Kila mengusap air matanya. Untuk saat ini, ia tidak boleh lemah. Langit-lagit sudah berwarna jingga pertanda sebentar lagi akan malam.
Di Garasi hanya terdapat motor yang Naufal biasa pakai. Kila tak melihat tanda-tanda ada mobil di sana.
Apa jangan-jangan...
Kila menggelengkan kepala. Ia berjalan kembali ke arah pintu, mengetuk benda cokelat itu berkali-kali. Tidak lupa, Kila juga menyebut ‘Tante' agar Yuni membukakan pintu.
Sakit. Si pemilik rumah tak kunjung membuka pintu. Kila menangis, ia menyandar di bawah pintu.
*******
Reni duduk di sebelah sang ibu. Sekarang mereka berada di kamar Yuni. Reni memegang pundak Yuni. “Ma, kenapa mama gak jujur kalo mobil Kak Kila udah dijual? Kasihan Kak Kila, Ma.”
“Diam kamu.” Yuni memberi tatapan sinis. Reni menunduk, perlahan lengannya ia turunkan.
Yuni menggigit ibu jarinya, cemas.
Beberapa detik diam tanpa ada siapapun yang bersuara, Reni akhirnya angkat suara, “Ma,”
“Jangan bujuk Mama buat jujur. Kamu punya uang buat ganti mobil perempuan itu?”
“Udah tau Mama harus ganti mobilnya Kak Kila. Kenapa waktu itu, Mama tetap aja jual mobilnya? Mama kok gak pikir resikonya.” Nada bicara Reni yang biasanya lembut, kini meninggi dan penuh emosi.
“Berani kamu ngelawan Mama?!” Yuni mengadahkan tangan, hendak menampar putrinya. Reni terdiam, netranya terus menatap sang ibu.
“Tampar aja, Ma! Reni gak keberatan. Seharusnya Mama jaga barang titipan Kak Kila, tapi Mama malah jual mobil itu buat uang jaminan biar Om Arya bebas padahal Om Arya salah. Dia udah bikin seseorang terluka, Ma. Bahkan orang itu sampai patah tulang!”
“Jangan mengungkit kejadian satu bulan lalu, Ren! Dan Arya itu ayahmu jadi panggil dia ‘Papa'.” Yuni memijit kening. “Papa kamu tidak salah. Dia mabuk dan tidak sadar kalau sudah menabrak orang.”
“Papa aku itu Cuma Ibram, Ma! Sampai kapan pun, aku gak akan terima Om Arya sebagai Papa aku!” Reni berdiri. “Aku mau bilang yang sebenernya ke Kak Kila.” Ia menarik langkah keluar rumah.
Yuni membulatkan mata, panik. “Kalau kamu belain dia, Mama tidak akan anggap kamu anak lagi dan juga kamu harus pergi dari rumah ini selamanya!”
Reni tak memedulikan ancaman sang mama. Ia tetap berjalan, saat itu lah Yuni berteriak melontarkan ancaman demi ancaman yang amat ngeri. Sampainya Reni di pintu, seketika ia heran melihat Kila sudah tidak ada lagi di sana.
*********
Besok paginya, Abian berangkat sekolah seperti biasa. Dia sudah mencari Kila, namun Gadis itu tidak ketemu. Ia harap, Kila berangkat sekolah supaya dia bertanya apa sebenarnya yang terjadi.
Bel ternyata sudah berbunyi beberapa menit lalu. Abian memasuki sekolah lewat jalan alternatif. Jalan itu sering dipakai Fardo dan teman-temannya untuk membolos. Abian tentu saja tahu, ia pernah mengikuti mereka secara diam-diam.
Dia menghadang Mia—murid yang sekelas dengan Kila. “a—ada apa?” Mia menelan ludah, gugup. Makhluk ciptaan Tuhan di depannya ini mengapa begitu tampan?
“Kila berangkat?”
“Berangkat.”
“Oke, Thanks.” Abian menepuk pundak Mia sekilas membuat Cewek itu memerah karena malu.
********
Istirahat.
Abian sengaja tidak ikut temannya ke kantin. Dia menuju kelas di mana tempat Kila berada.
Gadis yang dicarinya kini sedang mengobrol, sesekali tertawa. Sejenak, Abian terpesona. Kaki tingginya melangkah mendekati Kila.
Beberapa murid yang masih di kelas terdiam.
“Boleh kita bicara sebentar?”
******
“Lo kemarin kemana? Kok gak ada di rumah?”
Kila meremas roknya sendiri. “Gue pergi buat beli makanan sebentar.”
“Tapi kemarin ad—“
“Sayang!” Dasha berlari mendatangi kedua sosok itu. “Kalian bicarain apa? Kok keliatannya serius banget?”
“Gak ada apa-apa kok. Gue pergi ya.” Kila pamit begitu saja membuat Abian sedikit kesal.
Gadis itu berjalan kembali ke kelas. Sebenarnya ia akan ke kantin, tapi karena tak memiliki uang, Kila tidak jadi ke sana.
“Kil, kirain gue lo udah ke kantin duluan. Baru aja gue mau nyusul lo. Lo mau balik ke kelas lagi?” Dania bertanya tepat saat Kila telah sampai di ambang pintu kelas.
“Iya. Gue... gak enak badan. Sorry ya, gak bisa ke kantin.”
Punggung tangan Dania meraba-raba kening Kila. Ia tidak merasakan panas. “kok lo gak panas?”
“Emang sakit Cuma panas doang? Perut gue yang sakit, Dan. Lo ke kantin aja ya.” Kila tersenyum tipis. Ia melewati Dania. Sampainya di kursi, dia melipat tangan di meja, lalu menenggelamkan wajah di sana.
Perut Kila, amat perih. Dari kemarin malam, ia belum makan apa pun. Tadi malam, ia tidur di bangku taman. Beruntung tidak ada orang jahat yang mengambil kopernya. Pagi tadi, dia mandi di WC umum. Sedangkan kopet besarnya? Ia titipkan di Bi Asih—penjaga warung di sebrang sekolah. Ia dan Bi Asih sudah akur sejak pertama Kila masuk SMA ini. Ya, meskipun mereka jarang bertemu. Tapi Kila percaya sepenuhnya.
Kila mendongak, menengok ke samping. Tidak ada murid satu pun selain dirinya. Benar-benar menyedihkan. Suara langkah kaki membuat Kila duduk tegak kembali. Semoga saja itu Dania atau Abian! Atau lagi Dasha! Ia akan sangat sen—
Naufal.
Kila seketika menjadi bete sekaligus sedih. Iya, perasaan Kila campur aduk dan sulit di didefinisikan. Namun, mobilnya. Tidak salah kan menanyakan soal mobilnya pada Naufal?
“Tunggu.” Cegah Kila saat Naufal hendak keluar kelas.
“Apa?” sahut Naufal dengan raut datar dan dingin.
“Mobil yang gue tinggal waktu itu, mana?”
Naufal menggedikkan bahu. “mana gue tau.” Akan pergi, namun Kila memegang lengannya.
“Lo harusnya tau! Lo kan tinggal di rumah itu.” Kila sangat kecewa mengatakannya.
“Bukan urusan gue.”
“Lo kenapa gak tanggung jawab sih, Fal? Pertama, waktu itu lo gak mau ngakuin bayi di perut gue padahal bayi itu anak lo. Kedua, lo tinggal di rumah itu. Gak mungkin kalau lo sama sekali gak pulang. Gak mungkin juga kalau lo nggak tau benda yang ada di rumah lo. Lo kenapa sih, Fal? Kenapa sikap lo selalu bikin gue kecewa?” mata Kila memanas. Detik berikutnya air mata jatuh. Untuk kesekian kalinya, dia menangisi seseorang yang bahkan tidak menyayangi nya sama sekali.
“Lo pikir gue akan ngerasa iba gitu? Pikiran lo salah besar. Gue gak akan kasihan dan jangan berharap gue masuk ke perangkap lo.”
“Perangkap apa, Fal?” Kila memandang sendu. Hatinya sangat perih mendengar perkataan Naufal barusan.
“Jangan pura-pura gak tau lo!” Naufal mendorong tubuh Kila, tetapi...
Gadis itu malah pingsan. Naufal memegang lengan Kila, menariknya supaya Kila tidak jatuh.
Gadis ini... kenapa?