Ketika hendak bangun, Naufal menarik lengan Kila cukup kuat. Refleks Gadis itu tertarik. Menimpa tubuh Cowok itu.
“Lo—lo mau a—apa?” Kila terbata-bata. Detak jantungnya berdegup tak karuan.
“Gue cinta lo...” Naufal meraih lengan Kila agar lebih dekat.
Jarak benar-benar terkikis di antara Mereka. Sampai akhirnya, sebuah benda kenyal mendarat di pipi tirus Sang Gadis. Tidak cukup sampai di situ, Mereka melakukan lebih dan parahnya lagi, Keduanya melangsungkan perbuatan yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pasangan yang belum menikah.
Mereka berdua saling mengekspresikan cinta dengan cara yang salah.
2 jam sebelumnya...
Naufal tidak sungkan membalas sapaan demi sapaan para teman perempuannya. Mata Mereka terlihat bersinar-sinar melihat dirinya. Naufal tidak tahu penyebabnya.
Malam ini dia melepas kacamatanya. Bukan tanpa sebab, Kakaknya membawa kacamatanya entah ke mana.
Dering telefon membuat saku celananya bergetar.
“Ibu, kakak, sama adikmu pergi ke rumah nenek. Nenek lagi kritis, Fal. Ibu nggak sempat kasih tau ke kamu habisnya kamu main nyelonong pergi. Nggakpapa sendirian di rumah kan?”
Naufal yang mendengarnya kecewa.
“Iya, Bu,”
“Bagus. Ibu tutup dulu ya.”
Tut tut tut
“Wah, lo bisa ganteng juga ternyata!” sebuah tangan besar menepuk pundak Naufal dari belakang.
Naufal menoleh cepat. Tampak Fardo berdiri di belakangnya bersama Kael dan Jerry—teman Fardo.
“Kacamata lo mana? Lo mau jadi saingan gue? Lo mau para cewek naksir lo?” Fardo tertawa. Naufal terheran-heran. Apanya yang lucu.
“Lo nggak pantas!” gertak Fardo.
“Terserah.” Naufal berjalan maju, dia menyenggol bahu Fardo cukup kasar.
“Nyolot lo!”
Naufal bergabung ke kerumunan adik kelasnya. Pastinya Cowok.
“Sahabat lo mana, bro?” tanya Reno—adik kelasnya.
Dahi Naufal mengerut. “Sahabat yang mana?”
“Ya ampun, lo sendiri masa nggak tau sih?” timbrung Rio seraya geleng-geleng kepala. Naufal dibuat makin penasaran.
“Lusi. Dia kenapa nggak dateng?” ujar Axel memperjelas.
“Oh, dia. Gue nggak tau.”
“Ya elah. Lo kok nggak tau. Dia, kan, sahabat elo.” Reno mendecak.
“Dia enggak kasih kabar ke gue sama sekali.” Kedua netra cokelat Naufal terpana pada Gadis bergaun pink. Rambut tergurai membuat Cewek itu semakin manis.
“Ternyata dia bisa dandan.” Batin Naufal takjub.
“Hai, kalian...” sapa Angel mendadak sudah muncul di antara Mereka berempat.
“Gila! Lo sama Deni pacaran?” todong Reno selepas meninjau lengan Angel melangkup lengan Deni sangat erat.
Angel tersenyum malu. Ia mengangguk kemudian.
“Zaman sekarang, sahabat jadi cinta. Gue kapan kaya gitu, ya?”
“Lo sahabatannya aja sama kucing! Nggak mungkin jadi cinta, lah, gob***k!” sentak Rio sembari menabok lengan Reno.
“Ya udah, biasa aja kali, dodol!” Reno mendelik tidak terima.
“Gue pergi dulu, ya,” pamit Angel.
“Mangga atuh,” Reno mempersilahkan. “Nyapa kita Cuma buat pamer doang.” Misuhnya. Tiba-tiba matanya terpusat pada Naufal.
“Yakin lo sama Lusi nggak ada rasa?” celetuk Reno tiba-tiba. Sebagai murid yang sudah bersekolah di SMA Sebum, Reno tahu berita sekaligus gosip hot yang dibicarakan para murid betina.
Naufal tergemap. Dia mengalihkan tinjauannya ke Reno.
“Kalau nggak, kenapa?” Naufal malah menanya balik.
“Wah, masa lo nggak ada perasaan sama sekali, sih? Hati lo terbuat dari batu?”
“Hati gue terbuat dari darah. Bukan batu.” Respons Naufal.
“Beneran nih?” tanya Reno memastikan.
“Hm.”
“Lo nggak suka?”
“Enggak.”
“Cinta?”
“Nggak.”
“Sayang?”
“Iya, tapi sebagai sahabat.”
Ayolah, Naufal sedang diinterogasi oleh Reno yang super duper kepo. Naufal sendiri tidak tahu,mengapa Reno sangat ingin tahu tentang dirinya dan juga Lusi.
Fardo yang sedari tadi menyaksikan itu merasa jengkel. Sorot matanya berapi-api. Tangannya juga mengepal kuat. Dia kesal, adiknya selama ini ternyata dipermainkan perasaannya.
“Biar gue aja.” Fardo merebut nampan dari pelayan yang berisi minuman. Dia membawa nampan itu menjauh.
“Gue bakal buat lo jadi laki-laki berengsek,” ucap Fardo ketika wajah Naufal muncul di benaknya. Dia menambahkan sesuatu ke dalam gelas itu. Setelah selesai, dia pergi menghampiri Naufal, Reno, Rio dan Axel.
“Buat kalian.” Kata Fardo tiba-tiba membuat keempat makhluk cowok itu terkejut. Tanpa aba-aba, dia memberikan gelas kepada Mereka satu persatu. Dan gelas terakhir, dia berikan pada Naufal.
Fardo kemudian pergi begitu saja.
“Tumben baik.”
“Dapat hidayah kali.”
“Jangan-jangan minuman ini udah dikasih apa-apa lagi.”
“Nggak. Warnanya sama aja. Gak berubah. Ini Cuma jus biasa.”
Mendengar percakapan Rio dan Reno, Naufal jadi tidak ragu untuk meminum itu. Dia menengguk minuman tersebut sampai habis.
“Haus lo?” tegur Reno. Naufal tidak menjawab. Dia malah pergi ke tempat duduk yang ada di sana.
Fardo tersenyum miring. Dia melihat Naufal membuka satu kancing jasnya. Sepertinya obat itu sudah bekerja. Fardo segera menghampiri Naufal. Dia malah memberi Naufal minuman yang membuat mabuk dan sudah dicampur sesuatu.
Sungguh, Naufal tidak bisa mengendalikan dirinya. Ia menengguk apa yang ada tanpa melihat minuman jenis apa itu.