Part 34

1208 Kata
Sinar matahari masuk ke dalam celah-celah jendela. Kicauan burung terdengar saling bersahutan. Pagi yang begitu cerah. Naufal perlahan membuka mata. Ia mengusap wajah berkali-kali. Dirinya sekarang berada di tempat asing. Di mana ini. Netranya membulat kala melihat Kila tidur di sampingnya cukup dekat. “Hah?!” Naufal mundur. Menjauh dari Gadis itu. Apa yang dia berbuat dari malam? Dan kenapa dia tidak memakai sehelai benang pun di balik selimut ini. Naufal berusaha berpikir keras untuk mengingat, namun kepalanya begitu sakit. Kila terbangun. Ia menguap, kemudian menggeliat seperti bayi menggemaskan. “Apa yang udah gue lakuin kemarin?” tanya Naufal tiba-tiba. Kila beringsut duduk. Kepalanya menunduk, satu butir air mata menetes. Giliran penyesalan yang datang. Datang paling akhir. “Jawab.” Naufal memegang bahu kecil Kila, mengguncangnya cukup kuat. “Gue nggak mungkin...” Naufal tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia tak mungkin jadi laki-laki b******k seperti itu. “Lo kemarin di luar kendali.” lirih Kila. “A-apa?” Naufal menggeleng kuat. “Nggak. Ini gak mungkin. Gue bukan fuckboy.” Naufal berdiri. Dengan cepat, Naufal memakai pakaiannya. Rasa bersalah sekaligus malu kini menyelimuti Naufal. Untuk sekarang, dia belum berani menatap Kila. Setiap melihat wajah Gadis itu, Naufal merasa benci pada dirinya sendiri. “Fal... tunggu. Fal! Tunggu! Naufal! Tunggu! Naufa—aww...” rasa sakit tiba-tiba muncul. Kila memperlambat langkahnya. Dia berusaha keras mengejar Cowok itu walaupun dengan penampilan acak-acakan. Langkah Naufal semakin cepat. Kila berhenti. Berusaha untuk mengatur nafasnya yang memburu. Dadanya tiba-tiba tersentak mendengar deruman motor. Ternyata Naufal tancap gas dari rumahnya. “Kenapa sikap lo kaya gitu? A-apa lo... nggak mau tanggung jawab?” Kila menatap sendu ke arah gerbang. Bubur tidak bisa dikembalikan menjadi nasi. Semua ini sudah terjadi. Dengan langkah berat sekaligus pelan, Kila masuk ke dalam. *** Bahkan sampai jam 1 siang pun ibu, ayah dan adiknya belum juga tiba di rumah. Kila merasa sedih. Dia butuh sandaran sekarang. Suara nada dering telefon berbunyi. Kila menyeluk saku, mengambil benda pipih itu. “Kilaa! Lo mau ikut gue ke pantai nggak? Gue yang bayar semuanya deh! Lo tinggal bawa badan aja.” Kila ikut bersemangat, tapi kemudian bibirnya melengkung. “Yah, maaf, gue nggak bisa ikut lo.” “Loh, kenapa? Dasha juga ikut. Beneran enggak mau nih?” “Nggak bisa, Dan. Gue lagi nggak enak badan.” “Lo sakit? Apa perlu gue ke rumah lo? Gue ke sana, ya? Lo nggakpapa kan? Perlu gue telefon ambulance buat bawa lo?” “Nggak usah lebay, Dan. Gue enggak separah itu sakitnya. Palingan diurut Bi Surti juga sembuh.” “Beneran?” “Iya,” “Beneran, nih, ya?” “Iya.” “Oke. Jaga lo baik-baik. Gue tutup telefonnya.” “Siap.” Detik demi detik berlalu. Dania tidak kunjung menutup telefon. Dahi Kila mengerut. “Halo? Lo masih ada di sana kan?” “Huwaa... gue nggak tega. Gue ke rumah lo sekarang.” “Eh, ja—“ Tut tut tut Sambungan terputus. Kila geleng-geleng kepala. *** Dania telah sampai di depan pintu. Jari telunjuknya terulur untuk menekan bel. Tak lama, Kila muncul. Membukakan pintu. “Lo enggak apa-apa? Sumpah! Gue khawatir banget. Udah gitu, orang tua gue sama orang tua lo lagi ke luar kota lagi. Lo tadi malam berani tidur sendirian, kan? Bi Surti ada nggak? Setau gue, Bi Surti juga ikut. By the way, lo kemarin nggak bilang-bilang ke gue, sih, kalau lo mau pulang? Gue nyariin lo tau nggak.” “Gue harus jawab pertanyaan lo yang mana dulu?” tanya Kila menghentikan ocehan Dania yang tiada henti. Dania nyengir tak berdosa. “Semuanya.” “Masuk dulu, Dan.” Kila mempersilahkan. Dia berjalan masuk terlebih dahulu disusul oleh Dania. “Katanya lo sakit? Lo sakit kepala? Perut? Kaki? Tangan?” Dania menjejerkan langkah. Sejak kapan Dania menjadi cerewet seperti ini. Sifat Mereka terasa tertukar sekarang. “Nggak tau. Ini rasanya sakit banget.” Jawab Kila jujur. “Jalan lo pelan banget, sih.” Protes Dania—sudah sampai ruang tamu terlebih dahulu. “Terserah gue dong.” Kila memicingkan mata. “Perlu gue panggil tukang urut?” “Emang ada?” “Ada.” Dania segera menelefon kenalannya yang berprofesi tukang urut. Beberapa menit kemudian, wanita yang sepertinya berusia senja datang ke rumah Kila. Setelah selesai dipijat, rasa sakit Kila sama sekali tidak berkurang. Anehnya, dia malah mendapat tatapan tajam dari wanita tua itu. Kila tidak mengerti alasannya *** Pandangan Naufal seketika gelap. Ada tangan yang menutup kedua matanya. “Lepas.” Ujarnya penuh perasaan tidak terima. Gadis itu tersenyum jahil. Dia malah menutup mata Naufal menggunakan kedua tangannya lebih erat. “Lo siapa?! Lepas! Nggak sopan!” terdengar tawa kecil. Naufal semakin kesal. Dia memegang erat tangan itu. Dengan satu hempasan, lengan itu turun. Dia segera membalikkan badan. Ingin tahu siapa pelaku tadi. “Lo ngapain di sini?” *** “Nggak ikut olahraga?” Abian mendudukkan diri di sebelah Kila. Perempuan itu terlihat sangat tidak semangat sekali. “Nggak.” Sahut Kila masih melihat ke murid lain sedang sibuk bermain boleh basket. “Udah lo cuci?” “Apanya?” “Jaket gue.” Kila terbelalak, kemudian menepuk pelan jidatnya. “Gue lupa.” “Dasar pikun.” ejek Abian. “Gue nggak pikun. Gue Cuma lupa aja.” “Itu sama aja.” “Nggak lah. Beda.” elak Kila. Abian bangkit. Kila tidak meliriknya sama sekali. Dia memajukan badannya. Tanpa basa-basi, Abian meraba kening Kila untuk mengecek apakah panas atau tidak. “Kenapa lo?” tegur Kila santai. Dia sama sekali tidak risih. “Muka lo kaya mayat. Jadi gue cek, jidat lo dingin apa nggak.” “Gue masih hidup!” Kila mendelik tidak terima. “Besok lo harus balikin jaket gue. Jangan sampai lupa. Kalau lo lupa, gue bakal ja—“ “Bakal apa?” tanya Kila ogah-ogahan. “Bakal nenggelemin lo ke got.” Menghindari pukulan dari Kila, Abian pergi menjauh. “Mulutnya minta ditabok!” sungut Kila. *** Lusi menunduk. Ia salah, sepertinya suasana hati Naufal sedang tidak baik. “Aku Cuma mau lihat kamu doang kok.” Lusi mendongak. Meninjau wajah Naufal. “Aku kemarin nggak bisa datang ke pesta itu. Kak Fardo nyebelin. Dia ngelarang aku. Tapi gimana pesta ulang tahun kemarin? Seru?” Naufal menarik sudut bibir. “Seru,” “Aku minta foto.” Pinta Lusi. “Foto apa?” “Foto kamu waktu ada di pesta kemarin. Aku mau tau, kamu cocok nggak pakai jas yang aku kasih ke kamu hari kamis lalu.” Jelas Lusi. “Gue nggak bawa hp.” “Ya udah, kita ambil hp aja yuk!” seru Lusi semangat. “Nanti jam pelajaran, Si. Gue nggak mau lewatin.” “Bu Gina nggak berangkat. Katanya dia lahiran. Kamu nggak inget, Fal? Nanti juga ujung-ujungnya jam kosong.” Naufal terdiam. Benar juga apa kata Lusi. “Ya... mau ya?” Naufal berpikir terlebih dahulu. “Please, aku pengin banget lihat foto itu.” “Sekarang? Ke rumah gue?” tanya Naufal agak ragu. “Iya, Fal...” “Cuma ambil hp doang, ya.” “Iya, masa mau ambil rumah juga.” Lusi tertawa kecil. Naufal berjalan ke arah parkiran. Lusi sudah tahu tujuan Cowok itu. Dengan senang hati, dia membuntuti Naufal dari belakang. *** Kila turun dari mobil. Ia menyuruh Pak Yayan pulang terlebih dahulu karena Kila menemui Naufal. Saat di sekolah, Cowok itu tidak kelihatan sama sekali sejak jam istirahat. Tangannya mengetuk-ngetuk pintu rumah berukuran lumayan besar itu. Pintu tidak kunjung dibuka. Apakah Naufal belum pulang? Tapi, tidak mungkin menurutnya. Setahu Kila, Naufal tipe orang yang langsung pulang ke rumah. “Aku takut banget!” “Lusi?” Kila terheran-heran. Dia tahu persis, suara itu—suara Lusi. Dengan satu dorongan pelan, pintu itu terbuka. Ternyata sama sekali tidak dikunci. Kila mengendap-endap masuk. Dia melihat ke sana kemari, tiba-tiba matanya terpusat pada sudut rumah bagian dapur. Naufal dan Lusi sedang berpelukan. Sakit. Hatinya mendesir perih. Tenggorokan Kila begitu tercekat. Dia tidak sanggup berteriak. Satu air mata turun membasahi pipinya. Kila menarik nafas dalam-dalam. Dengan sekuat tenaga dia berteriak, “NAUFAAL!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN