakmu yang sekarang berubah dari biasanya." "Tapi, Ma. Salah Kak Kila apa?" "Kamu pura-pura lupa?!" Yuni meletakkan sendok secara kasar ke piringnya menimbulkan bunyi dentingan bising. Reni tersentak. Ia lalu menundukkan kepala. "Dia sudah menggoda calon Papa kamu dan Mama yakin, dia udah berbohong kalau dia mengandung anak kakak kamu." Meski Ibunya bersikukuh kalau Kila bersalah dan berbohong, Reni tetap tidak percaya. Dia merasa ragu akan hal itu. "Gimana kalau sebenarnya bukan Kak Kila yang bersalah?" tanya Reni lirih. Ia tak punya nyali untuk berbicara jelas. "Oh, jadi kamu mau bela dia?! Iya?!" " Pergi dari sini!" "Jangan minta uang jajan sama makanan ke ibu lagi!" Mendapat ancaman bertubi-tubi, Reni menelan ludah susah payah. Ibunya itu jika mengancam pasti tidak main-main. "Maaf, Ma..." Seorang laki-laki berjalan masuk ke rumah itu. Dia membanting pintu membuat Yuni langsung penasaran siapa yang masuk. Naufal. "Nak, kamu sudah makan? Ibu masak makanan kesukaan kamu loh. Kamu yakin tidak mau mencicipi sedikit saja? Ibu--" ucapan Yuni terhenti setelah mendapat tatapan tajam dari putranya. "Gue udah makan di luar." Naufal memalingkan muka. Ia melanjutkan langkah ke kamarnya. Seperti biasa, pintu dibanting. Menandakan bahwa dia sangat marah. Yuni tersenyum sendu. Meski hal itu sudah biasa dia alami selama 7 hari ini, namun tetap saja. Hatinya terasa sakit. Ibu mana yang tidak merasa sedih dan kecewa jika anaknya bersikap tidak sopan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN