PART 80

1079 Kata
Kehilangan jati diri. Itu lah yang Naufal alami sekarang. Gemerlap dari lampu kelab malam serta musik-musik bergema di seluruh ruangan itu membuat orang yang ada di sana berjoget, meliuk-liukkan tubuh. Termasuk Kael dan satu temannya. Sedangkan Fardo sedang bergelayut bersama perempuan yang dengan sukarela 'menyerahkan diri'. Naufal duduk di sofa. Tangannya tidak berhenti menuang alkohol ke gelas mininya, kemudian menengguk hingga habis. Seorang wanita berpakaian minim menghampiri Naufal. Dia mengalungkan lengan di leher Cowok itu. "Sayang, malam ini kam--" "Woy! Dia pacar adik gue." Fardo mendorong tubuh wanita tersebut secara kasar. Refleks, perempuan itu mendecak kesal, lalu pergi. Fardo tidak akan membiarkan apa yang jadi milik adiknya direbut. Apalagi, jika ada orang membuat Lusi menangis, dia tak akan melepaskan orang itu. Naufal tak menghiraukan kehadiran Fardo. Dia terus saja meminum alkohol tanpa henti. Bahkan sudah sebanyak 3 botol habis ditengguk. "Lo minum terlalu banyak, bro." ujar Kael hendak menepuk bahu Naufal, namun ditepis. "Gue repot kalau nanti lo mabok." Geri merebut botol yang akan dituangkan isinya ke gelas oleh Naufal. Naufal melotot tidak terima. "Balikin!" "Gak bisa. Udah abis." bohong Geri. Mendadak kepala Naufal terasa pening. Dalam sekejap, kesadaran Cowok itu kini sudah hilang. Naufal terkekeh membuat kedua teman di hadapannya itu geleng-geleng kepala. "Wah, udah bener-bener mabok dia." "Lo bawa dia pulang ke rumah gih." titah Geri membuat Kael memicingkan mata. "Gue aja? Lo gak?" cecar Kael tidak rela jika dia sendirian mengantarkan Naufal. "Gak. Kalau bos nganterin itu anak, gue juga ikut nganterin dia." "Bos mulu lo. Nurutnya." "Coba lo telefon Lusi. Pasti dia mau ke sini buat pacarnya itu." saran Geri. Kael menyeluk saku untuk mengambil ponsel, lalu mencari nama Lusi di sana. Setelah ketemu, suara gadis yang terkesan terganggu terdengar. Bagaimana tidak terganggu? Sekarang baru jam 2 dini hari! "Ngh.. apa?" "Pacar lo ke kelab malam lagi." "Pasti ajakan kalian. Iya kan? Udah gue bilang, jangan ajak dia ke tempat itu lagi! Lo budeg atau gimana sih? Kuping lo udah tuli ya! Nyadar dong! Sekarang jam-jamnya orang pada tidur. Lo malah telefon dan ganggu tidur gue!" Kael menegang. Baru kali ini dia mendengar Lusi, Gadis yang menurutnya polos kini berbicara layaknya orang dewasa. "Ya, maaf. Terserah lo mau ke sini buat jemput dia atau gak." "AWAS AJA YA, KALIAN! GUE GAK BA--" Kael buru-buru mematikan telefon. "Dia kalau lagi marah serem juga ya. Merinding gue." "Siapa? Adiknya si bos?" Geri memastikan. "Iya, iyalah. Gue heran, di sekolah dia bersikap seolah cewek polos, baik sama sopan. Tapi dia berubah kaya monster. Dia tadi bentak gue bro! Sama caci maki gue juga." "Lo emang pantas digituin." ucapan pedas Geri membuat Kael mengumpat. "Naufal!" Yang dipanggil mengerutkan kening. Karena sudah mabuk berat, Naufal melihat Lusi sebagai Kila. "Sayang, gimana keadaan kamu sekarang?" tanya Naufal sesekali cegukan. Pipi Lusi langsung memerah. Usai 2 bulan lamanya, baru kali ini Naufal memanggil 'sayang'. Tidak, ini bukan saatnya untuk bulshit. Lusi harus membawa Naufal pergi dari tempat tersebut. "Ayo pulang." Lusi menarik lengan Naufal. Naufal malah mendekatkan tubuh Lusi. Kael dan Geri kompak memalingkan muka. "Gue sayang lo, Kila..." Sakit tak berdarah. Dugaannya benar-benar salah. Dia sangka panggilan 'sayang' untuk dirinya, tapi ternyata sebutan itu untuk cewek yang Lusi benci selama ini. Naufal mencium pipi Lusi. Dia masih menganggap Lusi sebagai Kila. Plak! Lusi menampar cukup keras pipi Naufal. Bukannya sadar, Naufal malah menangis. Seperti cowok cengeng saja. "Pulang. Kamu udah bener-bener mabuk!" gertak Lusi. Dia berdiri tegak kembali. Mengeluarkan seluruh tenaga, Lusi berhasil membuat Naufal berdiri. Ia melingkarkan lengan yang lumayan kekar itu di pundak kecilnya. Fardo baru saja keluar dari suatu ruangan. Dia terkejut melihat adiknya berada di sana. "Buat apa lo ke sini?" Lusi menoleh. "Aku jemput Naufal." "Kenapa gak mereka berdua?" Fardo melirik tajam Geri dan Kael. "Kael katanya gak mau. Dia tadi telefon aku, kak. Dia suruh aku ke sini." Telapak tangan Fardo mengepal. Lusi yang tahu kakaknya itu akan memukul, langsung melerai. "Mending kakak bantuin aku." ujar Lusi. "Apa?" "Bawa motor Naufal ke rumahnya. Nanti aku sama Naufal pesan taksi online." "Taksi online? Jam segini masih ada?" Fardo menatap datar adiknya. "Ada. Itu, di luar sana." Lusi menunjuk pintu yang terletak cukup jauh darinya. Fardo mengikuti arah yang Lusi tunjuk. Ia membersut. "Hehehe. Kakak bingung ya? Nanti aku tunjukin." Lusi pergi sembari menuntun Naufal. Mulut Naufal tidak berhenti meracau nama Kila. Lusi ingin sekali mencaci Pacarnya ini, tapi image polosnya bisa hilang nanti. Lusi mengatur nafasnya yang terengah-engah. Dia berhenti terlebih dahulu untuk beristirahat sekigus membenarkan tas selempang yang sudah merosot dari bahunya. Dengan penuh perjuangan, akhirnya mereka sudah keluar dari kelab. Lusi perlahan berjalan ke taksi yang menunggunya dari tadi. Namun, tinggal beberapa langkah lagi, Lusi menabrak seseorang. "Aduh! Kalau jalan pake mata dong." protes Lusi. Orang itu menunduk. Lusi menyipitkan mata karena tidak melihat jelas wajah orang yang menabraknya. Wajah itu ditutupi masker dan juga topi. "Maaf." Iris mata Lusi dan orang itu saling bertubruk. Lusi tidak asing dengan suara itu. Suara itu mirip suara orang yang dia benci. Orang tersebut melanjutkan langkah kembali. Lusi mematung. "Sayang, katanya mau pulang." tegur Naufal masih dibawah pengaruh alkohol. ******* Gadis dengan rambut selalu diikat itu menatap ke arah jendela. Memandangi bulan yang bersinar menerangi gelapnya malam. "Lo belum tidur?" Abian menghampiri Kila dengan membawa se gelas kopi s**u di tangannya. "Mata gue melek atau merem?" Kila menanya balik. "Melek." "Udah tau kan, jawabannya?" Kila mendecak. "Iya, pinter." tangan Abian mengusak pucuk kepala Kila. "Gak sia-sia gue ajarin lo selama 3 bulan ini." Kila menyewa sebuah rumah lumayan besar. Yang jelas, rumah barunya itu terletak cukup jauh dari rumah Naufal. Dia tidak mau masa lalu ikut campur ke dalam hidup barunya. Sesekali Abian datang dan juga menginap di rumah Kila. Tak ada apa-apa yang terjadi pada Mereka. Kila menganggap Abian sebagai sahabat begitu pun Abian. Kila bahkan sering mengisi waktu dengan belajar meskipun, dia tidak tahu kapan ia akan bersekolah lagi. "Lo belum ajarin gue satu hal." Kila melemparkan senyum samar. "Apa?" "Gimana caranya move on total?" Raut Abian kini berubah menjadi datar. Ia tahu, Gadis di depannya ini belum juga move on dari Naufal. "Sibukin diri, unfoll IG nya, buang semua kenangan yang terkait sama dia bila perlu bakar aja. Jangan lupa, berdoa." "Doa nya kaya gimana?" Abian mengadahkan tangan. Bersiap-siap untuk berdoa. "Nawaitu move on dari mantan. Aamiin." Kila terkekeh. Sikap Abian yang sangat random itu membuat tawanya seakan lepas begitu saja. "Gue suka." Tawa kecil Kila terhenti. "Maksudnya?" "Gue suka liat lo ketawa."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN