“Kelas. PR belum dikerjain. Gue ketiduran semalem.”
“Hadeh, ada-ada aja. Ya udah sana. Gue nggak bisa ikut, ya, karena gue mau pesen makanan lagi.” Dania cengengesan. Kila mengangguk sekali. Langkahnya berhenti tepat di depan penjual di kantin. Ia memesan satu bungkus makanan untuk ia makan di dalam kelas nanti. Setelah pesanan diterima, Kila melanjutkan langkah ke kelas. Namun, kala dia melintas di dekat UKS, terdengar suara benda terjatuh.
Kila yang penasaran langsung masuk ke UKS.
Naufal.
Kila mematung. Pikirannya ragu apakah dia harus masuk atau tidak? Tapi, jika dia tidak masuk, ia merasa bersalah. Terlebih lagi ketika melihat gelas yang akan Naufal minum, terjatuh. Kila akhirnya memutuskan untuk masuk.
Kedatangan Gadis itu, membuat suasana hati Naufal menjadi buruk.
“Ngapain lo di sini?” ketus Naufal.
“Lo mau minum kan? Ini,” Kila mengeluarkan botol mineral dari plastik hitam yang ia bawa. “Buat lo.”
Naufal menerima. Kila senang, berarti Naufal sudah memaafkannya.
Cowok itu tersenyum miring. Tanpa basa-basi, ia melempar botol tersebut cukup keras. Kila tergemap. Ia menatap sendu botol yang sudah tergeletak di lantai. Mata Kila memanas, sudah pasti air mata itu mengalir kesekian kalinya. Gara-gara orang yang sama pula.
“Lo pikir gue mau terima botol dari tangan lo yang kotor itu?!” Naufal mendecih. “liat muka lo aja gue gak sudi! Pergi dari depan gue.”
Kila merasa... sedang ada di posisi Dasha. Ternyata kehidupan bisa berputar. Dulu, Dasha begitu mengejar-ngejar cinta Abian, sedangkan Kila sangat akrab dengan Naufal. Tapi sekarang malah sebaliknya. Apakah ini karma? Kila pernah berusaha merebut Abian dari Dasha masa itu.
Kila menyeka air mata. Ia mengambil botol tersebut. “seberapa besar lo benci gue sampai-sampai lo nolak pemberian gue?” Kila tersenyum getir usai ia berdiri kembali. “siapa yang udah nabur racun di otak lo buat benci gue?”
“Pergi b*****t!” gertak Naufal.
Kila masih saja mematung di tempat. “apa pencuci otak lo itu Lusi? Atau Bunda?”
Naufal semakin geram. Ia maju, lantas kedua tangannya mencengkram kuat bahu Kila. “Jangan sebut Ibu gue ‘Bunda’! Cuma Lusi yang boleh manggil sebutan itu. Lo... bukan siapa-siapa. Lo orang asing. Orang asing.” Naufal terus menekankan kata orang asing. Kila menunduk. Entah sejak kapan, pipinya kini mulai basah.
Cengkraman di bahunya semakin kuat. Kila menangis, memohon untuk dilepaskan. Naufal tidak menghiraukan tangisan Kila. Sorot mata laki-laki yang penuh kebencian itu menatap rupa Kila.
“Rasa sakit ini nggak seberapa. Hati gue lebih sakit saat tau lo berbohong besar. Gue benci sama lo, Kil! Gue nyesal udah suka lo. Gue nyesal udah mau jadi guru privat lo. Dari awal, seharusnya kita nggak ketemu.”
Kila menangis tanpa suara. Wajahnya terus melihat ke bawah, tak berani memandang Naufal karena ia tahu, itu hanya membuat Naufal makin benci padanya. Luka sayatan cukup dalam di lengannya terasa amat perih. Ia bisa merasakan lukanya bocor.
Naufal akhirnya melepaskan cengkraman itu. Dan benar saja, Kila menampak telapak tangan Naufal terdapat darah lumayan banyak.
“Fal, bantu gue buat perban luka ini lagi,” pinta Kila berdiri di hadapan Naufal seraya mengatupkan tangan.
“Ogah!” Naufal berlari meninggalkan Kila sendirian.
Tubuh Gadis itu mendadak lemas. Ia sekilas melihat lengannya, perban yang tadi berwarna putih kini merah. Kila berusaha sekuat tenaga untuk mengganti perban lukanya tersebut.
************
Jam akhir pelajaran.
Jantung Kila berdegup kencang. Ia belum mengerjakan PR itu! Keringat sudah keluar dari pori-pori kulitnya.
“Lo kenapa?” Dasha menegur.
“Eh, kenapa?” Kila menanya balik membuat Dasha menghela nafas. Berusaha untuk bersabar.
“Sha, tolongin gue. Gue be—“
“Selamat sore, anak-anak!”
Mampus! Sang guru sudah datang. Kila menggigit bibir bawah. Bagaimana ini? Dia harus memberi alasan apa? Melihat wajah garang Bu Lena, Kila menelan ludah susah payah.
“Sore, Bu!” jawab seisi kelas serempak.
“PR kemarin sudah dikerjakan? Kalau sudah, silahkan bawa kemari.” Beliau menunjuk mejanya sendiri. Para murid pun menurut. Hanya Kila yang tidak berdiri. Tapi... dia merasa ada orang di belakangnya.
Naufal.
Kila mendapati cowok itu tidak mengumpulkan PR sama seperti dirinya. Naufal mengunyah permen karet membuat kesan santai.
Para murid kembali duduk di tempatnya masing-masing.
“Lo nggak ngerjain?” bisik Dasha selirih mungkin.
Kila mengangguk sekali. “gue ketiduran...”
“Gawat!”
Dasha gila! Kenapa Cewek itu teriak? Spontan mata seisi kelas menyorot cewek berambut sebahu itu. Dasha nyengir, ia mengusap lehernya.
“Kila, Naufal. Kalian mengapa tidak mengerjakan PR?!”
Sudah dia duga, Bu Lena memarahinya.
“Berdiri kalian!”
Kila perlahan berdiri, sedangkan Naufal malah sebaliknya.
“Naufal!” bentak Bu Leni cukup keras.
“Apa sih, Bu?” dari nada bicaranya, respons Naufal terdengar meremehkan bukannya takut.
“Berani kamu sama Ibu?! Cepat berdiri!”
Naufal mendengus. Ia akhirnya menuruti perintah Bu Leni.
“Keluar dari kelas. Angkat kaki dan jewer telinga kalian sendiri. Jangan coba-coba lari dari hukuman atau saya akan menambah hukuman kalian!”
Kila mengangguk lemah. Dasha menjadi iba, jika tahu Kila akan dihukum, ia tak akan mengerjakan PR agar ikut dihukum juga.
Kedua makhluk itu telah sampai di kelas. Kila mengangkat satu kaki, tangannya menjewer telinganya sendiri.
Naufal hendak kabur, namun Kila mencegah.
“Ada Pak Reza.” ucap Kila membuat niat Naufal untuk kabur seketika urung alias tidak jadi.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Kila merasa pegal. Ekor matanya melirik Naufal, Cowok itu melaksanakan hukuman sambil memejamkan mata. Apa Naufal tertidur? Ingin Kila mengecek, tetapi dia takut jika direspons menyakitkan sama seperti waktu istirahat tadi.
Tubuh Naufal akan ambruk. Kila refleks menahan. Naufal membuka mata, iris mereka saling bertabrak.
Jantung Kila berdetak kencang, antara bingung dan takut. Ia memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya?!