PART 82

969 Kata
Abian. Cowok itu berdiri di ambang pintu. Kila memalingkan muka ke Dania kembali. “Gue mau ngomong sama Bi—“ “Kamu ada apa ke sini? Cari aku?” belum sempat Kila merampungkan kalimat, Dasha sudah bertanya duluan. “Kenapa?” “Ng—nggak. Yuk duduk.” Kila beringsut duduk di kursi yang sudah lama ia tak duduki. Masa SMA ini, Kila sangat merindukannya. Dia bersyukur karena kerinduannya itu bisa terobati hari ini. "Gue mau bicara sama Abian dulu ya. Nanti kita ngobrol lagi," Dasha melangkah, Kila dan Dania memberi jalan. Abian menatap datar wajah Dasha. Ia membalikkan badan, kemudian menarik langkan begitu saja tanpa mempedulikan Dasha yang sedang mengejarnya. "Tunggu!" gertak Dasha. Usai berhasil menjejeri langkah Abian, dia memegang erat lengan pacarnya tersebut. "Mau apa?" sebisa mungkin, Abian menunjukkan raut muka biasa saja. Ia tak ingin penyakit Dasha kambuh. Bisa-bisa dia jadi repot. "Lo kenapa tadi ke kelas?" "Gue cuma mau liat lo aja." Mata Dasha berbinar-binar. Senyum di bibir tipisnya kini mengembang. Satu langkah, Dasha maju. Dia berjinjit kemudian permukaan bibirnya menyentuh pipi Abian. Spontan murid yang tak sengaja mereka langsung tercengang. Ada juga yang iri. Abian memiliki wajah cukup tampan, jadi wajar semua murid cewek cemburu melihat adegan itu. Abian mematung. Ini pertama kalinya dia dicium seperti tadi. Bel masuk berbunyi. Dasha segera berlari ke dalam kelas dengan muka memerah bak kepiting rebus. Bu Dera--guru matematika masuk ke kelas sambil membawa buku tebal. Sesi absen pun dimulai. "Dasha Hafia..." "Hadir, Bu!" "Dania Aurelia..." "Hadir, Bu." "Alesya Kilatha Aurora." Bu Dera menatap murid yang baru saja dia panggil. "Kamu udah sembuh?" "Alhamdulillah. Udah, Bu." sahut Kila merasa tidak enak. Selama 3 bulan ini, dia berbohong kalau ia koma di luar negeri. "Bagus. Oke saya lanjutkan." Beliau berdeham beberapa kali. "Naufal Givano..." Tak ada sahutan. "Naufal Givano!" Lagi-lagi tidak ada jawaban. Kila menengok ke arah belakang untuk memastikan Naufal ada atau tidak. Ternyata Cowok itu tidak ada sama sekali. Tidak lama setelahnya, murid cowok tergesa-gesa masuk ke dalam kelas hingga menimbulkan suara riuh. "Kamu telat lagi?!" wanita paruhbaya itu melotot. Kila membulatkan mata, bukan karena marah melainkan terkejut. Setahunya, Naufal tidak pernah telat dan tak akan mau berangkat telat. "Maaf, Bu." Naufal mencium punggung tangan Bu Dera, kemudian menarik langkah ke bangkunya. Naufal tersentak begitu pun Kila. Iris mata Mereka saling bertubruk. Buru-buru Kila mangalihkan pandangan ke arah lain. Cukup satu kali saja dia jatuh cinta pada Cowok tersebut, tapi untuk kedua kali, ia tidak akan pernah! ********* "Kil, nomor Tante Yana sama Om Edwin kok gak aktif? Gue mau telefon mereka buat tanya keadaan lo eh, malah gak aktif." tutur Dania dengan mulut penuh makanan, tapi suaranya masih jelas. "Uhukk... uhuk..." Kila terbatuk. Dasha yang berada di sampingnya langsung memberi gelas berisi air putih. Kila segera menghabiskan isi gelas itu dengan cepat hingga habis tak tersisa. "Anu... orang tua gue udah ganti nomor." Kila cengengesan. "Minta." "Apanya?" "Nomor orang tua lo lah," "Gue gak inget nomornya." jantung Kila berdegup kencang. Semoga saja Dania tidak menanya lebih dalam. Dia sama sekali tidak tahu nomor orang tuanya. Jangankan tahu nomor, bertemu mereka berdua pun tidak pernah selama setengah tahun ini. "Ntar lo--" "Gue gabung boleh?" Abian tiba-tiba datang. Kila mendesau lega. "Boleh." Dasha mempersilahkan. Senyum lebar terbit di bibirnya. Abian membalas senyum. Dia lantas duduk di samping Dasha. "Cieee... lo kayaknya udah mulai suka Dasha ya?" tanya Dania dengan raut muka menggoda. Dasha tertunduk malu. Namun, tiba-tiba tangan Abian menggenggam jari-jarinya. "Gue gak salah buat belajar menyukai seseorang kan?" Dasha merasakan, di dalam perutnya ada banyak kupu-kupu yang bertebrangan. Sedangkan Kila mengangkat sudut bibir, ikut senang melihat Abian sudah berubah. "Serah lo deh. Iri gue sama kalian berdua." sinis Dania lalu kembali melanjutkan aktivitas makannya. "Gue izin ke toilet dulu ya." pamit Kila langsung dibalas anggukan oleh Dania dan juga Dasha. Kila membalas sapaan yang dilontarkan murid ketika dirinya lewat. Namun, senyum lebar perlahan memudar. Dua sosok itu membuka luka Kila yang tadinya tertutup rapat kini terbuka lebar. Tak jauh darinya, Naufal sedang mengobrol dengan Lusi, tetapi jarak mereka amat dekat. Kila menggeleng pelan. Ia melanjutkan langkah, berusaha tidak menganggap Naufal dan Lusi ada. Dan sialnya, tepat saat Kila melintas di samping Naufal, Ayu--sang adik kelas berdiri. Mencegat langkah Kila. "Kak Kila udah sembuh? Ayu kangen banget sama Kakak. Banyak yang nanyain keadaan kakak ke aku. Aku jelas gak tau lah." Perempuan berambut pendek itu mulai curhat. Kila tersenyum paksa. Kenapa Ayu menghentikan langkahnya di dekat Naufal? Padahal dia berusaha mati-matian untuk menghindari Naufal. "Udah sembuh, Ay." jawab Kila akhirnya. "Gue permisi dulu. Mau ke toilet." "Oke. Babay!" seru Ayu sembari melambaikan tangan. Netra cokelatnya beralih pada Naufal. "Kakak kok gak istirahat bareng sama Kak Kila?" Lusi menyorot tajam memberi isyarat pada Ayu untuk diam. "Ayo. Kita pergi." sela Lusi saat Naufal hendak menjawab. "Lepas. Gak usah ngatur gue." Naufal menghempaskan lengan Lusi. Ayu mengatupkan bibir, berusaha menahan tawanya agar tidak pecah. Naufal berbalik badan, melangkah di arah yang berlawanan. Pikiran Lusi berkelana, jangan-jangan Naufal akan menghampiri Kila. Dia menyentuh kasar bahu Ayu sebelum pergi menyusul. 10 langkah. Naufal merasa ada yang mengikutinya. Dengan sigap, dia menengok ke belakang. Lusi terkesiap. Ia spontan berhenti. "A--aku ik--" "Pergi. Jangan jadi penguntit." ujar Naufal penuh penekanan. "Tapi aku kan, pacar kamu! Masa gak boleh ngikutin pacar sendiri." lawan Lusi tak mau kalah. "Pergi atau putus?" ancaman Naufal sukses membuat Lusi mati kutu. Ia tidak berani melawan lagi. Perlahan, dia berbalik badan dengan kepala tertunduk. Naufal mengamati Lusi hingga Gadis itu sampai di belokan yang mengarah ke kantin. Lusi sudah tidak kelihatan lagi. Dia melanjutkan jalannya. Ada satu pertanyaan terus bersarang di pikiran Naufal. Seharusnya usia kandungan Kila 6 bulan dan perutnya pasti membesar, tetapi sekarang? Cewek itu masuk sekolah dengan keadaan perut datar seperti wanita tidak hamil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN