Abian terbelalak. "Apa?"
"Bian... Bian.. kamu itu gimana sih? Adik saya udah ngangkat kamu jadi anaknya, ngedidik dan merawat kamu. Tapi kok..." Leni memijat kening. "Kenapa kamu hamilin dia?"
"Demi Tuhan. Bian enggak hamilin dia. Kita berdua musuhan dan nggak mungkin ngelakuin itu." elaknya. Namun Leni masih saja tidak percaya.
"Tante enggak mau tau. Pokoknya kamu harus ngaku di depan orangtua dia. Ingat, jangan suruh dia untuk gugurin kandungannya. Bagaimana pun juga, anak itu berhak untuk hidup." Leni berhenti sejenak. "Dan kamu harus nikahin pacarmu itu."
"Tunggu, Tan. Bian nggak ha-"
"Stop! Cukup. Tante udah kecewa banget sama kamu." Leni memalingkan muka. "Seharusnya adik Tante nggak ngadopsi anak ber*ngs*k kaya kamu." ia berjalan ke arah pintu, memegang kenop pintu. "Kamu tau? adik Tante setiap hari berantem sama suaminya untuk apa? Untuk pertahanin kamu biar kamu bisa tetap tinggal di rumahnya." Leni menarik pintu lantas ia keluar.
Abian mematung. Dia mengacak rambutnya frustasi. Tidak tahu harus melakukan apa.
Kila mengerjapkan mata. Dia memegangi kepala yang masih terasa pening. Perlahan, ia mendudukkan diri.
"Lo ngapain di sini?" Kila meninjau Abian.
Abian kontan menengok. "Siapa pacar lo?"
"Loh, kok tiba-tiba ngomong kaya gitu?" pikiran Kila seketika traveling. Jangan-jangan Abian akan menembaknya. Ah, tidak mungkin.
"Jawab."
"Maksud lo apa, sih? Jangan ngadi-ngadi deh, kepala gue masih pusing." keluh Kila memijat pelan jidatnya.
"Lo tau apa kata dokter itu?"
"Ya, paling gue lemas karena nggak makan tadi pagi kan?" duga Kila.
"Di perut lo ada bayi." sorot Abian jijik.
Kila sangat terbelalak. Dia tidak salah dengar kan? Apa telinganya bermasalah karena dia tidak membersihkannya selama 1 minggu ini?
"Kata siapa? Nggak. Gue nggak mungkin hamil." Kila menggeleng kuat. Ia meremas kuat perutnya, akan tetapi Abian memegang kuat lengan Kila.
"Dia nggak salah! Lo dan pacar lo itu yang salah." cegahnya.
"Pemeriksaan tadi pasti salah! Gue bakal beli testpack buat buktiin kalau ini nggak bener." Kila menyibakkan selimut yang tadi menutupi setengah tubuhnya. Ia bergegas ke apotek sebrang sana. Tidak acuh jika ada yang curiga.
***
Sudah beberapa menit berlalu. Kila mengambil alat tes kehamilan itu dari wadah berisi air seninya.
Seketika ia mendesau lega.
"Kan!"
Dia menarik langkah ke Abian. Hari ini Kila akan membuktikan kalau dirinya sama sekali tidak hamil. Berdekatan dengan Cowok saja, ia jarang kecuali, bersama Naufal -- guru privatnya. Itu pun sebagian besar waktu dihabiskan untuk mengajar, bukan bermesra-mesraan. Mungkin Dokter itu tidak fokus kala memeriksanya.
Tok tok tok
Kila mendecak kesal. Memangnya tidak ada kamar mandi selain ini apa. Dengan jengkel, ia memasukkan alat itu di saku rok. Saat dia membuka pintu, terlihat Dasha berekspresi datar tanpa minat.
Kila berjalan maju. "Das," yang dipanggil berhenti tanpa memalingkan muka. "Lo udah istirahat?"
Pertanyaan itu sama sekali tidak digrubis. Menoleh saja tidak apalagi menjawab. Dasha justru masuk ke kamar mandi, membanting pintu cukup keras.
Kila tak habis pikir. Kesalahan 2 minggu lalu ternyata tidak dimaafkan sama sekali.
"Aduh!" seseorang telah menabraknya. Dia merengut kesal. "Ih!"
"Maaf."
Kila melengak. Ternyata Naufal yang menabraknya barusan.
Tanpa basa-basi, Naufal meraba kening Kila cukup lama.
Ah, detak jantungnya sungguh tidak normal sekarang. Dia ingin mengelak, tetapi sesuatu telah menahannya.
"Lo nggak panas. Kenapa tadi pingsan?"
"Gue tadi lupa sarapan!" bintik-bintik keringat mulai muncul. "Udah ah! Gue mau ke kantin. Bye." Kila menjauh dari Cowok berkacamata tersebut.
"Dasar. Niatnya gue mau jalanin tugas, dia malah lari." Naufal menggelengkan pelan kepala. Netranya mendadak terpusat pada benda di depan kaki.
***
"Bian!" seru Kila memanggil. Yang dipanggil kontan menengok.
"Dia pacar lo yang baru?"
"Weh, lo beruntung banget bisa dapetin cewek cantik itu."
"Pajak jadiannya jangan lupa, Bro."
"Dia bukan pacar gue." tandas Abian. Berdiri, kemudian mendekati Kila.
Kala sudah sampai, Abian langsung diseret ke suatu tempat. Entah ke mana. Jangan tanya ekspresi semua murid seperti apa. Para Murid ramai-ramai bergosip hal yang tidak-tidak bahkan ada -- mengatakan kalau Kila genit pada kekasih Dasha.
"Gue mau buktiin!" Kila tak berhenti berbicara. Abian jenuh dibuatnya.
Koridor sepi Kila pilih untuk membicarakan tentang hal itu. Dia melepaskan cekaman, lantas melipat tangan di d**a.
"Gue nggak hamil! Tadi gue udah tes pakai alat itu."
"Bohong." sinis Abian.
Kila mendebik. Makhluk di depannya ini sangat menyebalkan. Dengan bersicepat, dia merogoh rok. Mengambil alat tes itu.
Tapi, tunggu. Mengapa sakunya kosong, tak ada benda satu pun. Apa benda itu jatuh? Ah, tidak. Mungkin dia menaruhnya di saku seragam.
Menyaksikan gerak-gerik Kila kebingungan, Abian menegur, "Mana?" Dia mendecih. "Udah gue duga. Lo pembohong."
***
Naufal memerhatikan benda itu dari bawah ke atas. Beberapa menit berlalu, ia betah mengamati benda yang ia pegang. Tidak berubah. Hasilnya tetap sama. Untuk apa Kila membeli alat ini? Apa dia benar-benar sudah melakukan itu bersama Cowok? Tidak, ia tak boleh berburuk sangka.
"Naufal..." Lusi menampakkan wajah sumringah sebagaimana biasanya.
Buru-buru ia memasukkan benda tersebut di saku celana paling dalam. "Kenapa?"
"Tadaaa..." Lusi membuka kepalan tangan. Permen berperisa mangga itu menggelinding. "Ini jajan kesukaan kamu waktu kamu SD. Inget nggak?"
"Ingat. Udah lama banget gue nggak makan ini. Mungkin sekitar tiga tahun?"
"Iya..." Lusi menopang dagu dengan kedua tangannya. "Kak Fardo kemarin ke rumah nenek. Aku bilang, mau nitip permen itu, jadi dibeliin deh," ia menjeda. "Kamu masih suka?"
"Masih,"
"Kalau aku?" ceplos Lusi lirih.
"Hah?"
"Nggak. Aku suapin mau, ya?" tawar Lusi langsung dibalas anggukan Naufal.
Interaksi Mereka begitu manis. Sampai-sampai Murid yang satu ruangan beranggapan kalau kedua orang itu berpacaran, namun tidak ada yang menjamin kalau berita itu benar.
"Rasanya masih sama?"
"Masih. Manis," Naufal mengunyah permen mangga tersebut.
"Trus rasa kamu ke aku? Apa masih sama?" celetuk Lusi sengaja. Sungguh, ia tidak bisa menahan perasaannya lebih lama lagi. Tidak. Tidak. Tidak. Untuk beberapa hari ke depan, ia akan mengungkapkannya!
"Iya. Rasa persahabatan," Naufal mengulas senyum.
***
Kila menunduk sekaligus mengamati setiap jalan yang dia lalui. Kemana benda itu jatuh? Bagaimana bisa jatuh padahal ia sudah menaruh baik-baik.
Jangan. Jangan sampai ada Murid lain -- menemukan benda itu. Bisa-bisa heboh satu sekolah! Dan... nama baiknya tercoreng!
"Kenapa lo?" Dania mengerutkan dahi. Tumben sekali Kila menunduk seperti anak cupu yang ia lihat hampir setiap hari.
"Lo lihat alat itu nggak?"
Upss. Kila keceplosan!