PART 93

1133 Kata
Seantero SMA Sebum berbisik-bisik heboh lantaran menyaksikan pandangan mengejutkan. Bagaimana tidak? Kedua pasangan itu sudah lama tidak bersama. Ya, bisa dibilang mereka telah putus. Terlebih lagi, Naufal sekarang mempunyai Lusi sebagai pacar. Akhir-akhir ini, Naufal dan Lusi sering mengumbar mesra. Biasanya Naufal selalu menolak Lusi untuk dekat-dekat, namun kini malah sebaliknya. Dan... kejadian menit ini begitu menghebohkan! Naufal membawa Kila ke UKS dengan cara menggendong Cewek itu menggunakan kedua tangan bukan punggung. Hal tersebut, menimbulkan kesan sangat romantis. Seperti di drakor/novel saja. "Dia kenapa, Dok?" tanya Naufal sangat khawatir. Namun, dia berusaha menutupi rasa itu dengan memasang raut dingin nan datar. "Teman kamu ini sepertinya belum makan dua hari. Energinya melemah karena tidak menerima asupan. Kamu pacarnya kan? Kenapa kamu biarkan dia kelaparan?" tanya Sang Dokter. "Mana saya tau. Saya bukan pacarnya." Naufal pura-pura tak peduli. Padahal di pikirannya bertanya-tanya. Kenapa Kila belum makan selama itu? Apa ini alasan Kila menanyakan mobil padanya untuk dijual kemudian membeli makanan? "Loh, berarti kamu temannya ya?" "Bukan." "Trus siapanya?" Sang Dokter bingung sendiri. "Bukan siapa-siapanya. Saya cuma orang asing yang nolongin dia." Dokter wanita itu terkejut. Ia geleng-geleng kepala. Pasti mereka sepasang kekasih yang sedang bertengkar. "Siapa pun kamu, kamu harus perhatiin pola makan dia ya. Tubuh dia lemah dan rentan pingsan." "Hm." "Saya pergi dulu." Sampai di ambang pintu, Dokter tersebut berhenti. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. "Ini buat teman kamu." Dia memberikan sebungkus roti pada Naufal. Naufal menerima. Sang dokter melanjutkan langkah dan keluar. Naufal meletakkan roti bungkus itu meja makan yang letaknya di samping ranjang UKS. Niatnya ingin pergi diam-diam, Kila malah sadar. Sekarang gadis itu memegang lengannya. Naufal langsung menepis. "Makasih," ujar Kila lemah seakan tidak ada tenaga. "Jangan kira gue yang bawa lo ke sini. Gue di sini cuma nganterin makanan dari Lusi ke lo aja. Gue denger, lo belum makan dua hari ya?" Naufal tertawa kecil. "Oh, sekarang lo jadi gembel?" "Sayang, kenapa kamu ada di sini?" Lusi datang. Naufal mendadak tegang sekaligus gelisah. "Kila? Kamu sakit apa?" Kila mengernyit. Bukannya Lusi yang memberikan roti itu? Seharusnya Lusi tahu kalau dia sakit. Ini benar-benar aneh. "Kita keluar aja yuk, sayang." Naufal menangkup pipi Lusi membuat jantung Lusi berdebar tak karuan. Mata Naufal itu loh, yang membuatnya jatuh cinta. Kila memandang ke arah lain. Walaupun Kila tahu Naufal sekarang bukan miliknya, tapi tetap saja ia sakit hati. Bayangkan, kalian melihat orang yang menjadi cinta pertama kalian bersama wanita lain. Lebih sesaknya, status digantung oleh si dia. Iya, digantung. Sama seperti Kila. Kila tidak tahu apakah dia masih menjadi pacar Naufal? Atau tidak? Naufal sama sekali tidak pernah mengatakan kata 'kita putus' padanya. "Tapi aku mau liat ke--" Naufal buru-buru meletakkan jari telunjuknya di bibir tipis Lusi. "Sstt... kita udah jenguk dia." Lusi menurunkan jari Naufal. "Kapan, Yang?" "Barusan. Waktu jenguk kita udah habis. Kita lanjut ke kantin aja." Naufal membalikkan badan Lusi supaya menghadap pintu, ia kemudian berdiri di samping. Tangan Naufal terulur untuk merangkul pundak Lusi. Hati Kila tersayat lebar. Naufal telah membuka luka yang dia coba sembunyikan. Ya Tuhan, mengapa terasa amat menyakitkan? Kila sangat membenci Naufal. Sangat! Tapi masalahnya, dia tidak tahu cara membenci. Hati terdalamnya mengatakan untuk terus mencintai Naufal. Perut Kila bergemuruh. Dia langsung mengambil roti di meja samping kasur UKS. Memakannya dengan cepat, jujur dia sangat lapar. Sekarang perutnya sudah agak mendingan. Tidak selapar seperti saat ia di kelas. "Lo gak pa-pa?" Abian datang dengan raut wajah panik. Kila tersenyum, namun senyumnya perlahan memudar usai menyadari Dasha ada di belakang Abian. "Gak pa-pa." "Kamu kenapa bisa pingsan, Kil?" giliran Dasha yang bertanya. "Gue cuma gak enak badan kok. Kalian nggak perlu khawatir. Gue sekarang baik-baik aja." "Gue bawain makanan kantin nih. Lo makan ya. Gue takut lo pingsan lagi. Btw, tadi pagi lo gak sarapan?" Dasha mencecar. "Gue lupa sarapan. Makasih makanannya," Abian mengamati Kila penuh curiga. "Gue gak bisa bertahan tanpa sarapan! Sumpah!" itu lah perkataan Kila waktu itu. Namun sekarang perkataan itu hanyalah omongan saja yang sudah tak berlaku. ******** Tak tahu tujuan. Kila berjalan ke sana kemari menanyakan pekerjaan dan juga rumah kontrakan. Dia bergegas mencari, mengingat hari sudah akan malam. "Bu, ada lowongan enggak?" Si ibu pedagang menggeleng. Sorot matanya menatap sinis Kila. "Gak ada! Suami saya bisa khilaf kalo liat kamu!" Eh, ibu ini memuji atau mengkritik Kila? Kila termenung, mencoba memahami ucapan wanita paruhbaya di depannya ini. Namun, suara pecahan piring membuyarkan Kila. "KALAU KERJA YANG BENER DONG!" Penjual itu membanting ulekan sehingga menimbulkan suara bising sekaligus mengerikan. Tidak! Kila tak mau punya majikan segalak itu. Dia melanggang pergi. Lelah. Kakinya terasa pegal. Kila membungkuk seraya memegang lutut. Apa malam ini dia harus tidur di taman lagi? Ia berjalan kembali. Tangan kurusnya itu menyeret sebuah koper lumayan besar. Kila menyebrang jalan tanpa melihat kanan kiri. Dan benar saja. Sebuah truk besar sekaligus beruntun berjalan ke arahnya. Truk itu sempat melakson, tetapi telinga Kila seolah tuli. Gadis itu baru sadar ketika sebuah tangan mendorong tubuhnya. Kila memejamkan mata. Ia perlahan membuka mata, seorang wanita berparas muda sekaligus cantik berada di sampingnya. Kila bangun, ia meringis merasakan nyeri di sikutnya. Ternyata sikutnya tergesek aspal sehingga berdarah, tapi beruntung, truk itu sudah melaju dan tak menabrak Kila. Wajah wanita yang menyelamatkannya tidak asing. Seperti pernah bertemu di suatu tempat, namun Kila tidak ingat. Di mana itu. ******* Mereka berdua kini duduk di taman SD—tempat Kila tidur kemarin malam. “Sakit? Maafin Tante,” wanita itu ikut meringis melihat Kila kesakitan. Ia terus menempelkan kapas yang sudah dicampur obat ke permukaan kulit siku Kila. Setelah selesai, wanita itu menutup kotak obat. Ia tersenyum sambil mengusap surai hitam Kila. “kamu kenapa gak liat jalan kalo mau nyebrang?” Kila tak menjawab, ia terkekeh malu. “Maaf udah repotin Tante.” “Nggak kok.” “Kayaknya kita pernah ketemu, Tan? Atau Kila salah?” “Kamu bener. Tante ini orang yang udah kamu tolong dari orang jahat yang ada di pasar malam.” Kila membulatkan mulut. “pantes wajah Tante gak asing. Tante sekarang keadaannya gimana? Gak apa-apa kan?” Wanita itu menggeleng. “Tante baik-baik aja. Ini semua berkat kamu. Oh iya, kamu mau pergi ke mana? Kok bawa koper?” “A—anu, Tan..” “Sherren! Kamu kok ada di sini Jeng?” Suara cempreng dan heboh itu memanggil. Dahi Kila mengerut. Apa wanita di sampingnya ini yang dipanggil? “Iya, aku obatin luka anak ini. Kasihan,” “Oalah. Cantik anaknya ya.” Kila menarik sudut bibir membentuk senyum indah. “MasyaAllah,” takjub wanita itu. “eh, jeng. Saya pamit ya. Suami sama anak udah nungguin.” “Iya. Hati-hati.” “Wah, udah mau malam ini. Kamu mau pergi ke mana? Perlu Tante anter pake mobil?” tawar Sherren. “Nggak usah, Tan. Nanti ngerepotin.” “Kamu gak ngerepotin kok. Hitung-hitung, sebagai balas budi karena udah tolong Tante waktu itu. Jadi, rumah kamu di mana?” “A—anu... Sebenarnya aku nggak punya rumah, Tan.” “Apa?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN