Dasha berjongkok, mengelap kakinya yang kotor menggunakan tissue. “Kalau jalan lihat-lihat dong! Kotor, kan, jadinya!” misuh Dasha pada pelayan itu.
Kata maaf sudah berkali-kali dilontarkan pria paruhbaya tersebut, namun tetap saja, Dasha sungguh kesal.
“Ya ampun, Kil. Lo enggak apa-apa?” tanya Dania yang baru saja menghampiri Sahabatnya.
“Enggak apa-apa, kok,”
“Pakai ini.”
Bukan. Bukan Dania yang berbicara tadi melainkan Cowok bersuara berat sedang menghampiri Mereka.
“Sayang, kok kamu...”
“Balikin besok. Jangan lupa.” Abian pergi. Ya, dia mendekati Kila, kemudian menyerahkan jas hitamnya ke Gadis itu. Kontan yang menyaksikan kejadian tersebut saling berbisik-bisik.
Tanpa sadar, mata Dasha memerah. Dia mati-matian agar tidak menangis.
“Sekarang udah jelas.” Gumam Dasha. Ia buru-buru bangkit. Bergabung dengan kerumunan teman-temannya.
***
“Tingkah Abian ke lo makin aneh tau, gak. Gue lihat, dia sering kasih perhatian ke lo. Lo nggak ngerasa, Kil?”
“Kil?”
“Kila!”
Menyebalkan. Dania sedari tadi sibuk menyimpulkan, tapi Sahabatnya itu malah lahap memakan makanan.
“Eh, kenapa? Kenapa?” sahut Kila dengan cengiran malunya. Tapi di detik kemudian, matanya kembali meninjau makanan enak yang ada di depannya.
“Abian suka sama lo.”
“Uhuk.. uhuk...”
Bagaikan disambar petir di pagi hari, Kila begitu terkejut sampai-sampai dia tersendak.
“Minum air cebokan sana.” Perintah Dania asal.
Kila memicing tajam. Ia meraih gelas, meminum isinya hingga habis tidak tersisa. Setelah itu, Kila tersenyum lebar.
“Ih, kenapa lo?”
“Ke masjid, yuk.” Kila melebarkan senyum.
“Hah? Bukannya ini belum masuk waktu sholat ya?”
“Ada ruqyah masal di sana. Siapa tau aja, setan yang ada di tubuh lo pergi.” Kila bergegas bangkit. Ia takut ditampol oleh Dania.
“k*****t!” misuh Dania penuh emosi.
Kila bergabung di kumpulan adik kelasnya. Entah kenapa, ia senang berada di dekat anak kelas sepuluh sebab dia bisa memengaruhi Adik kelasnya itu agar pacaran, eh.
“Kakak cantik banget.” sambut Renata—adik kelasnya takjub.
“Rahasianya apa, sih, Kak?”
“Skincare Kakak mereknya apa?”
“Kak, tukeran wajah, yuk,”
Mendengar para adik kelasnya menyerang dengan bertubi-tubi pertanyaan, Kila hanya bisa tersenyum manis.
“Senyumnya manis bang—wah! Kak Naufal ganteng banget!” mata Renata membulat seolah-olah akan keluar.
Senyum di bibir Kila pudar. Dia melihat ke arah pintu sana, ternyata ada Naufal.
Penampilan Naufal sangat berbeda. Malam ini tidak ada kacamata di wajah Cowok itu membuatnya sangat tampan.
***
Acara potong kue sudah selesai beberapa menit lalu. Kini masing-masing tamu saling berbincang, menikmati makanan, bahkan ada yang saling berkejaran ke sana kemari bak adegan di film India.
“Fal,” Kila memanggil. Dia memberanikan diri mendatangi Cowok yang kini mendadak populer.
Naufal dengan malas menengok. “Hm?”
Kila beringsut duduk di samping Naufal. “Jas lo bagus.”
Tak ada jawaban.
“Lo cocoknya nggak usah pake kacamata.” lanjutnya.
Lagi-lagi Naufal diam. Dia malah meminum minuman yang diberi oleh pelayan. Netra Kila membulat sempurna. Kenapa Naufal meminum alkohol? Parahnya, dia sudah melihat banyak gelas yang kosong. Sejak kapan Naufal menjadi badboy seperti ini.
“Fal! Lo sadar enggak, sih?! Lo kenapa minum alkohol!” Kila merebut gelas itu, menuangkan isinya ke lantai.
“Kenapa lo buang minuman gue?!”
“Fal, kok lo jad—“
“Kata lo, gue bukan siapa-siapa, kan? Tapi kenapa lo ikut campur ke orang asing kaya gue?” Naufal terkekeh.
“Lo udah mabuk, Fal.” Kila mengibas-ngibaskan tangannya tepat di depan hidung. Bau alkohol menyeruak membuat dirinya risih.
Naufal mengambil botol yang ada di sampingnya, ia menengguk habis hingga tidak tersisa.
“Naufal!” Kila merebut botol itu.
“Lo bukan siapa-siapa gue dan gue bukan siapa-siapanya lo.” Naufal tersenyum sinis.
“Lo teman gue!” elak Kila.
Naufal malah tertawa. Dia terus meracau tidak jelas. Kila geleng-geleng kepala. Semua orang sedang sibuk berpesta. Ini kesempatannya untuk membawa Naufal pulang tanpa pandangan sinis dari kakak kelas, adik kelas sekaligus teman sekelasnya sendiri.
Kila meraih lengan Naufal, menempatkannya pada pundak kecilnya. Perlahan dia berjalan ke pintu. Keluar dari pesta ulang tahun yang meriah itu.
Kila membuka pintu mobil. Meletakkan Naufal di dalam sana.
“Bapak keluar aja. Biar aku yang nyetir.” Titah Kila pada Pak Yayan—sopir pribadinya. “Oh ya, Bapak bawa motor itu ke rumah Naufal, ya?”
“Baik, Non, tapi Non beneran bisa nyetir sendiri?” ragu Pak Yayan.
“Iya, Pak. Kila bisa nyetir sendiri, kok,” Kila berusaha meyakinkan.
“Dia temen Non?” Pak Yayan memandangi Naufal yang sedang tertidur.
“Iya. Dia mabuk, Pak. Kan, kasihan kalau suruh nyetir. Bisa-bisa kecelakaan.”
Ucapan Anak majikannya itu benar. Pak Yayan segera keluar dari mobil.
Kila duduk di bangku depan. Dia menutup mobil, bersiap untuk menyetir.
“Gue suka lo. Maafin gue kalau gue buat lo jengkel, Kila. Gue suka, gue sayang sama lo, tapi kenapa lo buat gue ragu. Kenapa?” Naufal menangis.
Kila tergemap mendengar ucapan Naufal barusan. Kontan dia menghentikkan mobilnya di tengah jalanan sepi.
Perlahan dia menoleh ke belakang.
“Kenapa?” Naufal terkekeh. “Lo mau bilang gue bukan siapa-siapanya lo?”
“Bukan gitu, gu—“
“Jangan pura-pura.”
Kila memandang prihatin. Jadi, selama ini Naufal menyukainya? Sungguh, dia tidak pernah menyangka hal ini. Tanpa pikir panjang, Kila menjalankan kembali mobilnya.
***
“Tante...” Kila memanggil seraya mengetuk pintu berkali-kali. Tidak ada jawaban di dalam sana. Pintu juga dikunci. Apakah semua orang pergi?
“Aduh, ini gimana?” Kila mondar-mandir tidak jelas. Tidak mungkin dia meninggalkan Naufal di luar rumah begitu saja. Ia masih mempunyai rasa manusiawi.
“TANTE! KILA DATANG. BUKA DONG PINTUNYA!”
Suara jangkrik-jangkrik malam menyahut teriakan Kila yang memekakkan telinga itu.
Kila berdeham beberapa kali. Tenggorokannya begitu sakit.
Dengan malas, dia berjalan ke arah mobilnya.
***
"Mama... ayah... Alden...” panggil Kila satu persatu.
“Apa semuanya pada pergi?” tanya Kila pada dirinya sendiri.
“Bi Surti!” seru Kila cukup keras. Untuk kesekian kalinya, tidak ada sahutan apalagi tanda-tanda manusia ada di rumahnya ini.
Kila begitu kecewa. Bisa-bisanya kedua orangtuanya pergi tanpa memberitahu dirinya. Dengan terpaksa, dia kembali ke dalam mobil untuk membawa Naufal ke dalam rumahnya.
Beberapa menit berlalu, Kila meletakkan Naufal ke kasurnya. Dia tidak bisa meninggalkan Cowok itu di sofa. Takut jika orangtuanya pulang tiba-tiba.
"Lo makan apa sih?!" keluh Kila di tengah nafasnya yang memburu. "Lo wajib beliin gue makanan besok!"
Ocehan Kila mendadak berhenti ketika mendengar isakan Naufal. Hati Kila ikut sedih apalagi melihat air mata terus menetes dari mata Cowok itu.
Perlahan tangan Kila mengusap pipi Naufal. "Jangan sedih, nanti gue jadi ikut sedih."