Dania mengerutkan kening. "Alat apa yang lo maksud?"
"A-anu..." tangan Kila meremas rok seragam yang ia kenakan.
"Lo kenapa?"
Kila memilih pergi begitu saja. Tak peduli dengan Dania yang sedang bertanya-tanya di sana.
"KIL!" seru Dania cukup keras. Yang dipanggil berlari sudah menghilang di belokan.
"Benda itu mana?! Gawat kalau sampai ilang! Ya Tuhan, bantulah hamba-Mu yang malang ini." mata Kila mengeliling ke sana kemari.
"Seharusnya gue hati-hati waktu itu. Seharusnya gue nggak nabrak si Naufal."
Mata Kila seketika membulat. Ia terpaku, setelah mengucapkan kalimat tadi. Jika dirinya menabrak Naufal, berarti otomatis benda itu jatuh tepat di dekat Naufal.
"Jangan-jangan..." Kila menggeleng kuat. Ini tidak bisa dibiarkan. Bisa-bisa ia dijadikan cilok jika Naufal melihat alat itu.
Belum sempat berlari, tubuh Kila ditarik dari samping hingga Gadis itu spontan tergeser. Orang itu menarik Kila ke dalam ruang perpustakaan yang sepi.
"AAA--mmph!" sebuah tangan besar menbekap mulutnya.
Kila terkejut melihat Naufal ada di hadapannya. Lebih terkejutnya lagi, alat tes kehamilan itu ditunjukkan tepat di depan netranya.
"Buat apa lo beli ini?" Naufal melepaskan bekapan.
"Tangan lo bau ikan asin!" misuh Kila yang tidak sesuai kenyataan. "Sini!" tagihnya seraya berusaha meraih benda tersebut.
Naufal tidak memberikannya begitu saja. Dia menaikkan tangan ke atas, lebih tinggi daripada Kila. "Jawab dulu pertanyaan gue."
"Bukan urusan lo!" Kila berjinjit. Tangan kurusnya menggapai-gapai, namun tak berhasil. Naufal lebih tinggi darinya. Sungguh, setelah kejadian ini, ia akan berolahraga keras agar tubuhnya tinggi!
"Boncel." umpat Naufal.
"Cupu!" balas Kila. "Siniin!"
"Jawab dulu."
"Ih! Lo nyebelin banget sih!" Kila menghentakkan kaki. Tangannya mengepal kuat sampai-sampai warna merah nampak. "Urusan lo apa?! Lo jangan belagu, mentang-mentang lo guru privat gue, lo bisa berbuat seenaknya!"
"Lo bukan pacar gue!"
"Lo bukan ayah gue!"
"Lo bukan teman gue!"
"Sini!"
Entah kenapa, setelah mendengar itu, Naufal mendadak lemas. Ada desiran amat perih menyambar hatinya.
Kila mencengkram erat lengan Naufal. Dengan satu tarikan, ia berhasil mengambil alat tes kehamilan itu.
"Mungkin lo nggak nganggap gue sebagai siapa pun, tapi gue suka lo, Kil." batin Naufal. Detik demi detik berlalu, Gadis itu pergi. Sudah tidak kelihatan.
***
Abian terpatung melihat apa yang ditunjukkan Kila barusan. Berarti tadi Tantenya bohong? Apa alasannya?
"Lo udah liat, kan? Nih! Nih! Nih!" Kila mendekatkan alat tes kehamilan itu. Abian semakin tak menyangka.
"Oh ya, gue nggak punya pacar sama sekali! Gue bukan cewek murahan seperti yang lo pikir. Inget itu." lanjutnya dengan ekspresi penuh kemenangan.
"Oh." selepas berkata barusan, Abian melengos pergi begitu saja.
"Pohon beringin kalau dikasih nyawa jadi dingin!" celetuk Kila asal.
***
Sudah 1 bulan sejak kejadian itu, Dasha masih saja tidak mau berbicara, menyapa apalagi mengobrol dengan Kila. Dia menganggap Kila tidak ada.
Kila bahkan sudah membujuk beribu-ribu kali. Pagi, siang, sore. Hasilnya nihil walaupun tengah malam ia terus saja menyepam pesan.
"Kuat banget."
Dania terhenti. Ia menatap penasaran Kila. "Maksud?"
"Marah sama gue." sahut Kila ogah-ogahan.
"Siapa?"
"Dia." beringsut Kila menunjuk ke arah Dasha.
"Dasha gak marah. Dia cuma gak mau ngobrol sama lo aja."
"Itu sama aja, Dania." gemas Kila.
"Beda lah."
"Bodo!" Kila berdiri. Dia tidak mau menghabiskan tenaga untuk ribut.
"Kak Kila!" panggil Ani, gadis kelas sepuluh.
"Apa?" Kila memaksa kan diri untuk tersenyum.
"Ini." Ani memberikan lembaran kertas. "Jangan lupa dateng, ya. Kak Naufal diajak juga boleh. Siapa tau, Kak Naufal sama Kak Kila jadi pasangan serasi malam nanti."
"Hah?" demi sejuta cogan, Kila tak mengerti maksud Ani. Pasangan serasi? Bagaimana bisa, dia dan Naufal, kan tidak pernah berpacaran sama sekali.
"Jangan lupa dateng, ya, Kak." Ani tersenyum manis.
***
Rumah besar yang sudah dihiasi hiasan berbagai macam warna serta balon-balon itu dimasuki oleh puluhan orang yang sudah diundang oleh empunya rumah.
Ya, malam ini Ani merayakan ulang tahunnya yang ke 16. Yang diundang seluruh anak SMA Sebum.
Mata semua tamu undangan terpana pada sosok gadis bergaun pink muda sedang berjalan ke dalam rumah. Tampilan yang sesederhana itu berhasil menangkap perhatian.
"Perfect! Gila! Lo beli gaun ini di mana?" tanya Dania takjub. Ralat, sangat takjub. Netranya tak berhenti memandang dari bawah ke atas.
"Gak tau. Mama yang beliin." respons Kila tak melepaskan pandangan sekitar. Ada satu sosok yang ia cari, Dasha. Setahunya, Dasha diundang sebab dia melihat Ani memberikan undangan pada anak itu.
"Naufal mana?"
"Gak tau." sahut Kila lagi.
"Lo beli high heels di mana?"
"Nggak tau."
"Lo dapat wajah secantik itu di mana?"
"Nggak tau."
"KILAA!" teriak Dania membuat mata beralih terpana ke arahnya. Dania tersenyum kikuk.
"Kenapa lo teriak?" tanya Kila tak berdosa. Bisa-bisanya Gadis itu tak menyadari bahwa dia yang menyebabkan Dania berdengking.
"Tenang, Dania. Tahan, jangan menghujat binatang langka." ucap Dania menenangkan dirinya sendiri.
"Lo cari siapa, sih? Dari tadi kayaknya lo cari seseorang." tanya Dania serius, eh bukan, beribu-ribu rius.
"Dasha."
"Paling sebentar lagi dia sampai. Lo mau apa? Minta maaf lagi?"
Kila mengangguk.
"Ck! Percuma, Kil." tukas Dania.
"Coba aja dulu." Kila menarik langkah keluar padahal dia baru saja akan masuk.
"Jangan nangis lagi kalau lo dibentak." ujar Dania.
***
11 menit berlalu. Akhirnya orang yang Kila tunggu datang bersama Abian.
Sekilas Mereka terlihat serasi, namun tidak untuk perasaan dan juga hati. Mereka tak saling suka apalagi mencintai.
Dasha menatap tulus Abian. Tangannya perlahan meraih lengan lumayan kekar Cowok itu. Abian tidak bisa menolak. Di sini banyak mata yang menyaksikan.
"Dasha!" dengan wajah berbinar-binar, Kila mendekati Dasha.
Dasha tetap melanjutkan jalan, menganggap Kila seperti makhluk halus yang tidak terlihat.
"Gue minta maaf. Ini udah satu bulan, loh, Sha."
"Maafin gue..."
"Maafin gue..."
Kila menghadang langkah Mereka berdua. Dengan satu hempasan, Abian lepas dari genggaman.
"Ish! gara-gara lo, dia jadi pergi!" dongkol Dasha pada Kila.
"Maaf."
"Maaf maaf maaf! Lo gak capek bilang kaya gitu apa!" Dasha setengah teriak. Sorot mata yang berapi-api terus melihat Kila.
"Gue nggak capek sebelum lo maafin gue." jawab Kila.
"Lo---"
Brak!
Cake ulangtahun itu jatuh di depan Kila. Kontan Kila tersungkur. Gaun yang tadinya baik-baik saja kini terciprat cream cokelat.
Sedangkan Dasha meringis kesakitan setelah kakinya diinjak oleh pelayan pembawa kue ulangtahun itu.
"Kaki gue! Aww, ssh."