3 bulan kemudian.
Seorang laki-laki mengangkat satu kaki. Kedua tangannya menjewer telinganya sendiri. Seragam putih itu sudah basah karena keringat yang mengucur deras sebab sedari tadi ia sudah melaksanakan hukumannya sejak 2 jam lalu. Menghadap ke arah bendera. Di bawah terik panasnya matahari. Masalahnya spele: ia dihukum karena telat masuk kelas dan membuat keributan. Iya, bagi seorang Naufal Givano itu masalah sepele. Namanya sudah banyak tertulis di backlist milik guru BK sejak 2 bulan lalu.
Para murid cewek diam-diam mengintip dari jendela kelas mereka. Bagi Mereka, Naufal seperti Dewa Yunani. Begitu seksi dan juga tampan.
Mata Naufal mengedip ke arah salah satu Cewek tersebut membuat Perempuan lainnya berdecak iri.
Namun, ada sepasang mata yang menatap tajam Naufal. Gadis itu melihat kedua tangan di depan d**a. Kebetulan, kelas Cewek itu sedang kosong jadi dia bebas mengawasi Naufal yang terlihat sudah genit pada para Cewek.
Hingga akhirnya, penantian-penantian yang ditunggu Naufal akhirnya datang. Bel istirahat berbunyi. Dengan wajah begitu lesu, Naufal berjalan ke tepi lapangan untuk meneduh.
Lusi menghampiri Pacarnya itu sembari membawa botol berisi air putih. "Buat kamu." Naufal langsung menerima, lalu menengguknya hingga habis tidak tersisa.
Tangan Lusi bergerak mengusap keringat di kening Naufal menggunakan sapu tangan. "Udah aku bilang, bangun pagi-pagi dan aku udah bilang ini berkali-kali, jangan buat keributan. Kamu kupingnya masih berfungsi kan? Kenapa setiap aku omongin, kamu gak pernah dengar?"
"Diam. Gue gak mau diatur." tegas Naufal. Lusi mengatupkan bibir.
Naufal meraih telapak lengan Lusi, lalu menaruh botol yang sudah kosong di sana. "Makasih." tanpa menunggu sahutan dari Lusi, dia berjalan begitu saja.
"Tunggu!" Lusi berdiri tepat di depan Naufal. "Kamu gak mau istirahat bareng aku?"
"Gak. Minggir." Naufal menyorot tajam, kemudian mendorong bahu Lusi ke samping.
Lusi terdiam karena dia tahu. Jika dia melawan, ia akan mendapat bentakan keras dari Naufal.
"Kasihan. Dua bulan udah pacaran eh, tapi gak dianggap." sindir seorang adik kelas saat lewat melintasi Lusi.
Lusi melotot tidak terima. Ia menjambak rambut panjang adik kelasnya itu. Cukup kuat. Sampai-sampai rambut yang Lusi jambak, rontok.
"Lo masih anak ingusan! Jangan belagu lo. Sekali lagi, lo ledek gue, gue gak akan biarin lo hidup tenang! Ingat itu." ancam Lusi penuh penekanan.
Adik kelas yang rambutnya dibiarkan tergurai itu langsung berlari usai Lusi melepaskan jambakannya.
"Pengecut."
******
Tepat di sudut paling pojok sekolah, tempat yang biasa menjadi tongkrongan Fardo, Geri dan Kael untuk membahas hal-hal yang nyeleneh, tawuran dan berbagai hal negative lainnya.
Laki-laki dengan seragam dikeluarkan dari celana itu, bergabung dengan mereka.
"Wah, bro! Udah selesai jemur badan di lapangan?" Geri menepuk pundak Lelaki tersebut.
"Lo ngeledek gue?" sinis Naufal. Iya, Naufal bergabung di genk Divilers. Genk yang dulu memukuli tubuh Naufal hingga terkapar tidak sadarkan diri. Dan juga, salah satu orang yang ada di genk itu pernah mencoba mencium Kila pada hari yang sama. Hari dimana Naufal dipukuli.
"Santai, bro. Sensi amat lu."
"Lo ikut tawuran sama sekolah sebelah pulang nanti?" Fardo menimbrung.
"Pasti." Naufal mengambil satu batang rokok yang diberikan Kael, menyalakan api kemudian mengisapnya. Sejak 2 bulan lalu, dia sudah mulai merokok. Ya, meskipun jarang. Dia tidak peduli dengan kesehatan. Yang ia inginkan saat ini adalah ketenangan agar bisa melupakan Gadis itu.
Gadis yang menjadi cinta pertamanya.
*****
Bel pulang berbunyi. Fardo, Naufal, Geri, dan Kael bersiap-siap untuk acara tawuran.
Usai sampai di lokasi, Mereka berempat sudah membawa s*****a tajam untuk melukai korbannya.
Kini musuh mereka sudah datang. Musuh itu tak lain berasal dari sekolah SMA Nusantara.
"SERANG MEREKA!" teriak Fardo membuat teman-temannya melangkah maju.
Mereka saling menyerang satu sama lain secara brutal. Tidak ada kata 'ampun'. Mereka begitu kesetanan.
Setiap membayangkan wajah Abian, saat itu lah Naufal menyerang tanpa ampun pada korbannya. Dia benci sosok itu.
Korban yang Naufal serang kini terkapar dengan luka sayatan di lengan. Darah mengalir deras dari lengan pemuda itu.
Naufal tersenyum puas. Dia mencari korban lain untuk dilukai.
Tapi...
Suara sirine mobil polisi berbunyi.
Fardo dan teman-temannya tidak bisa kabur sebab mereka telah dikepung polisi.
Alhasil, Naufal ikut dibawa ke kantor polisi.
*********
Yuni pergi dari kantornya dengan tergesa-gesa. Rasa marah dan kecewa bercampur jadi satu kala mendengar putranya masuk kantor polisi karena tawuran.
Ini sudah terjadi 3 kali. Yuni begitu muak.
Setelah sampai di kantor polisi, Yuni menampar rahang Naufal cukup keras.
"Dasar anak b******k! Kamu bikin malu Mama! Kenapa kamu ikut tawuran lagi, HAH?!" badan Yuni bergetar. Air mata itu jatuh lagi untuk kesekian kalinya karena melihat Naufal berubah menjadi lebih buruk.
"Udah cukup dramanya?" Naufal tersenyum miring.
Yuni mengepalkan tangan. Ia menahan agar tidak menampar anaknya lagi.
"Kenapa kamu berubah, Nak?"
"Bukan saya yang berubah. Tapi Anda yang merubah saya."
*******
Selepas pulang dari kantor polisi, Naufal melempar tasnya sembarang begitu saja. Yuni mengelus d**a. Ia menilik jam tangan. Sudah jam 21:00 WIB. Suaminya belum pulang.
Yuni mengambil tas yang tadi Naufal lempar, kemudian meletakkan tas tersebut di sampingnya. Dia masih belum tidur, menunggu suaminya yang tak kunjung pulang. Katanya, jam 3 sore Arya janji akan pulang, tapi janji itu dilanggar. Yuni menjadi kecewa.
Suara mobil berhenti di depan rumahnya. Yuni terperangah. Ia segera berlari keluar.
Pemandangan mengejutkan.
Arya berjalan terhuyung bak orang mabuk. Di sebelahnya, ada wanita berpakaian minim menuntun suaminya itu.
"Kenapa kamu bisa bersama suami saya?" Yuni menatap lempeng Wanita yang sepertinya berusia lebih muda darinya.
"Pegang suamimu ini!" Wanita itu mendorong tubuh tegap Arya begitu saja ke hadapan Yuni.
Yuni refleks merangkul tubuh Arya agar tidak jatuh.
"Tunggu! Jawab pertanyaan saya. Kenapa kamu bisa bersama suami saya?"
"Bukan urusan Anda." Wanita itu melenggang pergi.
Yuni geleng-geleng kepala. Setiap suaminya mabuk, pasti wanita itu selalu mengantarkannya. Yuni jadi bingung. Sebenarnya mereka berdua ada hubungan apa?
"Kamu cantik banget, sayang. Sini duduknya lebih dekat... jangan jauh-jauh gitu dong..."
Racauan itu membuat Yuni menutup hidung sebab bau alkohol begitu menyeruak. Tubuh Arya diletakkan di kamar.
Derap langkah berbunyi. Yuni segera keluar kamar. Di sana ada Naufal dengan jaket hitamnya.
"Kamu mau ke mana?! Jangan bilang kamu mau ke club lagi?!" tegur Yuni penuh amarah.
"Kenapa? Saya sudah besar. Jadi tolong, jangan atur hidup saya."
"Naufal! Berhenti bicara formal! Aku ini ibu kamu."
"Ibu saya sudah meninggal sejak 3 bulan lalu."