Kila melirik setiap sudut rumah. Dia begitu takjub. Rumahnya begitu mewah dan memberi kesan elegan sehingga enak dipandang.
"Duduk,” titah Sherren.
Kila tersenyum kikuk. Sofa yang kini dia duduki mengingatkannya pada rumah, namun sudah lama Kila tidak ke sana.
"Kamu mau minum?"
"Ng--nggak usah, Tan. Nanti Kila ambil sendiri aja,”
Sherren menengok jam tangan. “sebentar lagi Tante mau kerja. Kamu Tante tinggal gak apa-apa kan? Kalo butuh apa, tinggal bilang ke Bi Ima ya. Dia mungkin sekarang ada di kamarnya. Biasanya sih, belum tidur.”
“Iya, Tan. Makasih udah izinin Kila nginep di rumah Tante,”
“Sama-sama. Oh iya, Tante antar ke kamar kamu. Pasti udah capek kan?” Sherren mengambil alih koper besar Kila, Kila hanya bisa merasa tidak enak. Wanita itu benar-benar baik padanya.
Kamar Kila juga tak kalah mewah dan lebih bagus dari kamarnya dulu. Kasur barunya begitu tebal sepertinya akan sangat nyaman jika tidur di sana!
“Tante pergi ya. Kamu jaga diri baik-baik. Kalau ada yang mengetuk pintu, abaikan.” Sherren menepuk punggung Kila sejenak. Ia berlalu tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya itu.
Alhasil, Kila menyeret koper besar itu ke dekat lemari. Dia mengeluarkan semua isinya, kemudian memasukkan ke dalam lemari yang ukurannya cukup besar.
“Kamu Non Kila ya?”
Kila menoleh. Mendapati seorang wanita paruhbaya berdiri di ambang pintu. “iya, Bi. Tau nama saya dari mana?” tanya Kila bingung.
“Dari Nyonya Sherren, Non.” Bi Ima mendekati Kila. “biar saya aja yang masukin bajunya ke lemari. Non duduk aja. Apa Non mau minum?”
“Aku udah minum kok tadi. Anu... itu pakaiannya—“
“Ini pekerjaan bibi, Non.” Bi Ima menyunggingkan senyum hangat. Kila luluh, ia memutuskan untuk duduk saja di tepi kasur.
******
Kila sedang berada di kantin. Bercanda tawa dengan Dania dan juga Dasha. Bersama kedua sahabatnya itu, Kila merasa dunianya lengkap. Ya, walaupun tidak ada orang tua apalagi pacar. Namun, bagi Kila, kedua sahabatnya itu sudah cukup.
“Minggu nanti gue main ke rumah lo ya!"
"Lo pindah ke rumah baru kan?!"
Kila menatap Dasha dan juga Dania secara bergantian. Ia bingung sendiri. Pikirannya, apa iya, Tante Sherren bersedia memberi tumpangan rumah selama 1 minggu? Kila juga tidak tahu sampai kapan dia menumpang, mengingat dirinya belum mempunyai pekerjaan.
"I--iya,"
"Kok gugup?" Dasha menaikkan satu alisnya.
"Nggak apa-apa," Kila mengusap lehernya yang tidak gatal.
"Boleh gabung?" Abian menarik bangku, ia duduk tanpa menunggu jawaban dari ketiga cewek itu.
"Ye, lo udah duduk duluan, Bi." Dania mencibir.
"Jangan kaya gitu, Dan. Nanti Abian sakit hati." Dasha iba. Ia menatap khawatir sang tunangan bak ibu pada anaknya.
"Dia aja gak peduli, lo sakit hati apa gak." balas Dania tak mau kalah.
"Tapi itu kan, dulu."
"Tapi tetep aja, lo pernah sakit hati gara-gara kelakuan dia."
"Dania, jangan ungkit masa lalu."
"Gue nggak ngungkit. Gue cuma bilang doang."
Atsmosfer berubah menjadi tegang. Kila ragu untuk melerai. Berdasarkan pengalaman Kila, Dania itu tipe wanita yang tidak mau kalah jika berdebat.
"Udah. Stop, Beb." akhirnya Abian angkat suara.
"Kamu jahat, Dan." air mata Dasha menetes. Ia pergi ke pelukan Abian, menenggelamkan wajah sekaligus menumpahkan air matanya di sana.
"Sha, maafin gue," penyesalan selalu datang di akhir. Ya, Dania sekarang menyesal.
Isak tangis Dasha makin kencang. Dania gelagapan, tak tahu harus berbuat apa lagi. Ia tidak menyangka ternyata Dasha begitu mudah menitikkan air mata.
"Kita pergi dari sini, Yang." Dasha mendorong Abian pertanda mengajaknya untuk pergi.
"Gu--"
Kila menepuk bahu Dania membuat si empunya terpotong ucapannya. "Harusnya lo hati-hati kalo ngomong."
"Lo ada di pihak siapa?" Dania memberi tatapan was-was.
"Nggak di pihak siapa-siapa. Gue bukan tipe orang yang suka kompor di tengah-tengah orang berantem." Kila menarik nafas, menghembuskan perlahan. "Gue bakal bantu kalian baikan,"