Ruangan putih.
Itulah yang dilihat Kila sekarang. Samar-samar matanya melihat seorang cowok duduk di tepi ranjang. Kila bisa menduga, orang itu Abian.
Kila berusaha untuk bangun, Abian membantu.
Kila meraba lengan yang tadinya terluka. Kini luka itu sudah dibalut perban.
“Kenapa gabung di tawuran itu?”
Dari nada bicaranya, Kila tahu Abian sedang marah.
“Gu... gue...”
“Lo tau kan, tempat itu bahaya?! Kenapa lo nekat ke sana? Buat apa?” cecar Abian. Nyali Kila untuk berbicara semakin menciut.
“Maaf...”
“Lo sadar gak sih, lo bisa aja mati di tempat itu. Luka di tangan lo cukup parah. Untung aja gue ada di sana kalo gak, tangan lo bisa infeksi. Lebih parahnya lagi diamputasi. Lo mau hal itu terjadi?!”
“Gue... nggak mau Naufal terluka...”
“Apa? Lo masih peduli Cowok b******k itu?”
“Dia ikut tawuran, Bian. Gue takut dia kenapa-kenapa,” lirih Kila.
“Dia siapanya lo? Dia begitu penting sampai-sampai lo bahayain nyawa lo sendiri? Lo harusnya pikir keselamatan lo, Kil!”
“Maaf, Bian.”
“Gue kecewa.” Cowok itu berdiri. Kila panik, ia takut Abian pergi meninggalkannya. Jika itu terjadi, hidup Kila benar-benar sebatang kara.
“Bian tunggu!” Kila menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Begitu sampai di dekat sang cowok, dia langsung memeluk Abian dari belakang. “lo tega ninggalin gue sendirian?”
Abian menghela nafas panjang. Ia berbalik menghadap Kila, “Gue gak akan tega buat pergi ninggalin lo sendiri. Tapi kenapa lo nggak tepatin janji lo?”
Kila mengusap bekas air matanya di pipi. Ia mengingat janji itu, janji yang dia ucapkan ketika di rumah sakit.
*
Acara pemakaman sudah selesai. Di balik kaca mata hitamnya, mata Kila sembab akibat tak berhenti menangis. Dia masih belum rela janinnya pergi untuk selamanya padahal Kila sudah berniat akan menerima bayi itu, tetapi Tuhan malah mengambilnya.
Nisan makam yang sama sekali belum dikasih nama itu dielus oleh telapak Kila. “Maafin, Mama.”
Untuk kesekian kali, tangisnya kembali pecah.
Abian berjongkok di sebelah Kila. Lengannya tergerak untuk mengusap punggung Kila, berusaha menguatkan. Kepala Gadis itu kini menyandar di pundak tegap sang cowok.
“Ini semua salah gue...” parau Kila.
Abian menggeleng pelan. “Lo gak boleh kaya gitu, Kil. Udah mau malem. Yuk pulang.”
Kana mengusap air mata. Ia mengangguk pelan. Setidaknya, ada sisi lain dari kejadian ini. Dia bisa lanjut sekolah dan memperbaiki masa depannya yang hancur.
Pintu ruangan bernuansa putih itu dibuka. Dokter bilang, Kila sudah diperbolehkan pulang setelah 10 jam dirawat untuk dipantau.
Kila melihat setiap sudut rumah itu. "Ini... rumah siapa?"
"Rumah lo."
"Sewaan?"
"Iya." Abian menyerahkan kunci yang baru saja dia keluarkan dari saku. "Mulai sekarang lo tinggal di sini. Kata Dokter, lima hari ke depan lo harus istirahat total. Jangan lakuin hal yang berat. Kalo ada apa-apa, bilang ke gue."
Kila tertegun. Abian begitu baik sekali pada dirinya.
Abian menuntun Kila ke kamar. Sekarang Gadis itu sudah duduk di kepala ranjang.
"Jangan pergi dulu. Gue takut di rumah ini sendirian."
"Iya. Gue bakal nginep di sini."
"Naufal ke mana? Dia tau kalau gue tinggal di rumah ini kan? Kok sejak gue sadar, Naufal sama sekali gak kelihatan? Lo bisa suruh dia ke sini nggak?" cecar Kila meninjau Abian penuh harap.
6 detik berlalu. Abian masih saja belum menjawab.
"Lo denger gue kan?" Kila memegang pundak Abian. menatap wajah Cowok itu penuh penasaran.
Abian melenggut.
"Jadi gimana?"
"Besok gue bakal suruh dia buat nemuin lo."
Esoknya....
"Bian! Lo habis pulang sekolah kan? Naufal mana?"
"Oh iya, gue lupa. Besok aja ya."
"Oke..."
Besoknya lagi...
"Naufal mana?"
"Dia nggak berangkat jadi gak bisa jenguk lo."
"Yah, tapi nggak pa-pa deh. Mungkin dia nggak enak badan."
1 hari kemudian...
"Naufal kok gak ikut lagi? Dia masuk sekolah kan?"
"Iya. Dia katanya nggak bisa ke sini."
"Karena?"
"Dia lagi nemenin neneknya di rumah sakit."
"Tapi kan, neneknya Naufal udah meninggal semua."
"Eh, ma--maksudnya bibinya. Iya, dia lagi nemenin bibinya."
"Dia juga... nggak punya bibi, Bian."
Curiga.
Kila merasakan Abian menyembunyikan sesuatu darinya. Besoknya, dia diam-diam mengikuti Cowok itu ke sekolah. Kila menyembunyikan wajahnya dengan topi dan juga masker.
Lama menunggu, akhirnya pengintaian Kila membuahkan hasil. Saat seluruh sekolah sudah waktunya pulang, dia melihat Naufal. Dan... ada Abian di sana.
Abian mengajak Naufal ke suatu tempat. Kila mengikuti mereka berdua.
"Mau apa lo bawa gue ke sini?"
"Lo harus nemuin Kila. Dia butuh kehadiran lo."
"Gue tanya, urusan gue apa? Gue bukan siapa-siapanya dia. Lo pacar cewek itu, kenapa gak lo aja yang nemuin dia?"
"Gue bukan pacarnya dia!"
"Halah. Jangan ngeles. Gue tau kalian pacaran. Mungkin lo yang suruh dia berbohong dan bilang kalo anak di perutnya itu anak gue. Kalian berdua licik! Pengkhianat! Jangan kira orang berkacamata itu mudah dibodohin orang curang kaya lo dan cewek itu."
"Gue gak ngerti maksud lo." Abian mengatupkan tangan. "Please, gue minta lo buat nemuin dia."
"b*****t!" Naufal mencengkram kuat kerah Abian. "Nggak ngerti? Jelas-jelas lo yang hamilin dia. Lo bilang gak ngerti?"
"Gue gak hamilin dia!"
Bugh!
Satu tinju cukup keras mendarat di rahang Abian hingga dia terhuyung hendak jatuh.
"Mau dia mati, menderita bahkan nangis sampai berdarah-darah, gue nggak akan nemuin dia! Ingat itu. Bila perlu tulis di kepala lo!" Naufal menyorot Abian penuh kebencian.
Mata Kila memanas. Detik kemudian, dia menangis sambil membekap mulutnya agar tidak bersuara. Dengan wajah tertunduk lesu, Kila meninggalkan mereka berdua untuk kembali ke rumahnya.
Saat Abian sampai di rumah, Kila bersikap biasa saja seakan tak terjadi apa-apa. Sorot matanya yang kosong itu menatap Abian kemudian berkata, "Naufal... nggak ikut?" ada pisau tajam menghujam dadanya ketika menyebut nama Cowok yang sudah menjadi cinta pertamanya itu.
"Tadi dia pulang duluan jadi gue nggak sempat bicara. Lo kenapa? Kok matanya sembab?" Abian berusaha mengusap jejak air mata itu, tapi Kila langsung mundur menjauh. Tatapannya kini terpusat pada luka lebam di rahang Abian.
"Pipi lo kenapa?" tentu saja Kila pura-pura tidak tahu.
"Oh ini... di jalan gue nolongin orang dari preman jadi gue kena imbasnya."
Kila tertawa kecil. Lama kelamaan, tawa itu menjadi keras. Saat itu juga air matanya menetes.
"Kil, lo kenapa?"
"Pembohong."
Abian tergemap. "Siapa?"
"Lo. KENAPA LO BOHONG KE GUE, BIAN?! KENAPA? KENAPA LO NGGAK BILANG KALAU NAUFAL GAK MAU NEMUIN GUE LAGI!" tubuh Kila ambruk. Ia menangis kencang.
Hati Abian miris melihat itu. Perlahan dia berjongkok, menarik Kila dalam pelukannya. Namun, Kila memberontak.
"Lo pembohong! Gue benci! Gue benci!"
"Maaf. Gue gak ada pilihan lagi,"
"Lo jahat! Lo lebih jahat dari Naufal! Lo udah ngasih gue harapan buat ketemu cowok itu, tapi lo sendiri yang bikin harapan itu pupus begitu aja. Salah gue apa, Bian?" isak Kila. Ia berdiri, berjalan ke arah dapur kemudian mengambil pisau.
Satu detik lagi, pisau itu akan menyayat urat nadi Kila. Abian berlari cepat.
"Lo gila, hah?!" Abian merebut pisau dari tangan Kila. Ia melempar asal pisau itu. "Bunuh diri gak akan nyelesain masalah lo! Tuhan udah kasih lo kesempatan kedua! Kenapa lo malah mau sia-siain hanya demi cowok b******k itu? Lo harus berpikir jernih dan panjang, Kil. Jangan gegabah. Bunuh diri itu konyol."
Tangis Kila kembali pecah. Abian memeluk tubuh Gadis itu lagi. Kali ini Kila tidak memberontak.
"Lo gak seharusnya nangisin orang yang udah buat lo hancur kaya gini. Dia bahkan sama sekali nggak peduli tentang keadaan lo." terdengar helaan nafas. "Mulai detik ini, lo janji gak akan peduli apapun tentang dia?"
"I--iya. Gue... janji..."