PART 90

1275 Kata
Teman Mama kamu di mana, sayang?" Kila bertanya sambil berjongkok agar menyamai tinggi anak tersebut. Bukannya menjawab, anak kecil laki-laki menangis sesegukan. Kila memeluk anak kecil tersebut. Ia tak hentinya mengusap punggung bocah yang kini sedang ia peluk. Kila jadi teringat Alden. Abian ikut berjongkok. "Dia kenapa, La?" Kila menggeleng. Usai tangisan bocah itu mereda, tidak sehisteris saat pertama, Kila melepaskan pelukan. Jemarinya menghapus air mata sang bocah. "Kamu berhenti nangis, oke? Cerita ke Kakak. Temen mama kamu di mana?" Jari telunjuk anak itu menunjuk ke arah tempat yang cukup gelap. Pencahayaan di sana memang sangat minim, berbeda dengan tempat yang disinggahi Kila sekarang. "Beneran?" "Iya. Ada orang jahat yang ganggu temen mama di tempat itu. Axel minta tolong, Kak." bocah laki-laki itu mengatupkan tangan. Sorot matanya begitu memohon dan penuh harap. Kila iba. Mendadak Abian meraih lengannya, lantas menariknya supaya Kila berdiri. Karena penasaran, dia berdiri. "Kenapa, Abi?" Abian diam. Ia menggandeng Kila menjauh dari anak kecil yang bernama Axel itu. "Lo kenapa sih?" Kila mulai tersulut emosi. "Jangan nolong." "Loh, kok gitu?" tatapan Kila begitu kecewa. "Bisa aja, anak itu cuma jebakan orang jahat dan lo diapa-apain sama orang yang nyuruh anak itu. Zaman sekarang nggak ada orang yang gak licik, Kil. Lo harusnya waspada bukan malah kasihan. Gue saranin, mending kita pulang." Abian melanjutkan langkah, tetapi Kila tetap diam di tempat. Abian menengok ke belakang. “Gak mau.” Kila sungguh keras kepala. "Pulang. Gue gak mau sesuatu yang buruk terjadi." "Tapi anak itu baik. Anak kecil pasti berbicara jujur, Bian." walaupun Kila sudah melontarkan ucapan meyakinkan, Abian tetap saja tak berubah pikiran. Dia justru mengeratkan genggaman. "Bian, lepas. Sakit." Kila merintih. "Salah gue apa sih? Gue cuma mau nolongin anak kecil, Bian. Kalo ada apa-apa, lo kan bisa beri pertolongan ke gue. Lo... bersedia ikut gue buat nolongin temen ibunya Axel kan?” Abian melonggarkan genggaman. Kila mendesau lega. "Gue bersedia." "Beneran lo mau?" mata Kila berbinar-binar. "O--oke, ayo ke sana!" Sebelum mereka berdua beranjak ke tempat yang ditunjuk oleh Axel, Kila menyuruh Axel untuk duduk dan tidak boleh ke mana-mana sebelum mereka kembali. Bocah laki-laki itu menurut. Kila mengapit lengan Abian. Nyalinya menciut usai menyadari tempat itu amat gelap lantaran tak ada pencahayaan sama sekali. "Pegang tangan gue." Abian memberi intruksi. Kila mengeratkan rangkulannya. Terdengar suara rintihan sekaligus orang sedang memukul sesuatu. Kila merasa ngeri. "Lo diem di sini. Biar gue aja," Abian berbisik tepat di telinga Kila. Kila tambah merinding. Jantungnya mendadak berdebar begitu cepat. "Ng... Nggak. Gue ikut." "Bahaya, La." "Gue tetap mau ikut!" Kila bersikukuh membuat Abian terpaksa menyetujui. Mereka berdua berjalan mendekat ke sumber suara. "Woy!" Abian menggertak. Kila bergidik ngeri melihat perempuan berpakaian minim dengan banyak luka lebam di wajahnya. Perempuan yang wajahnya terlihat muda itu mendorong sang penjahat, kemudian berlari ke belakang Kila untuk meminta perlindungan. Kila melepas jaket, lantas ia memakaikannya pada sang perempuan. Pria berwajah sangar itu menggeram lantaran aktivitasnya terganggu. Abian menengok ke belakang, ia memberi tatapan seolah menyuruhnya untuk pergi. Kila berjalan pergi bersama perempuan yang ia tolong. Kila berdoa, semoga saja Abian tidak kenapa-kenapa dan bisa melawan si penjahat. Axel langsung berlari ke pelukan sang wanita. Mereka bertiga duduk di tempat yang Kila duduki beberapa menit lalu. “Tante mau minum?” tanya Kila ramah. Sang perempuan menggeleng. “Terima kasih kamu sudah nyelamatin Tante,” perempuan itu membelai rambut Kila, menatapnya hangat. “Sama-sama Tante. Kalo aja Axel gak bilang, pasti aku gak tau kalau Tante dalam bahaya.” Kila tersenyum manis ke arah Axel. “Kamu anak baik. Tante boleh tau, nama kamu siapa?” “Alesya Kilatha Aurora Tante. Terserah mau dipanggil apa,” Kila mengulas senyum canggung. “Nama kamu cantik sama seperti wajah kamu,” Mendengar wanita itu memuji dirinya, Kila tak menjawab. Ia terus tersenyum canggung. Namun, Kila kembali memikirkan Abian. Apa cowok itu tidak apa-apa? Suara pekikan mengejutkan Kila begitu juga perempuan tersebut. Mata Kila menangkap hal yang mengejutkan. Abian ditindih oleh pria sangar itu sambil terus dipukuli tanpa henti. Kila berdiri. Ia berlari mendatangi Abian, tetapi Abian malah mengangkat telapak tangan pertanda supaya Kila berhenti menghampirinya. Alhasil Kila mematung di tempat. Semua muda-mudi menjauh dari mereka berdua lantaran takut kena pukul. Tidak, Kila tak bisa terus berdiam diri. Jemarinya merogoh saku untuk mengambil ponsel. Ia mencari nomor telefon polisi. “Tolong, Pak!” “Ada masalah apa?” “Saya mau melaporkan dua kasus. Ada orang yang melakukan k*******n dan juga p*********n pada wanita.” “Kapan terjadinya?” “Beberapa menit lalu. Teman saya menolong seorang wanita yang sedang diserang, tapi sekarang penjahat itu malah menyerang teman saya.” “Lokasi?” “Pasar malam dekat danau Cidasih.” “Baik. Kami akan segera ke sana.” Telefon ditutup. Detak jantung Kila berdebar begitu kencang saking takutnya. Abian dan Pria itu terus bertengkar. Tetapi Kila lega melihat Abian sudah bisa melawan. ****** “Sshh...” Cowok itu meringis kesakitan saat kapas yang sudah bercampur obat menempel di lukanya. “Maaf,” Kila merasa tidak enak sekaligus bersalah. Sekarang mereka sudah ada di rumah Kila. Satu jam lalu, polisi sudah datang menangkap si penjahat sedangkan Axel dan wanita yang Kila belum tahu namanya sudah pulang dengan aman. Tetapi Abian pulang dengan keadaan acak-acakan. Sudut bibirnya sudah robek dan mengeluarkan cairan merah, rahangnya berwarna keungu-unguan. Dan juga telapak lengan Abian berdarah akibat terlalu keras memukul si penjahat. “Masih sakit gak?” Tak bisa berbicara karena sudut bibirnya masih terasa amat sakit, Abian hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Nafas hangat Kila menerpa wajah Abian. Ternyata jarak mereka begitu dekat. Dia menelan ludah susah payah. Dug Dug Dug Kila terhenti. “Eh, suara apa itu? Kok kaya—“ “Ssh.” Abian meringis kesakitan untuk mengalihkan perhatian Kila. Kila mendengarnya langsung kembali mengobati dengan rasa penuh hati-hati. Tadi... Ada yang aneh. Mungkin kah Kila hanya berhalusinasi? Atau memang benar ada bunyi itu? ******** “Ya ampun, sayang. Wajah kamu kenapa? Kamu kemarin nginep di rumah siapa? Kok gak pulang?” Helmi memperhatikan penampilan Abian dari bawah sampai atas. Pakaian putranya itu rapi, namun berbeda dengan wajah lantaran terdapat luka lebam. “Aku gak pa-pa, Ma. Tadi ada salah paham dikit di jal—“ “Salah paham atau kamu yang cari masalah?” Damar memotong. Ia memandang remeh sekaligus tajam pada Abian. Tatapan itu tatapan yang Abian benci. Sejak keluar dari panti asuhan karena di adopsi oleh mereka, Abian sama sekali tidak diperlakukan baik oleh Damar. Entah mengapa pria paruhbaya itu sangat membencinya. Jika Damar tak mau menerima dia, kenapa ia diadopsi? “Salah paham, Pa.” sahut Abian. “Kamu tuli atau gimana? Kan, udah saya bilang. Panggil saya ‘Tuan’. Saya tidak merasa punya anak kaya kamu.” Sakit hati? Tentu. Abian hanya bisa diam dan berusaha mati-matian untuk tidak memukul sang ayah. Ya, meskipun bukan ayah kandung. “Mas! Kamu harusnya sambut dia dong. Jangan gitu!” Helmi menggertak. Kedua tangannya beralih memegang pundak Abian. “ayo istirahat, Nak. Kamu pasti capek kan?” “Jangan manjain dia. Nanti dia tambah berani.” Sahut Damar masih setia menatap tajam Abian. “Mas!” Helmi menggertak. Damar tak menghiraukan gertakan itu. “Tiga puluh menit lagi. Kamu harus ke rumah Dasha. Ajak dia jalan.” titah Damar. Abian membuang nafas kasar. “tapi aku masih capek, Pa. Bian mau istirahat.” “Berani kamu ngelawan saya?! Berani, hah?! Jawab pertanyaan saya, anak pungut!” Sakit tak berdarah. Jantung Abian terasa dihempaskan usai mendengar kata ‘anak pungut’. “Dia bukan anak pungut, Mas! Dia anak aku!” Helmi membela. Ia menoleh ke belakang, menatap iba putranya. "Semua fasilitas kamu, saya cabut! Itu sebagai hukuman karena kamu sering tidak pulang ke rumah!" Damar beranjak dari duduk. Abian memandang nanar sang ayah. "Kamu tenang aja, sayang. Ada Mama. Mama bakal bujuk Papa kamu biar balikin fasilitas kamu secepatnya." lagi-lagi Helmi menenangkan. Abian amat lega. Setidaknya, ibu angkatnya baik dan bisa mengerti dirinya. Ting Tong Ting Tong Mereka berdua sontak menengok ke pintu saat mendengar bel rumah berbunyi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN