Kila POV
Aku baru saja keluar kamar mandi. Sebelum keluar, aku mendengar suara seseorang di luar. Aku bingung, biasanya kan tidak seramai itu.
Kosong.
Tidak ada satu orang pun di ruangan ini. Artinya aku sendirian. Tapi, kenapa tadi kedengaran ramai sekali? Bukan kah itu sangat aneh?
Tiba-tiba tanganku ditarik oleh seseorang. Aku ingin berteriak, tetapi setelah mengetahui ternyata Naufal yang menarikku, aku urungkan diri untuk berdengking. Dia tak mengatakan apa pun. Yang aku benci, genggamannya sangat kencang dan itu menyakitkan.
Rooftop.
Dia berhenti di tempat itu dan sekarang, badannya menghadap ke ragaku. Aku menelan ludah susah payah. Naufal terlihat berbeda. Gaya rambut, seragam dikeluarkan dari celana, dan dia tidak memakai dasi sekaligus membuka dua kancing seragamnya, menampakkan kaus hitam.
“Lo... kenapa sekolah?”
Apa? Pertanyaan macam apa itu? Jadi dia menyeretku ke rooftop untuk menanyakan hal itu?
“Bukan urusan lo.” ucapku. Aku hendak melenggang pergi dari sana, tetapi Naufal malah menarikku ke dalam pelukannya. Dasar gila! Maksudnya apa coba?
“Lepas!” aku memukul-mukul d**a Naufal. Tetap tidak bisa karena tenaganya lebih besar.
Detik demi detik berlalu, akhirnya dia melepaskan dekapan. Kenapa jantung ini berdetak sama seperti pada masa itu? Apa aku jatuh cinta untuk kedua kali? Tapi aku tidak mau masuk ke dalam benalu yang sama lagi. Aku tidak mau masa depanku hancur untuk dua kalinya.
“Lo gak punya hati! Jangan bilang, lo gugurin bayi itu?!” simpulnya.
Aku kontan menggeleng cepat. “ng—nggak. Gue nggak gugurin! Malam itu gue ke—“
“Jangan ngeles! Dia salah apa sampai-sampai lo bunuh? Seharusnya Abian aja yang lo bunuh. Dia udah merusak masa depan lo. Kenapa bayi gak bersalah, lo malah matiin?”
Hatiku mendesir perih. Naufal tidak tahu atau pura-pura tak tahu kalau bayi itu anaknya?
“Udah gue bilang, bayi itu anak lo, Fal. Kata siapa bayi itu anaknya Bian? Kata siapa, Fal?” aku menatap sendu. Dia justru membuang muka seakan tidak mau menatap wajahku.
Jadi, ini definisi rasa sakit tidak berdarah?
Dulu, dia sangat perhatian, baik dan bersikap hangat, tapi sekarang? Dia sepertinya amat membenciku sampai-sampai dia tidak berani menatap mataku lagi.
“Jangan drama. Gue nggak akan kena tipuan lo lagi. Naufal yang mudah dibodohi sekarang udah mati. Dan, jangan harap Naufal yang dulu balik lagi.” ucapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Dadaku terasa penuh. Aku berusaha menahan air mataku agar tidak melesat jatuh, namun desakan itu amat kuat hingga air mataku turun membasahi pipi. “gue gak bohong, Fal. Gue keguguran malam itu dan juga gue ngelakuin itu Cuma sama lo...” aku berusaha meraih lengannya, tapi dia melangkah mundur.
“Jauh-jauh dari gue, pembohong!”
“Sayang!”
Aku sontak menoleh ke sumber suara.
Lusi. Dia berjalan mendekatiku dan juga Naufal pastinya.
“Kamu ngapain di sini, Yang? Bukannya aku udah suruh jangan ngikutin aku?”
Aku menatap nanar mereka berdua. Benar kan, dugaanku. Lusi dan Naufal berpacaran. Sebutan itu mengapa rasanya sakit ketika aku dengar?
Tampak Naufal menarik pinggang Lusi. Jarak mereka benar-benar terkikis. Aku mengalihkan pandangan ke arah lain. Tanganku mengepal kuat. Air mata sudah mengalir deras sedari tadi.
“Kamu kok sama Kila?” tanya Lusi. “Kil, kamu bicara apa sama Naufal? Keliatannya kalian berantem,” Lusi bertanya kepadaku. Aku menggeleng pelan, tidak mungkin kan kalau aku berkata sebenarnya?
“Udah, Yang. Kamu gak perlu tau.” dari ekor mata, aku melihat Naufal menangkup pipi Lusi. Kemudian dia memajukan wajahnya. Tidak, aku tak sanggup menyaksikannya. Terlalu menyakitkan. Aku berjalan cepat meninggalkan mereka. Aku tidak peduli apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
Usai sampai di lantai bawah, tubuhku ambruk. Aku menangis tanpa suara. Aku menyesal.
Seharusnya aku tidak bertemu Naufal.
Seharusnya aku tidak jatuh cinta pada Naufal.
Seharusnya Naufal tidak menjadi guru privatku waktu itu.
Namun, semua sudah terlanjur. Aku benci diriku sendiri. Aku begitu bodoh!
Aku memeluk lututku sendiri, menenggelamkan wajahku. Dulu Naufal pernah berjanji tidak akan jatuh cinta apalagi pacaran dengan Lusi, tapi sekarang janji itu lenyap seketika. Entah ke mana.
Hari ini, aku mengambil pelajaran untuk diriku sendiri. Jangan percaya orang lain sekalipun orang itu adalah orang yang kita sayangi. Bisa saja orang itu berkhianat dan membuat kita jatuh. Sama seperti apa yang aku alami hari ini.
Aku merasakan rambutku dielus oleh sebuah tangan. Aku mendongak, mendapati Abian berdiri sambil memberi senyuman ke arahku. Dia memberi uluran tangan. Aku menerimanya.
“Lo kenapa nangis, hm?”