Pagi yang cerah. Kila bersih-bersih rumah. Kegiatan ini sudah menjadi kebiasaannya sejak dia menyewa rumah baru ini.
"Lo nggak ada niat buat sekolah lagi?" Abian tiba-tiba datang, membuyarkan lamunan Kila.
"Entah. Gue masih... ragu," Kila menunduk saat merasa Abian menatap dirinya.
"Ini kesempatan lo buat perbaiki masa depan lo, Kil."
"Tapi ada dia. Gue gak mau." Kila menghela nafas panjang. Hatinya merasa sakit saat melihat wajah Cowok itu terlebih lagi, malam kemarin dia menyaksikan Naufal dan Lusi keluar dari kelab malam. Kila yakin, Mereka berpacaran.
"Jadi lo mau merusak masa depan lo lagi gara-gara Naufal? Gue tau, lo trauma. Tapi rasa trauma itu gak cocok buat jatuhin lo untuk kedua kali."
"Terus... gue harus apa?"
"Lawan rasa trauma itu biar lo bisa bangkit dan gak hidup lagi dalam keterpurukan." sahut Abian puitis. "Lo mau berdiri di tempat itu mulu atau melangkah fase yang lebih baik?"
"Melangkah."
"Bagus. Masih ada waktu 1 jam buat siap-siap."
Kila mengangguk. Senyum manis terbit di bibirnya. Tanpa aba-aba dia memeluk Abian.
"Makasih lo udah buat gue yakin untuk bangkit."
*********
"Gue denger ada murid baru."
"Hah? Serius lo?"
"Seribu rius!"
"Namanya siapa? Cewek apa cowok? Tinggalnya di mana?"
"Cewek. Apa lo masih mau tau?"
"Gak lah. Kalau cowok udah gue gebet."
"Cowok mulu lo pikirannya!"
Dania yang mendengar percakapan mereka langsung penasaran menghampiri. "Bisik-bisik apa kalian?"
Kedua adik kelas itu mengatupkan bibir. Dania dikenal sebagai kakak kelas galak dan juga tegas. Jadi mereka merasa was-was.
"Anu... Kak, kata teman saya bakal ada murid baru di sekolah ini."
"Oh." Dania melengos pergi begitu saja. Topik pembahasan adik kelasnya itu tidak menarik bagi seorang Dania. Tepat di dalam kelas, dia mencari-cari Dasha. Janji temannya itu akan ke kelas pagi-pagi untuk mengerjakan PR bersama, tapi sampai sekarang belum datang sama sekali. Lain dimulut, lain juga ditindakan.
Dania mendudukkan diri di bangku sebelah bangku milik Dasha. Ya, bangku itu dulunya ditempati oleh Kila. Entah kemana Gadis tersebut pergi. Dania masih belum tahu keberadaannya sekarang. Yang membuat Dania kaget, Naufal berubah menjadi murid pembangkang. Dania tidak tahu betul penyebab Naufal berubah gara-gara apa. Tetapi, menurut gosip yang beredar di kalangan adik kelasnya, Naufal berubah karena pengaruh Lusi.
"Weh! Kok bengong?" Dasha menepuk pundak Dania membuat Dania buyar.
"Eh, enggak."
"Gimana? PR sekarang udah selesai?" Dasha menarik bangku kemudian duduk di sana.
"Belum lah. Lo?"
"Belum juga." Dasha nyengir tak berdosa seraya mengusap tenguknya yang tak gatal.
Mereka berdua mengeluarkan buku dari tas masing-masing, lalu saling mengajari satu sama lain. Sesekali Dania memberikan jawaban pada Dasha begitupun sebaliknya.
Tiba-tiba Dania merasakan kandung kemihnya penuh. "Aduh. Gue ke toilet dulu ya."
"Okay." Dasha berdiri, memberi jalan untuk Dania.
Dasha kembali melanjutkan kegiatannya itu. Dia mencari kemudian mencatat semua jawaban dengan teliti tanpa terlewat sedikit pun.
Kening Dasha membersut merasakan ada seseorang duduk di sebelahnya. Apa Dania sudah kembali? Kenapa begitu cepat?
Rasa penasarannya semakin meningkat. Dasha memutuskan untuk menoleh.
Mengejutkan.
Ia membulatkan mata tak percaya. Pemandangan ini... bukan mimpi kan?!
Telapak tangan Dasha menepuk pipinya sendiri menimbulkan bunyi lumayan keras.
"Ki... Kila?"
**********
Suara dering telefon menggema. Tangannya meraba-raba untuk mengambil benda tersebut. Kedua mata layu itu enggan membuka sebab rasanya terlalu berat.
"Ngh... ini siapa?" tanya Naufal ogah-ogahan.
"Kamu baru bangun tidur?! Ini udah jam tujuh! Kamu niat sekolah gak sih?!"
Lengkingan cempreng itu membuat mata Naufal terbelalak. Ia mendecak kesal.
"Turunin suara lo."
"Gak! Kamu siap-siap sekolah sekarang!"
"Bicit. Gak. Gue gak mau." Naufal mematikan sambungan secara sepihak. Tidak peduli jika Lusi koar-koar di sebrang sana.
Ketika dia menyampingkan badan ke arah kanan, wajah Gadis itu melintas dibenaknya. Dulu pagi itu mereka bangun dan saling menatap satu sama lain. Tapi sekarang, yang tersisa hanyalah kenangan. Kenangan menyakitkan.
Naufal cepat-cepat berdiri. Dia mengacak kasar rambutnya. Frustasi.
Tetapi, saat dia berdiri kepalanya terasa pening. Pasti gara-gara pengaruh alkohol semalam.
"Argh!" Naufal menggeram sambil memegang kepalanya.
Pintu terbuka menampakkan sosok Yuni membawa satu nampan berisi mangkuk.
Yuni menatap khawatir putranya. "Makan sup ini. Nanti pusing kamu hilang." dia menyodorkan mangkuk tersebut, tapi Naufal langsung menepisnya membuat wadah itu jatuh ke lantai lalu pecah.
Hati Yuni kembali teriris.
"Gue gak butuh." Naufal beranjak ke kamar mandi. Meninggalkan Yuni yang kini matanya sudah berkaca-kaca.
Yuni menatap langit kamar. Ia menahan air matanya supaya tidak keluar. Hal ini sudah biasa. Setiap hari, dia berpikir apa yang menyebabkan putranya berubah?
*********
Dania lega. Kandung kemihnya terasa kempis. Hendak keluar, namun niatnya urung saat mendengar derap langkah kaki masuk ke dalam ruangan kamar mandi.
Orang itu berhenti di depan wastafel. Dania yakin.
"Gue denger Alesya balik lagi ke sekolah ini loh!"
Mendengar nama sahabatnya disebut, Dania menyelipkan sisa rambut ke telinga, lalu menempelkan telinga tepat di pintu tersebut.
"Alesya Kak Kila itu?" tanya salah satu cewek bersuara sopran.
"Iya. Ini udah tiga bulan loh. Seenaknya dia main masuk ke sekolah ini gitu aja."
"Lo lupa? Ayahnya pemilik sekolah ini. Anak sultan mah bebas mau berangkat atau gak."
"Iya bebas, tapi nanti jadi guoblok!"
"Biasa aja kali. Jangan ngegas lo."
Dania membekap mulutnya. Ia tadi tidak salah dengar kan?
Dania berdeham beberapa kali membuat kegiatan gosip kedua wanita itu terhenti.
"Kak Dania dengar semuanya?" lirih salah satu adik kelas.
"Gak kok." Dania melanggang pergi. Kedua adik kelas itu mendesau lega. Mereka terhindar dari pukulan kakak kelas yang sudah terkenal galak.
Usai keluar dari kamar mandi, ekspresi Dania berubah menjadi serius, tidak santai seperti di depan kedua adik kelasnya tadi. Dia melangkah cepat. Para murid memberi jalan karena tak ingin terkena masalah.
Benar.
Gosip adik kelasnya ternyata memang benar. Ada Kila sedang duduk di sebelah Dasha.
Dania syok sekaligus senang. Dia kira sahabatnya tak akan pernah kembali, namun nyatanya tidak.
"Kila!" pekik Dania.
Kila terperangah. Ia tersenyum lebar, lantas berdiri sambil merentangkan tangan.
Kedua sahabat itu saling berpelukan. Menumpahkan rindu satu sama lain.
Dania melepaskan pelukan. "Ini beneran lo kan? Lo kemana aja?" ia meraba wajah Kila. "Tumben lo gak diponi lagi? Rambut lo udah panjang ih. Penampilan lo beda banget sih." Dania yang tadinya cewek tomboy dan kalem kini bertransformasi menjadi cewek lebay sebab reaksinya itu berlebihan.
"Gue udah berubah, Dan."
Kila memalingkan muka ke arah lain. Dia tidak sengaja menangkap seseorang.
Orang itu...