PART 84

1093 Kata
AUTHOR POV Kila menggeleng pelan sambil mengusap air matanya. "Tadi... gue injak tikus jadi nangis deh," "Jangan bohong. Cowok culun itu bilang apa ke lo?" "Gak. Bahkan gue gak ketemu dia hari ini." bohong Kila. Abian terus mengamatinya dengan tatapan menyelidik. Kila meninju pelan d**a Cowok di depannya itu. "Biasa aja kali kalo ngeliatin gue." "Sumpah demi apa?" "Apanya?" Kila mengernyit. "Sumpah demi apa, lo gak bohong?" "Sumpah demi gue sendiri. Udah ah. Ayo balik lagi ke kantin." Kila berjalan begitu saja melewati Abian. Cowok berawakan tinggi itu, mau tidak mau menyusul Kila. Dia merasa aneh. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Gadis di depannya ini. Tapi sesuatu apa? Dia ingin berjalan ke rooftop, namun takut sebab sebentar lagi bel masuk berbunyi. Langkah Kila terhenti. Ia menoleh sedikit ke belakang. "Jangan bareng kalau jalan. Nanti Dasha cemburu." "Eh, elo! Lo kok lama banget ke toilet? Ngantri ya?" tanya Dania pada Kila saat Gadis itu mendudukkan diri di sebelahnya. "Iya," "Mata lo sembab? Habis nangis?" lanjut Dania kembali bertanya. Kila mengibaskan tangan. "Nggak. Gue cuma kelilipan kok. Masa iya, gue nangis. Gue gak secengeng itu." lagi-lagi Kila berbohong. Dia tidak ingin orang lain tahu tentang lukanya yang begitu dalam sekaligus amat perih. Ia ingin terlihat kuat di depan orang lain karena sejak awal sekolah, Kila terkenal sebagai gadis penuh semangat yang membawa energi positif bagi orang di sekitarnya. "Kirain. Buru abisin makanannya. Lima menit lagi bel." ********* Kila duduk di bangku depan gerbang sambil terus melihat kanan-kiri. Berharap ada angkutan umum yang datang. Tidak hanya dia yang menunggu, bahkan sebagian murid pun ikut menunggu. Kecuali, murid yang ogah menaiki angkutan umum termasuk Naufal. Cowok itu mengendarai motornya dengan ugal-ugalan, mengabaikan sumpah serapah para murid yang hampir saja tertabrak. Kila begitu tidak menyangka. Naufal menjadi Cowok yang ia tak kenal sebab sudah berubah 180 derajat. "Lo kaget kan?" Dania mendadak sudah ada di samping Kila. "Dua bulan lalu, Naufal gabung di geng Dilivers, genk yang dipimpin Fardo. Gue gak tau pasti penyebabnya apa, dia ikut tawuran, sering bolos, masuk telat dan selalu bikin keributan. Dia bukan Naufal murid yang taat kaya dulu, Kil." tutur Dania. Helaan Nafas terdengar, Dania kembali berkata. "Lusi kayaknya udah beri pengaruh buruk ke Naufal." "Tapi kan, Lusi itu cewek polos, Dan. Gak mungkin dia kaya gitu." respons Kila. "Lusi itu pura-pura polos, Kil. Gue tau karena waktu itu dia fitnah gue dan ngadu ke kakaknya yang enggak-enggak terus gue ditampar." "Serius?" "Iya. Suwer, gue jujur. Saran gue, lo jangan cari masalah sama Cewek yang namanya Lusi itu. Kalau gak, siap-siap aja lo bakal dikasih pelajaran sama Fardo." "Lo lagi ngancam gue?" sungut Kila. "Gak woy. Gue cuma kasih tau aja biar lo waspada." "Gue... gak takut." Kila dengan mantap mengucapkan kata itu. Ia tidak memikirkan apa yang akan Fardo lakukan setelah mendengar kata tadi. "Eh, gue mau main ke rumah lo dong. Boleh kan?" Seketika Kila terbelalak. "A... anu.. rumah orang tua gue lagi ko--" "Mau naik?" Kila mendesau lega. Untuk kedua kalinya, Abian sudah menyelamatkannya. Kila mengangkat sudut bibir. Dia berdiri, naik ke motor itu, tapi tunggu. "Dasha gimana?" Kila bertanya. "Dia di dalam kelas. Katanya dia nanti dijemput bokapnya." sahut Abian sambil menyerahkan helm. Kila langsung memakainya. Setelah sudah siap, ia melambaikan tangan pada Dania. "Bye..." Dan saat itu juga,kendaraan roda empat tersebut melesat jauh. "Sejak kapan mereka jadi akrab?" ********* "Bian... Bian... kita berhenti dulu. Gue laper." Kila menepuk-nepuk punggung Abian dari belakang. "Iya-iya." melihat warung di depannya, Cowok itu menepi. Menghentikan motor. Wanita paruhbaya menyambut mereka berdua dengan senyuman ramah. "Silahkan duduk. Kalian mau pesan apa?" "Mie ayam. Lo?" Kila menatap Abian. "Sama." Sang pelayan pun menulis pesanan keduanya di kertas. "Minumannya?" "Eum, jus lemon aja. Lo?" Kila kembali bertanya pada Abian. "Sama." "Huuu.. tukang nyontek." Kila bersorak. "Huuuu... cewek manja." sahut Abian tak mau kalah. "Ih! Kapan gue manja?" "Setiap hari." "Kaya gimana?" "Pikir sendiri." Kila berkacak pinggang. Dia menatap sebal Cowok di sampingnya ini. Rasanya ingin melempar tubuh Cowok itu ke got saja. "Maaf, kalian serasi." mendapat tatapan tajam usai mengatakan itu, sang pelayan menelan ludah susah payah. Ia kemudian berdeham beberapa kali. "Jadi pesanannya 2 porsi mie ayam dan 2 gelas jus lemon. Benar?" "Iya." "Iya." Sahut Mereka berdua secara bersamaan. Sang pelayang menggeleng pelan, lalu dia pergi ke arah berlawanan untuk menyiapkan pesanan. Mereka berdua diam. Hanya suara beberapa orang di sekitar mereka yang sedang mengobrol. Tiba-tiba suasana tenang sekaligus nyaman itu rusak oleh suara riuh di luar warung tepatnya di jalan raya depan sana. Kila berdiri dari duduk. Ia mengamati kerumunan orang di luar sana. Orang-orang itu... membawa s*****a tajam! "Jangan keluar dulu." Abian ikut berdiri. Ia menggenggam erat lengan Kila. "Mereka mau ngapain? Kok ada yang pake seragam kaya kita?" sungguh, Kila amat bingung. Abian bergerak cepat mengambil tasnya kemudian mengeluarkan dua jaket. Satunya untuk dia sendiri, satunya lagi untuk Kila. Kila bertanya-tanya saat Abian memakaikan jaket itu di tubuhnya. "Lo jangan lepas ini, oke? Nanti lo dikira ikut tawuran trus dilukai sama murid sekolah lain." "Ini... ini maksudnya apa, Bian? Kenapa gue harus pake jaket? Trus mereka lagi ngapain?" Kila panik. "Mereka lagi tawuran." "A-apa? Gue gak salah dengar kan? Perasaan sekolah kita nggak ada yang namanya tawuran." "Udah. Lo fokus ke bangku lo sendiri. Jangan liat ke luar." Kila mengangguk kikuk. Mendadak wajah Naufal melintas di benaknya. Apa jangan-jangan cowok itu ikut tawuran juga? Menyadari Abian mulai fokus bermain ponsel, Kila memberanikan diri menengok ke belakang. Benar. Naufal ada di sana sambil membawa sabit tajam. Kila lihat, cowok itu menyerang murid sekolah lain bahkan ada yang sampai terkapar lemah bersimbah darah. Terkejut? Tentu. Kila merasa Naufal yang dia lihat sekarang, bukan Naufal yang sesungguhnya. Mengapa begitu kejam? Mengapa Naufal ikut tawuran? Kila tak habis pikir. Dia tak akan membiarkan itu terjadi. Walaupun Naufal sudah menyakitinya, dia tidak berniat untuk balas dendam. Ia justru ingin menolong Cowok itu agar keluar dari tawuran sehingga tak terluka. "Bian..." panggil Kila. "Apa?" "Gue mau ke toilet dulu." "Oke. Perlu gue anter?" Kila menggelengkan tangan. "Nggak usah. Gue bisa sendiri." ia bangkit. Abian balas mengangguk. Dia berlari cepat ke arah kamar mandi yang berada tepat di samping restoran. Setelah selesai membuang air kecil, dia keluar. Kebetulan, di kamar mandi itu terdapat pintu belakang yang menyambung ke jalan raya, tempat tawuran. Kila mengendap-endap berjalan ke jalan raya tersebut. Dia tidak tega melihat Naufal terluka dan juga ia tak mau Naufal ditangkap polisi. Nekat, Kila bergabung di kerumunan kelompok pelajar yang sedang tawuran. "Naufal!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN