Naufal tidak menghiraukan panggilan Kila. Dia malah menyerang murid dari sekolah lain semakin brutal.
Hendak mendekati Naufal, dia dicegat oleh dua murid asing dengan seragam berbeda. Kila tergemap sekaligus gemetar. Masing-masing di tangan mereka membawa pisau.
"Lo murid sekolah mana, hah?!" Cowok berambut gondrong itu membentak.
Tangan Kila gemetar hebat. Bintik-bintik keringat mulai muncul di keningnya. Perlahan, dia melangkah mundur.
"Jawab! Lo bisu?!" Cowok yang satunya bertanya.
Kila menggeleng. "Gu... gue... bu... bukan murid sekolah mana pun."
Sang Cowok melihat dasi dari celah jaket. Ia bisa mengenal, dasi itu mirip dengan dasi musuh sekolahnya.
"Kelihatannya dia dari sekolah sebelah. Lo liat dasi itu?" bisik sang cowok pada temannya.
"Liat, Bos. Kayaknya kita harus kasih pelajaran dengan cara istimewa. Wajahnya cantik lagi."
Kila penasaran. Apa yang dibisikkan oleh mereka? Kenapa mereka terlihat mencurigakan?
Cowok berambut gondrong mendekati Kila. Dengan satu tarikan, jaket itu terlepas, menampakkan seragam yang berbeda dari mereka.
"Oh, jadi sekarang ada cewek pemberani ikut tawuran? Hahaha... lo mau cari mati?!"
"Minggir!" baru saja Kila akan menerobos, tapi kedua cowok itu menghadangnya.
"Gue... gak akan nyerang kalian! Biarin gue pergi!" berontak Kila.
"Gak akan semudah itu. Lo mau apa, hm? Lo mau nolongin siapa? Naufal? Cowok perusuh itu? Lo peduli sama cowok perusuh itu ya. Jangan-jangan lo pacarnya?!"
"Lo gak perlu tau!" gertak Kila. Setelahnya, dia menendang tulang kering kedua cowok di depannya.
Refleks mereka terjatuh. Kila buru-buru berlari ke arah Naufal.
"Naufal berhenti!" Kila memberentang lengan Naufal agar berhenti melukai korbannya. Mungkin karena mengira di belakangnya musuh, Naufal menyabet lengan Kila menggunakan sabit.
Lengan Kila berdarah. Cairan merah itu mengucur deras. Kila meringis kesakitan. Telapaknya memegang lengan yang terluka.
"Fal, ayo pergi..." parau Kila.
Naufal melotot. "Lo ngapain di sini?! Seharusnya gue yang minta lo buat pergi!"
Kila menangis. "Gue mohon. Tempat ini bahaya. Gue pengin lo selamat aja. Gak lebih." isaknya.
"Halah! Bilang aja lo mau cari perhatian gue. Tapi sorry, gue gak akan masuk kebohongan lo untuk kedua kalinya." Naufal mencengkram kuat bahu Kila dengan kedua telapak tangannya. "Camkan itu."
"Fal, sakit..." rintih Kila. Naufal melepaskan kasar.
"Pergi."
"Gak."
"Lo--"
"Gue gak akan pergi sebelum lo ikut gue buat pergi. Kita pergi dari tempat ini sama-sama, Fal." ujar Kila dengan suara gemetar. Rasa perih di lengannya semakin menjadi. Tetapi sekuat mungkin Kila tidak boleh lemah di situasi sekarang.
"Jangan ngatur gue. Pergi aja sendiri." Naufal melengos ke depan. Ia kembali menyerang murid lain. Kila mencengkram kuat bahu Naufal.
"Stop, Fal. Lo nyakitin orang lain." suara itu tidak dihiraukan.
"NAUFAL!" dengan sekuat tenaga, Kila akhirnya bisa membuat badan Naufal menghadapnya. Ia segera menampar rahang itu cukup keras hingga si empunya tertoleh ke kiri.
Sudut bibirnya berdarah.
Tenaga Cewek itu sangat kuat sekali.
"Lo berani nampar gue, hah?!" Naufal melotot tidak terima.
"Ayo pulang! Gue gak mau lo buang-buang waktu buat hal yang ngerugiin lo sendiri."
"Ngapain lo peduli sama gue? Lo siapa hm? Jangan bersikap seakan lo punya hak buat ngatur gue!"
"Gue nggak bermaksud ngatur lo, gue ke sini biar lo nggak terluka, Fal. Please, tempat ini bahaya. Sejak kapan lo ikut tawuran? Lo gak sayang sama waktu berhaga lo? Jangan sia-siain masa muda, Fal."
"Apa lo bilang? Gue sia-siain masa muda? Lo ngaca dong! Perbuatan lo lebih sia-sia daripada gue sekarang. Lo drama, pura-pura menghilang dua bulan, lo bohong kalo anak yang lo kandung itu anak gue. Sekarang sadar kan, siapa yang lebih sia-sian waktu."
"Bayi itu emang anak lo, Fal. Gue keguguran tiga bulan lalu gara-gara lo terus nekan gue! Lo terus nuduh gue ada hubungan sama Bian! Padahal lo tau kalau gue sama Bian gak sedeket itu sampai-sampai ngelakuin hal di luar batas. Lo inget kan, hari waktu lo bangun tidur di samping gue." Kila menyeka air matanya. "Malamnya, lo udah rebut hal yang paling berharga di hidup gue."
"Cih, lo pikir gue percaya sama karangan cerita lo itu?!"
"Gue gak ngarang!" elak Kila. Ketika pandangannya lurus ke depan, ia menangkap sosok murid sedang mengenggam s*****a tajam. Sudah diduga, orang itu akan melukai Naufal dari belakang.
"NAUFAL AWAS!" Kila menarik lengan Naufal membuat Cowok itu terjatuh menimpa tubuh Gadis di depannya. Beruntung, dia selamat dari serangan maut tersebut.
Mata mereka saling bertubruk. Detik kemudian, Naufal mengalihkan pandangan. Ia buru-buru berdiri. Kila juga ikut-ikutan berdiri. Lengan seragamnya kini berwarna merah akibat darah terus mengalir deras.
Bibir pucat Kila bergumam, "ki... kita pergi dari sini,"
"Gak. Lo pergi sendiri sana!"
"SEKOLAH KITA MENANG!"
Mendengar kabar yang menurut Naufal membahagiakan, dia langsung mendatangi temannya itu tanpa ada niat untuk menolong Kila sedikit pun.
Tiba-tiba kepalanya terasa pening. Kila mengurungkan niat mengejar Naufal. Keadaan di sekitar mendadak kunang-kunang.
Samar-samar, Kila melihat Naufal pergi menggunakan motornya. Saat itu juga tubuhnya ambruk. Tapi,
Ada seseorang yang menahannya. Kila tidak tahu siapa orang itu.
**********
Naufal mencuci tangan yang terdapat bercak darah lantas dia mengusap wajahnya dengan air. Dia menatap wajahnya sendiri di kaca. Wajah Kila mendadak terlintas di benaknya. Rahang Cowok itu seketika mengeras. Tangannya mengepal kuat. Dia berusaha melawan rasa kasihannya untuk Kila.
“Gue yakin, dia cari perhatian.” monolog Naufal. Ia meninju wastafel itu dengan penuh kebencian. Iya, benci karena dia sebenarnya merasa kasihan pada Kila.
Naufal masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri di sana. Selepas usai, dia mengusak rambutnya yang basah.
Tiba-tiba kedua tangan memeluknya dari belakang. Naufal membulatkan mata. Dengan sigap, dia berbalik ke belakang.
“Aku dateng!”
Sorot mata Naufal berubah menjadi malas. “ngapain lo ke sini?”
“Gue Cuma mau main aja kok. Kebetulan aku punya dua tiket nonton. Kita ke bioskop yuk!” ajak Lusi.
“Gak.”
“Yah, kenapa?”
“Males. Gue capek.”
“Trus ini tiketnya di kemanain? Kan, jadi mubazir,”
“Buang.”
“Enggak mau.”
“Ya udah. Nonton sama cowok lain sana.”
“Kamu aneh ya. Kamu gak cemburu kalau aku nonton sama cowok lain? Kamu itu pacar aku apa bukan sih?”
“Hm.”
“Hm doang?” Lusi mendengus kesal. “kamu nggak mau kasih kenangan indah buat aku? Beruntung aku ngejalanin kemoterapi rutin kalau aku berhenti terus kenapa-kenapa, kamu yang harus tanggung jawab karena kamu orang pertama yang bikin semangat aku hilang untuk sembuh.”
“Ck. Gue tau, lo bohong. Dua bulan lalu, lo bilang kalau hidup lo sisa delapan minggu lagi, tapi liat sekarang. Lo masih hidup dan baik-baik aja.” Naufal berjalan maju. Lusi mundur perlahan. Begitu pun seterusnya sampai-sampai tubuh Lusi menyentuh tembok. Tidak bisa mundur lagi.
Naufal memblok pergerakan Lusi menggunakan kedua tangan. Lusi menatap ke arah lain. Ia sungguh gugup jika sedekat ini! Jemari Naufal menyentuh surai hitam itu. Ia mendekatkan mulutnya di telinga Lusi.
“Bahkan... rambut lo nggak rontok.” Bisik Naufal membuat Lusi merinding.
“Kan, aku ikut pengobatan rutin...” balas Lusi lirih.
“b***h!” Naufal meninju tembok. Lusi memejamkan mata rapat-rapat, ia takut ditinju oleh Cowok di depannya ini.
“Pergi dari sini!” titah Naufal membentak seraya menjauh dari Lusi.
Lusi menunduk ketakutan. Ia berjalan keluar kamar cowok tersebut.
Pintu kamar itu dibanting. Lusi tersentak. Semakin hari sikap Naufal makin kasar padanya.
“Salah gue apa?” batin Lusi.