Pelan-pelan aja kali," Naufal menghampiri Hani. Seketika dia terkejut melihat Kila ada di sana.
"Eh, ada si Kikil." sapa Naufal. Kila mendecak kesal karena namanya yang indah tiba-tiba dirubah seperti itu.
"Wah, siapa ini yang dateng? Pacarnya Bang Matahari? Atau mantan pacarnya?" timbrung Reni, adik Naufal yang baru saja datang dari kamar kesayangannya.
"Manggil matahari lagi, gue tabok mulut lo." dongkol Naufal. Dia sudah muak selalu dipanggil 'matahari', tapi memang dinamanya tertera kata 'matahari'. Namun tetap saja! Naufal tidak mau. Entah apa alasan orangtuanya memberi nama aneh itu.
"Ampun, Bang." kata Reni dengan penuh penyesalan.
Kila yang menyaksikannya merasa puas. Menampak ada seseorang yang melontarkan pembalasannya. Tapi tunggu, siapa wanita itu?
"Duduk, La." Hani mempersilahkan. Kila menuruti.
Sembari menunggu Naufal datang untuk mengajarnya, Kila berbincang-bincang dengan Hani. Namun Kila merasa risih karena sedari tadi Reni selalu memandanginya.
"Maaf, kenapa lo ngelihatin gue terus?" Kila dengan ragu-ragu bertanya.
Reni tersenyum lebar. "Karena takjub,"
"Ha?" bukannya Kila tidak mendengar ucapan Reni, namun dia tidak mengerti maksud perkataan Reni.
"Udah jangan diladenin La. Dia emang suka ngeracau enggak jelas," Hani mendekatkan mulutnya ditelinga kiri Kila. "Karena konon katanya kamar adik gue angker jadi si Reni kesurupan setan yang ada di sana," bisiknya.
Reni yang tak terima, melempar salah satu bantal ke arah Hani. "Bisik-bisik lagi! Gue sumpahin biar b***k tuh kuping!"
Hani menengok dan melemparkan bantal yang tadi Reni lempar ke arah adiknya itu. "Jangan sembarangan lo! Lo enggak tau ayahnya Kila itu siapa."
Reni melipat tangan didada. "Siapa? Siapa?" kepalanya dia majukan seperti orang yang sedang menantang.
"Atasan bokap kita, b**o!" Hani menggeplak kepala Reni dengan entengnya. Dia tak acuh jika Reni kesakitan.
"Gue laporin polisi nih. Kalau lo geplak gue lagi!" kesal Reni. Hani mendecih.
"Emang ada pasalnya?" tanya Hani.
"Ada kok! Lo udah ngelakuin KDKA."
"KDKA apaan?" Hani keder atas perkataan adiknya.
"Ngatain gue b**o, tapi lo sendiri juga bego."
Hani yang tidak sabar menggeplak lengan Reni. "Buruan jawab," raut muka Hani datar pertanda sudah bete menghadapi adiknya yang super duper sangat menyebalkan.
"k*******n Dalam Kakak Adik!" jawab Reni akhirnya dengan muka kusut.
Hani menautkan alis. Ada-ada saja istilah yang diciptakan adiknya itu. Kila yang sedari tadi menyaksikan drama kakak beradik itu ingin sekali tertawa, tapi takut tossa eh, dosa.
Mata Kila terpusat pada Naufal yang sedang mengibas tangan.
"Sini," ajak Naufal.
Kila merotasikan bola matanya, namun tak lama kemudian sudut bibirnya terangkat. "Misi Kakak-kakak. Kila mau belajar dulu," ucapnya dengan sopan.
"Silahkan," pandangan Hani beralih ke Kila setelah itu, ia memandang Reni dengan tatapan sinis. "Tuh, dia sopan. Sedangkan lo? Lo kelakuannya mirip anak enggak punya orangtua,"
Reni menggertakkan gigi. Dia sudah tidak memiliki kesabaran lagi untuk menghadapi Hani. Ibu jari dan jari telunjuknya mencubit kuat kulit tangan Hani.
"AAKKHHH!" jerit Hani. Yuni yang sedang bermain game di kamarnya sendiri mendadak terlonjat kaget.
Kila? Dia juga menengok sekilas sambil menutup lubang telinganya.
"Ribut terus!" protes Yuni mendekati Reni dan Hani.
Kila menggeleng-gelengkan kepala. Suasana rumah Naufal dengan rumahnya sangat berbeda. Kila masuk ke dalam kamar Naufal. Kedua matanya memandangi setiap sudut kamar.
"Kamar gue kelewat bagus ya? Makanya lo liatin kaya gitu." ujar Naufal dengan percaya diri sangat tinggi.
Kila memicingkan mata. "Geer lo. Lo janji enggak bakal ngapa-ngapain gue kan? Awas lo kalau berani ngelakuin itu ke gue!"
Naufal tersenyum singkat. "Dih, PD banget. Siapa juga yang mau kaya gitu ke lo. Lo kebanyakan nonton film dewasa ya?"
"A-apaan sih!" Kila gugup.
"Udah duduk. Buang-buang waktu kalau kita ribut terus," saran Naufal. Kila menarik bangku yang berada di depan Naufal dan kemudian duduk di sana.
***
Malam ini, kedua belah pihak yang akan bertunangan bertemu. Suasana diwarnai sesekali dengan tawa para orangtua yang saling bergurau kecuali, 2 orang yang akan dijodohkan hanya diam. Menutup rapat mulut masing-masing.
Hujan rintik-rintik membuat suasana antara kedua belah pihak menjadi semakin hangat ditambah lagi, sajian-sajian makanan hangat yang sengaja dipesan.
"Jadi Abian sama Dasha sekarang pasang cincin? Kalian berdua setuju kan?" tanya wanita berumur 30-an. Menatap bergantian dua orang yang berada di hadapannya.
Hening, tak ada yang menjawab.
Damar yang duduknya tepat di sebelah Abian, menginjak kaki Abian agar anak angkatnya itu menjawab setuju karena hal ini demi kelancaran bisnisnya.
"Iya. Siap, Tan" Abian terpaksa menjawab. Dasha menatap senang calon tunangannya itu, tak menyangka akan setuju.
"Bagus. Sekarang pasangkan dijari kalian masing-masing" perintah Shinta yang merupakan ibunya Dasha sambil menyodorkan kotak kecil hitam yang isinya merupakan sepasang cincin emas.
Dasha menghampiri Abian dengan senyum terukir diwajahnya. Abian dengan terpaksa memasangkan satu cincin ke jari manis Dasha begitupun sebaliknya. Malam ini mereka resmi memiliki hubungan yang nantinya akan menuju ke jenjang yang lebih serius. Sudut bibir kedua orangtua mereka terangkat, menyaksikan pemasangan cincin tersebut.
"Alhamdulillah... semoga kalian bisa lebih dekat lagi dan kenal satu sama lain. Sebaiknya kita tinggal mereka berdua yuk" ajak Shinta. Damar, Tomo, dan Helmi meninggalkan mereka berdua. Setelah punggung mereka sudah tidak kelihatan, Abian tidak melontarkan pertanyaan apapun apalagi mengobrol ke orang yang baru dikenalnya 1 bulan.
Dasha memandang wajah Abian dengan penuh kebahagiaan, hatinya berbunga-bunga sekarang.
"Makasih ya, lo udah nerima tunangan ini. Kita besok rencananya mau apa nih? Jalan-jalan ke suatu tempat atau ke-"
"DIEM!" bentak Abian, menghentakkan tangannya dan sorot matanya penuh kebencian menatap Gadis yang ada di sebelahnya. Dasha sontak kaget, dia tidak menyangka bahwa Abian tidak berubah dan masih belum bisa menerimanya.
"Lo... lo kenapa kaya gitu?" tanya Dasha dengan takut.
"Gue sama sekali enggak suka lo! Jangan kira setelah tunangan ini, lo nganggep gue udah nerima lo. Gue enggak akan pernah nerima lo walaupun satu detik!" ucap Abian dengan penuh penekanan.
Dasha merasakan sesak didada, asmanya kini kambuh lagi. Dengan segera, ia mengambil botol kecil yang merupakan alat bantu pernafasannya.
Abian mendecih. "penyakitan," ucapnya menghina. Kemudian berlalu begitu saja tak peduli kepada Dasha yang penyakitnya sedang kambuh.
"Gue enggak akan nyerah gitu aja." tekad Dasha, menatap punggung Abian yang berangsur-angsur tidak kelihatan.
"Besok, gue bakal pindah sekolah ke sekolah lo, Abian." lanjut Dasa menggumam.