PART 91

1132 Kata
Halo Tante,” Dasha menyapa usai Helmi membuka pintu. Senyum Helmi mengembang. “Tante kira kamu datang tiga puluh menit lagi. Padahal Abian mau jemput kamu loh,” Dasha tertawa kecil. “Aku punya banyak waktu, Tan. Jadi bisa ke sini deh.” “Gue mau ganti baju dulu.” timpal Abian mendadak. Helmi mempersilahkan. Ia lantas menyuruh Dasha untuk menunggu di ruang tamu. “Akhir-akhir ini, Tante lihat kamu makin dekat sama Abian. Kalian sepertinya udah siap untuk nikah setelah lulus nanti ya?” Jika Dasha tengah meminum air, sudah pasti ia terbatuk. Namun, mulutnya kini sedang tidak memakan apapun. Dasha memilin ujung bajunya. “Terserah, Tante aja. Hehehe...” bodoh! Dasha merutuki dirinya sendiri dalam batin usai mengatakan perkataan tadi. “Kalian dibuat nyaman aja dulu ya. Sering jalan berdua dan tanya tentang diri kalian masing-masing.” Helmi menatap hangat Dasha. Tatapan seorang ibu pada putrinya. “Kamu udah tau apa yang di suka Abian dan apa yang tidak kan?” Degupan jantung Dasha berubah tempo, lebih cepat. Masalahnya, dia belum tahu soal Abian lebih dalam. “sudah Tante.” Ucapnya ramah. “Syukurlah. Tante tidak perlu khawatir tentang Abian karena dia punya calon istri begitu pengertian seperti kamu.” Mendengar kata ‘Calon Istri’, Dasha merasa bahagia sekaligus geli. Ia sulit mendefinisikan perasaannya. “Ayo.” Suara berat sekaligus serak terdengar. Suara itu membuat Dasha jatuh cinta mendengarnya. Abian kini sudah rapi dengan baju lengan panjang yang ujungnya digulung sampai ke siku. Untuk celana, Abian memakai celana warna hitam. Mereka berdua pamit. Dasha menaiki motor milik Abian. Cowok itu memboncengnya. Kalau bukan karena mengajak Dasha, Damar—sang ayah sudah pasti tidak mengizinkan Abian untuk mengendarai motor sebab benda itu termasuk fasilitas yang diberikan oleh ayahnya. ****** Kila lapar. Ia membuka dompet. Terdapat satu kartu ATM dan dua lembar uang berwarna merah. Bisa kalian tebak jumlah uang itu berapa. Kila menghela nafas panjang. Tabungannya makin menipis. Setiap hari ia menganggur di rumah dan hanya menghabiskan uang dari lotere yang ia menangkan setengah tahun lalu. Sedangkan mobil? Benda itu tertinggal di rumah Naufal. Kila tak tahu apakah benda itu masih ada atau tidak. Sekarang Kila merasa dirinya sedang di masa kritis. Ia memakai pakaian sederhana kemudian mengambil tas selempang. Segera ia keluar rumah untuk mencari pekerjaan di luar sana. Toko demi toko, ia datangi. Kila selalu mendapatkan jawaban ‘tidak ada'. Sungguh, melelahkan sekali dan cukup menguras banyak waktu. Kila duduk di tepi jalan. Ia menengguk air mineral hingga habis. Secara tidak sengaja, matanya menangkap seorang pedagang soto, makanan kesukaannya. Kila menyebrang jalan dengan penuh hati-hati. Setelahnya, ia sampai di dekat si pedagang. “Sotonya satu bungkus, Mang.” “Siap,” 1 menit berlalu. Pedagang menyerahkan satu bungkus berisi makanan yang Kila pesan. Gadis itu mengambil dompet, hendak membayar, tetapi sebuah tangan merebut dompetnya secara paksa sekaligus kasar. Kila berteriak histeris. Orang-orang di sekitarnya terutama laki-laki berbondong-bondong untuk mengejar sang pelaku perampokan. Terlanjur. Perampok dan temannya itu menjalankan motor di atas rata-rata alias sangat cepat. Bahu Kila merosot. Uangnya benar-benar sudah habis. Menyadari bungkusan makanan sedang ia genggam, Kila memandang sang penjual sambil berkata, “Pak, saya balikin aja makanannya. Saya gak punya uang.” Penjual itu mengibaskan tangan pertanda menolak. “Tidak usah, Neng. Tidak perlu bayar.” Kila tersenyum walau merasa tak enak. Ia kemudian mengucapkan terimakasih. ****** Dengan wajah begitu lesu, Kila berjalan ke rumah sewaannya. Ia tergemap melihat Bu Wati—sang pemilik rumah berdiri di depan pintu sambil memegang benda favorit nya yakni kipas. “Tante ngapain di sini? Silahkan masuk dulu Tan. Pasti udah nunggu lama kan? Maafin Kila ya. Tadi habis keluar sebentar.” Bu Wati memicingkan mata. Memberi tatapan kebencian. Kila amat gugup. Apa dirinya salah? “Dua bulan kamu gak bayar sewa. Kapan bayar?!’ Kila baru teringat. Mengapa dia sangat pelupa padahal itu penting? “Kamu harus membayar besok. Kalau tidak, siap-siap saja pergi dari rumah ini” “Tan, Kila mohon. Kasih aku waktu satu minggu. Jangan terlalu cepat, Tan.” “Halah! Kamu bohong. Sampai kapan saya menunggu? Saya punya anak yang harus dibiayai. Kalau kamu tidak sanggup bayar, lebih baik pergi dari rumah ini. Masih banyak orang yang mau sewa bangunan ini.” Bu Wati melenggang pergi. Kila makin merasa hancur. Dia... harus ke mana lagi? ****** Melelahkan. Abian baru saja selesai mengajak Dasha jalan. Cewek itu terus berjalan ke sana kemari dan mulutnya tak mau diam. Ia berhenti di sebelah jembatan. Suasana ramai walau sudah malam hari. Maklum, malam ini malam minggu. Banyak pasangan yang sedang nongkrong. Abian sekarang telah selesai mengantarkan Dasha. Sebenarnya dia mau pulang, namun pikirannya seolah mencegah. Kila terus muncul di benaknya. Abian bersiap-siap menjalankan motor. Ia melesat menuju rumah Kila. Sesampainya di sana, Abian berdiri di depan pintu. Tangannya mengepal, lalu mengetuk pintu. “Kamu cari siapa, Nak?” Suara parau itu membuat Abian menengok. “Saya cari Kila, Nek.” Jawab Abian ramah usai mengetahui ternyata seorang nenek yang bertanya. “Sekarang rumah itu tidak ada penghuninya. Beberapa jam lalu dia pergi,” Abian tergemap. “maksudnya cewek yang sewa rumah ini, udah pergi, Nek?” “Iya. Nenek kebetulan lihat waktu Nenek mau ke warung,” Abian berjalan mendekati wanita tua itu. "Nenek tau dia pergi ke mana? Kalo tau, tolong kasih tau saya, Nek. Saya temannya." "Nenek tidak tahu, Cah Gagah." (Anak ganteng) "Dia gak ninggalin sesuatu atau surat?" Abian memegang tangan sang nenek, berharap mendapatkan informasi tambahan. Tetapi lengan nenek itu amat dingin. "Tidak, Gah." Abian mulai panik. Ia pamit pada sang nenek sebelum menaiki motor, kemudian mengendarainya dengan kecepatan di atas rata-rata. Nenek itu tersenyum. Perlahan tubuhnya menghilang seakan ditelan oleh dinginnya angin malam. ****** Tok tok tok Kila menggedor pintu dengan tempo lambat, tapi kencang. Tak membutuhkan waktu lama, seorang gadis yang rambutnya dikuncir dua membukakan pintu. “Kak Kila,” Reni membulatkan mata tak percaya. Ia berhambur memeluk Kila. Sangat erat hingga Kila merasa akan kehabisan nafas. Reni mengernyit. Dia melepaskan pelukan. Matanya memandang tubuh Kila dari atas sampai bawah. “Kenapa, Ren?” “Kakak.. udah lahiran?” Deg Kila belum memberitahu kalau ia keguguran. “Kakak sebener—“ “Siapa yang datang, Ren?” Yuni datang memandangi wajah sang putri. Tinjauannya beralih pada sosok yang ada di ambang pintu. “Kak Kila, Mah.” Reni menyahut. “Ngapain kamu ke sini?” Yuni memicing tajam. Kila menyodorkan tangan, berniat untuk menjabat telapak tangan Yuni, namun wanita paruhbaya itu mundur sekaligus memberi tatapan permusuhan. Kila berdiri tegak kembali. Ia menurunkan tangannya kembali. Miris. Beberapa bulan lalu, Kila diperlakukan layaknya anak sendiri, namun sekarang ia malah seperti orang asing. “Maaf kalo aku ganggu Bunda. Kila ke sini mau ngambil mobil yang Kila tinggal beberapa bulan lalu,” “Garasi.” singkat Yuni. “anak saya Cuma tiga. Jangan panggil saya Bunda.” Yuni berbalik badan. Ia cepat-cepat menutup pintu. Reni ikut-ikutan mundur karena takut terjepit. Kila menunduk sedih. Koper besar yang ia genggam, perlahan didorong. Bahkan Ibu Naufal tidak menanyai kabarnya apalagi bayi yang ada di dalam perutnya. Kila bertanya-tanya. Mengapa semua orang berubah-ubah sikap? Naufal dan orang yang ia anggap sebagai Ibunya sendiri kini benar-benar sudah berubah. Dirinya sekarang sudah... Sebatang kara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN