06.30
Pagi yang mendung ini, Kila sudah siap untuk berangkat sekolah. Ia menghadang angkutan umum, lalu naik. Hari ini Abian tidak menjemputnya. Kila tak tahu apa alasannya karena pagi ini Abian tidak menelefon. Setelah sampai di gerbang, Kila langsung disuguhi tatapan murid di sekitarnya mungkin karena lengannya diperban.
“Kila, lengan kamu luka parah?”
Yang dipanggil menengok. “lengan gue Cuma terluka kecil aja.” Kila nyengir. Detik kemudian, matanya mencari seseorang. “Naufal mana? Kok kalian nggak bareng?”
“Oh, dia...” ekspresi Lusi berubah menjadi murung. Kila yang melihat itu merasa penasaran.
“Ada masalah apa?”
“Naufal sekarang masih tidur. Aku udah coba bangunin, tapi dia enggak bangun-bangun.” tutur Lusi.
Kila tercengang. Nyatanya, Naufal benar-benar sudah... berubah. “gue nggak salah denger kan?” sorot mata Kila tidak percaya.
“Enggak, Kil. Aku boleh minta tolong gak? Kamu ke rumah Naufal sekarang ya. Siapa tau, dia bangun kalau dibangunin kamu.”
Permintaan Lusi membuat Kila spontan menggeleng. “gue... bukan siapa-siapanya dia. Gak mungkin kalo dia bangun karena dibangunin gue. Maaf, Lus. Gue nggak bisa nolongin lo.” Kila beranjak meninggalkan Lusi.
Lusi panik. Ia berdiri menghadap Kila untuk menghadang langkah cinta pertama pacarnya itu. “aku mohon. Kamu mau Naufal telat dan dihukum?”
“Bukan urusan gue, Lus.” Kila tersenyum getir.
“Tapi, kamu sebenarnya masih ada rasa sama Naufal kan?” Lusi menyelidik. Perlahan bibir tipisnya tersenyum miring.
“Gue... nggak ada rasa apapun sama dia. Semuanya udah berakhir. Oh iya, gue hari ini piket. Permisi,” Kila main pergi begitu saja.
Lusi menggerutu kesal sebab rencananya gagal. Niat Lusi untuk membuat Kila sakit hati seketika gagal. Rasanya dia ingin meremas kuat perban di lengan Kila agar lawannya itu menangis kesakitan.
Tak terasa, bel sudah berbunyi. Naufal tidak kunjung datang. Lusi menjadi cemas, dia tidak berhentinya menilik ke arah pintu.
“Kil,” panggil Dasha lirih karena tidak mau suaranya terdengar oleh guru.
“Hm?” sahut Kila. Matanya tetap mengarah ke papan tulis, sedangkan tangan kanannya menulis secara pelan-pelan. Jujur, lengannya itu terasa nyeri ketika digerakkan.
“Naufal belum berangkat juga.”
Kegiatan menulis Kila terhenti. Tinjauannya beralih pada Dasha. “Terus kenapa?”
“Gue denger, dia kemarin habis tawuran. Mungkin lukanya parah jadi gak berangkat deh. Mampus! Akhirnya dia kena imbasnya.” Dasha berbisik. Pelan, namun penuh semangat dan juga penekanan.
“Oh.” Respons Kila ogah-ogahan. Toh, mau berkata apa lagi? Jika dia bicara panjang lebar, nanti disangkanya dia masih peduli dan ada rasa pada Naufal.
“Oh doang?”
“Iya.” Kila mengalihkan pandangannya kembali ke papan tulis begitu pun Dasha.
Mendadak gemuruh petir berbunyi disusul oleh hujan lumayan deras. Kila sudah menduga ini sebelumnya. Angin berhembus cukup kencang. Hal itu membuat Pak Reza—guru yang sedang mengajar bergerak untuk menutup pintu.
Namun, beberapa menit setelah pintu ditutup, ada seseorang mendobrak pintu kelas itu cukup kencang sampai-sampai para murid tersentak.
Naufal.
Kila mengamati cowok itu sejenak. Dia kemudian menilik jam dinding yang terletak di atas papan tulis. Jam 08:15, Kila membelalakkan mata. Dulu, Naufal tidak pernah berangkat pada jam segini.
“Kamu kenapa telat lagi?!” Pak Reza melotot. Raut muka Naufal tetap santai.
“Maaf, Pak. Saya kesiangan.” Naufal menjawab.
“Berdiri di depan bendera sekarang!”
“Ya elah, Pak. Saya Cuma telat 45 menit doang.”
“45 menit kamu bilang ‘Cuma’?! Jangan mengelak kamu. Saya bilang berdiri di depan bendera sana ya berdiri! Saya wajib menghukum murid yang tidak disiplin macam kamu!” Beliau membentak. Atmosfer di kelas seketika menjadi tak enak alias tegang.
Naufal mengepalkan tangan. Terpaksa dia berjalan keluar kas untuk melaksanakan hukumannya.
Kila menatap prihatin. Di luar sedang hujan cukup deras, namun Naufal disuruh untuk berdiri di sana.
“Tunggu.” Pak Reza tiba-tiba mencegah. Kila berharap, gurunya itu memberi hukuman lain pada Naufal selain berdiri di depan ben-
“Jangan kembali ke kelas sebelum bel istirahat berbunyi. Artinya, kamu harus berdiri di depan berdera sampai istirahat.” Jelas Pak Reza membuat Kila merasa miris.
Naufal membanting pintu. Pak Reza mengusap d**a melihat kelakuan muridnya itu.
Kini... semua murid tidak ada yang berani membujuk sang guru untuk meringankan hukuman Naufal sebab, jika ada yang membela Naufal maka anak itu akan ikut dihukum.
Menit demi menit berlalu. Kila sesekali menengok ke arah luar. Dasha yang merasa risi melihat pergerakan teman sebangkunya itu langsung mendecak kemudian berkata, “Lo kenapa sih, Kil? Dari tadi liat ke pintu mulu.”
“Eh, anu... gue lagi liat hujan. Adem banget.” Jawab Kila asal.
“Lo aneh ya.” Dasha geleng-geleng. Kila tidak menghiraukan respons Dasha. Sekarang, ia berpikir bagaimana cara agar Naufal bisa bebas dari hukuman. Ia takut Naufal jatuh sakit. Kejadian kemarin tak cukup membuat Kila membenci Naufal. Nyatanya, dia sangat mencintai Cowok itu dan sangat tidak terima jika Naufal kenapa-kenapa.
Satu ide terlintas di otaknya.
“Pak,” Kila mengangkat tangan.
“Ya, ada apa?”
“Saya mau ke toilet, Pak.”
“Jangan lama-lama.”
Kila melenggut. Ia berjalan keluar. Seisi kelas tidak menaruh curiga apa pun. Begitu keluar, Kila melihat Naufal basah kuyup. Kila iba. Ia menarik langkah mendekati Naufal. Murid-murid lain tidak menyadari sebab pintu kelas mereka kompak ditutup supaya kegiatan belajar mengajar tak terganggu.
Grep!
Tangan kurusnya dipegang seseorang.
“Balik ke kelas.” suara berat itu terdengar penuh penekanan. Kila menelan ludah susah payah.
“Abi, dia kehuj—“
“Jangan peduli. Balik ke kelas sekarang.” Oke, Abian kini bersikap layaknya guru pada muridnya. Tetapi, Abian lebih menganggap Kila sebagai adiknya. Ia merasa bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi pada Gadis itu.
Kila menunduk. Dengan ogah-ogahan, dia berjalan ke arah berlawanan.
“Tunggu.”
Mata Kila yang mendadak berbinar-binar itu langsung menoleh.
“Gue... suka panggilan itu.”
Dahi Kila mengerut. “Panggilan mana?”
“Abi. Gue suka dipanggil itu.”
Sementara tidak jauh dari mereka, Naufal memandang tajam kedua insan itu. Bisa-bisanya mereka berdua pacaran. Di depan kelas lagi.
********
Bakso dengan kuah pedas itu habis sekejap setelah dilahap oleh Dania. Kila takjub, sahabatnya itu cepat sekali menyantap makanan.
“Doyan lo?” tanya Kila begitu Dania telah selesai makan.
“Laper! Gue tadi gak sarapan. Nyokap sama bokap nggak ada di rumah.”
“Ada Bi Harti kan? Kenapa lo gak suruh dia buat makanan?”
“Gak. Masakan orang lain sama Nyokap itu bedaa.” Dania mengambil tisu, lalu mengelap mulutnya. Sedangkan Kila melanjutkan aktivitas makannya.
“Gue denger, lo kecelakaan kecil. Itu ceritanya gimana? Kok lo diem aja?”
Kila terhenti. Irinya memandang Dania. “Gue kemarin jatuh dari motor kemarin sore, Dan. Jadi gini deh.” Ia lantas menyuapkan bakso itu ke mulutnya.
“Kirain ikut tawuran.”
“Uhuk... uhuk!” Kila tersendak. Ia mengambil gelas di dekatnya, kemudian menengguk hingga habis tak tersisa.
“Nggak kelas sepuluh sama sebelas, lo masih aja tersendak kaya gitu.”
Kila berusaha mengontrol dirinya sendiri. Setelah normal, dia angkat bicara. “gue... enggak ikut tawuran.”
“Iya-iya. Gue Cuma asal ngomong aja.” Dania nyengir. “maaf, ya, udah bikin lo kesendak.”
“Gak pa-pa. Dasha ke mana? Dia gak gabung lagi?” cecar Kila.
“Dia lagi sama tunangannya. Tenang aja.”
Detik berikutnya, mereka kembali hening. Mendadak, Kila mengingat sesuatu. Tugas kemarin yang akan dikumpulkan nanti belum dikerjakan! Kila panik. Ia buru-buru bangkit.
“Eh, mau ke mana?”