Lusi dan Naufal kompak menoleh. Kila berjalan pelan menghampiri Mereka. Menyebalkan. Dia sedang sakit, tapi Naufal malah seperti ini.
Naufal memalingkan muka. Dia menarik langkah ke arah pintu.
Kila yang melihatnya tambah emosi. “Naufal! Lo mau ke mana?!” langkahnya kini berganti arah ke pintu. Sungguh, rasa sakitnya semakin menjadi ketika dia berjalan. Kila tidak tahu apa penyebabnya.
Naufal tampak tidak acuh.
“Ya ampun, Kila... kamu kenapa?” tegur Lusi merasa iba. Kila tak merespons.
“Ini udah waktunya lo ngajarin gue!”
Barulah langkah Naufal terhenti. Kila lega, dia juga menghentikan jalannya.
Naufal menghampiri Kila sampai jarak mereka terpaut lumayan dekat.
“Hari ini libur.” Naufal membalikkan badan. Dia buru-buru keluar rumah.
Lusi sangat terkejut. Mereka bertengkar sejak kapan.
“Kila, aku pergi dulu, ya,” pamit Lusi menyentuh pundak Kila sekilas.
“Hm.”
Sekarang dia sendirian. Kila menangis terisak-isak. Rasanya sangat menyakitkan. Kenapa sikap Naufal berubah seperti tadi? Apa dirinya salah?
***
Kila duduk di halte bus. Langit-langit berwarna oren. Hari sudah akan gelap.
Matanya begitu sembab. Kila begitu kecewa. Dia berharap ada orang yang mau jadi sandarannya saat ini.
Gemuruh petir mendadak menggelegar begitu keras. Langit-langit yang tadi berwarna oren indah kini berubah menjadi mendung.
Kila tidak peduli. Dia terus menangis dengan kepala tertunduk.
“Seharusnya malam itu nggak pernah terjadi pasti Naufal nggak berubah kaya sekarang.” monolog Kila.
Rintik-rintik hujan turun lumayan deras dari langit. Kila mengadahkan tangan, membiarkan telapaknya basah. Dia tidak peduli ada penjahat atau apa pun di sini toh, hidupnya terasa hampa dan tidak berarti lagi. Masa depannya sudah hancur sejak malam itu.
“Lo nunggu siapa?”
Kila tersentak. Suara berat itu suara Abian. Dia segera menghapus air matanya yang tersisa di pipi. “Sejak kapan lo duduk di situ?”
“Baru satu detik yang lalu. Ngapain lo di sini? Lo mau diganggu penjahat?”
“Bukan urusan lo.” Kila memundurkan badan. Dia duduk kembali di sebelah Abian tentunya.
“Ayo pulang. Jam segini nggak bakal ada bus.” ajak Abian.
“Entar. Gue mau tanya sesuatu dulu, boleh?”
“Iya.”99
“Kenapa orang berubah?”
“Tergantung berubahnya kaya gimana. Orang itu berubah jadi baik atau sebaliknya? Kalau orang itu berubah jadi baik, dia berarti udah sadar dan sayang sama lo. Kalau tiba-tiba berubah membenci lo, dia anggap lo sampah yang udah nggak guna lagi.”
“Sam...pah?” bibir Kila bergetar.
“Hm.” Abian menjeda. “orang kaya gitu akan benci, menghindar, dan ninggalin lo karena dia udah dapat keinginannya dari lo.”
“Orang kaya gitu bisa diubah nggak?”
“Gak. Tinggalin aja. Buat apa, nanti disakitin lagi.”
Kila mengalihkan pandangan ke depan. Ia menutup wajahnya. Hidung sudah memerah. Ia kembali menangis sesegukan.
Abian terenyuh. Dia memegang kepala Kila, lalu menyandarkan ke pundaknya. Kila menumpahkan semua air mata.
Di tengah hujan deras ini, suara tangisan Kila samar-samar terdengar. Abian tidak berani melontarkan kata apalagi pertanyaan sebab tugasnya sekarang adalah menjadi sandaran.
2 jam berlalu. Hujan sudah reda, hanya menyisakan gemuruh petir saja. Kila berdiri, ia sudah menjadi lebih lega sekarang.
“Makasih.”
“Hm.” Abian menyusul berdiri.
“Bian...”
“Apa?”
“Boleh minta sesuatu?”
“Sesuatu apa?”
“Anterin gue pulang.”
“Oke.”
Baru satu langkah, rasa perihnya muncul. Alhasìl dia hanya meringis kesakitan.
“Kenapa?” tanya Abian panik.
“Sakit.” sahut Kila seraya mengernyih kesakitan.
Abian berjongkok membelakangi Kila. “Naik.”
Kila menaiki punggung lebar Abian. Dia memegang erat pundak Abian. “Gue berat ya? Maaf,”
“Nggak. Lo enteng.”
“Ternyata lo orangnya baik.” sudut bibir Kila terangkat. “Bian, lo mau jadi sandaran gue lagi kan?”
“Iya.”
“Makasih banyak. Sekarang... kita sahabatan! Okay?”
"He'em."
****
Gadis berambut sepunggung itu berkaca. Ia menyisir rambutnya perlahan. Setelah rapih, dia mengoleskan liptint.
"Perfect!" kagumnya pada diri sendiri. Kila bergegas mengambil tasnya. Ia gendong di pundaknya yang kecil itu.
"Oh, iya..." Kila sadar, dia melupakan sesuatu. Jaket Abian. Dia segera mengambil itu, memasukkannya ke dalam tas.
Dengan wajah semangat sekaligus ceria, dia menuruni tangga.
Begitu sampai di depan ruang makan, Kila menarik bangku. Duduk di depan adiknya.
"Kamu kelihatannya semangat banget. Ada apa?" tegur Yana sambil mengoleskan selai cokelat ke roti tawar.
"Gak ada apa-apa." bohong Kila. "Hari ini mungkin Naufal bakal berubah baik ke gue." batinnya.
"Mama udah siapin kotak bekal. Nanti dimakan, ya. Sekarang lagi musimnya penyakit merajalela. Mama nggak mau kamu sakit." Yana meletakkan roti di piring Kila. Kemudian dia memasukkan kotak bekal itu ke dalam tas.
"Iya, Ma." sahut Kila.
Beberapa menit berlalu. Kila selesai menyantap sarapannya.
"Kil, kamu panggil ayah gih." titah Yana.
"Buat apa, Ma?"
"Panggil aja, sayang. Ayahmu belum sarapan."
"Siap." Kila menarik langkah ke kamar orang tuanya. Dia menduga, ayahnya kini sedang di kamar. Biasanya seperti itu.
Ketika sudah sampai di depan pintu, Kila tersenyum. "A--"
"Loh, kenapa kamu mundur?"
Ayahnya sedang berbicara dengan seseorang di telefon. Kila mengurungkan niat untuk berbicara dan memilih mendengarkan percakapan itu.
"Apa masalah sebenarnya, Naufal?"
Deg
Kila tersentak. Jadi yang menelefon ayahnya adalah Naufal. Buat apa Cowok itu menelefon ayahnya pagi-pagi.
"Saya menghargai keputusan kamu. Tapi jujur, saya sedikit kecewa. Apa Kila pernah buat kamu kesal?"
"..."
"Ya, sudah. Saya tutup telefonnya. Sebelumnya terimakasih kamu udah mau jadi guru privat anak saya."
Edwin menutup telefon. Ia menoleh ke belakang, "Ada apa?"
***
Kila keliling ke setiap sudut sekolah. Untuk mencari makhluk bernama Naufal tentunya.
Jam istirahat akan habis 15 menit lagi. Kila kewalahan. Ia duduk di bangku di depan kelas sepuluh.
"Kak Kila ngapain di sini?" Gia bergabung duduk.
"Kamu liat Naufal?" tanya Kila to the point.
"Liat kok. Dia pergi sama Kak Lusi. Gia nggak tau Mereka mau ke mana, tapi arahnya, Mereka pergi ke sana." Gia menunjuk ke arah. Kila tahu, arah yang ditunjuk Gia mengarah ke halaman belakang sekolah.
"Oke. Thanks, ya," Kila menepuk pundak Gia sekilas.
***
"Naufal!" seru Kila cukup keras.
Yang dipanggil spontan menoleh.
Mata Kila mengeliling ke setiap penjuru halaman belakang sekolah. Tidak terlihat Lusi di sana. Sepertinya Gadis itu sudah pergi.
Kila maju beberapa langkah hingga jarak antara dirinya dan Naufal tersisa 5 jengkal.
Plak!
Naufal tertoleh ke samping.
"Lo jahat!"
"Kenapa lo ngehindar dari gue, hah?!"
"Gue sakit, Fal!"
"Waktu gue kesakitan, lo malah nggak peduli sama sekali!"
"Lo bener-bener jahat!"
"Gue benci lo, Fal! Gue benci!"
Kila memukul-mukul d**a bidang Cowok tersebut. Melampiaskan emosinya yang sudah 3 hari terpendam.
"Gue nggak akan biarin lo pergi!" Kila memeluk erat Naufal. Sangat erat.
"Mana Naufal yang dulu? Mana Naufal yang cerewet dan suka ngingetin gue kalau gue salah. Kenapa lo berubah kaya gini? Gue pengin Naufal yang dulu balik lagi," suara Kila gemetar.
"Lepas." tekan Naufal.
"Gak mau. Nanti lo pergi lagi."
"Gue bilang lepas, ya, lepas!"
"Nggak! Jawab pertanyaan gue dulu! Kenapa lo beru--aakh!" badan Kila didorong kasar. Hendak terjerembab ke bawah, namun ada sesuatu yang menahannya.
Abian.
Cowok itu menahan tubuhnya.
"Pengecut." ejek Abian.
"Lo juga. Ingat kejadian lo nonjok Kila waktu itu?" secara tidak langsung, Naufal balik mengejek Abian.
Abian sukses dibuat tidak berkutik.
Lagi-lagi Naufal pergi. Kila begitu sakit hati.
"Lo bener-bener berubah."