Kila POV.
“Hari ini suami Tante pulang,”
Aku mengalihkan pandangan dari buku ke orang yang baru saja berbicara. Tante Sherren. Dia mendudukkan diri di sebelahku.
“Lagi baca apa?” dia merebut buku dari tanganku. “Oh, jadi kamu suka novel?”
Aku nyengir. “iya, Tan.”
"Kamu sama kaya anak saya. Dia suka banget baca novel. Pagi, siang, sore, malam, selalu baca novel. Tante udah bilangin jangan terlalu berlebihan, tapi dia bandel." aku bisa melihat, netra berkaca-kaca. Sorot matanya terpancar kesedihan mendalam. Aku jadi ikut kasihan sekaligus penasaran. Siapa anak itu?
"Maaf, boleh Sasa tau? Anak Tante di mana?" mulutku tiba-tiba ingin mengatakan hal itu. Aku sengaja menyebut diriku 'Sasa' karena Tante Sherren suka memanggilku seperti itu.
"Anak Tante..." Tante Sherren mendongak. Oh, tidak. Jangan-jangan..
"Dia sudah di atas sana." lanjut Tante Sherren.
Dugaanku benar. Aku mengusap pundak Tante Sherren, berusaha menguatkan. "Maaf, Tan."
"Gak apa-apa."
Aku menelan ludah. Teringat perkataan Dania waktu istirahat di sekolah kemarin. "Tan, Sasa boleh minta sesuatu?"
Tante Sherren mengangguk cepat.
"Aku kayaknya bakal tinggal di sini sampai aku punya rumah baru, Tan. Jadi, kemungkinan aku tinggal di rumah ini sampai a--"
"Sampai kapan pun kamu tinggal di sini, Tante gak akan melarang. Pintu rumah Tante selalu terbuka untuk kamu. Jangan merasa nggak enak, oke?"
Aku lega sekaligus tak enak. Wanita yang baru aku kenal, mengapa begitu baik sekali?
"I--iya, Tan." suaraku melirih.
Perhatianku teralih pada mobil yang berjalan memasuki gerbang. Aku bingung sebab tak pernah melihat mobil itu berkeliaran di rumah. Mungkin saja itu tamu?
Tante Sherren tersenyum, ia mendatangi mobil itu tanpa mengatakan apapun padaku. Karena penasaran, aku mengikuti.
"Katanya pulang nanti malam, Mas? Kok jam segini udah pulang?"
Seorang pria berjas rapih keluar dari mobil. Kila mengerti sekarang. Orang itu pasti suami Tante Sherren.
Mereka berpelukan hangat. Aku jadi iri. Ah, tidak. Bagiku, jatuh cinta itu membutakan seseorang. Iya, membutakan korban hingga tidak tahu perbuatan mana yang buruk dan baik.
Aku pernah merasakan jatuh cinta. Tentunya... dengan seseorang.
"Kamu yang namanya Sasa?" Pria itu menatapku. Aku mengangguk pelan.
"Saya Glen."
Aku mengulurkan tangan, kemudian menjabat tangannya.
"Ayo masuk. Masa mau ngobrol di sini," Tante Sherren tersenyum ramah. Kita bertiga akhirnya masuk ke dalam rumah.
"Sasa,"
"Iya, Om?" sahutku. Merasa canggung, sebab aku sekarang duduk berhadapan dengan kedua orang yang baik sekali.
"Kamu mau jadi anak angkat kami?"
Deg
Jantungku mendadak berpacu cepat menimbulkan rasa amat nyeri. Sungguh sangat tidak nyaman. Bayangkan saja, kedua orang yang belum kalian lama kenal, tiba-tiba mengatakan kata seperti tadi.
"Maaf, Om..." aku menelan ludah susah payah. "Orang tua aku, masih ada," pandanganku terus ke bawah, ada rasa malu sekaligus takut. Campur aduk.
"Tidak apa-apa. Kami bisa meminta persetujuan orang tua kamu." ucap Om Glen.
Benarkah boleh seperti itu jika ingin mengangkat seorang anak yang masih memiliki orang tua? Aku tak paham tentang konsep adopsi. Lagi pula, untuk apa aku memahaminya?
"Om sama Tante kasih kamu waktu. Kami berdua tidak akan memaksa kamu. Jadi, santai dan pikirin baik-baik ya."
Aku mengangguk lagi. Lidahku masih terasa kelu untuk mengucapkan sesuatu. Ini benar-benar nyata kan? Mengapa mereka begitu baik sampai-sampai mau mengangkat ku menjadi anak mereka.
Mereka pamit keluar. Mau ke tempat perbelanjaan katanya. Aku memutuskan berjalan ke kamar untuk merenung.
Sesampainya di sana, aku duduk di tepi ranjang. Sejak lama, aku penasaran. Kemana orang tua ku pergi? Mengapa mereka begitu tega meninggalkanku sendirian? sudah tahu, dunia ini amat kejam, tapi kedua orang tuaku tetap tega.
Ting Tong
Bel berbunyi. Suaranya terdengar sampai ke kamarku. Aku hendak berdiri, namun aku lihat Bi Ima berlari ke lantai bawah. Niatku untuk membuka pintu seketika pupus. Aku duduk kembali.
Selang beberapa detik, Bi Ima dengan raut lelahnya mendatangi kamarku. "Non, ada polisi yang mencari Non."
Aku terbelalak. Perasaan, aku tidak pernah berbuat jahat. Keluar rumah saja, sekarang jarang karena tidak enak jika Tante Sherren melihat.
Dengan langkah cepat, aku menuruni tangga. Ku lihat ada 2 polisi berdiri di ambang pintu. Jantungku berdetak tidak karuan. Semoga saja masalahnya tidak serius!
"Ada apa, Pak?" tanyaku takut.
"Kami menemukan jenazah yang mirip dengan Yana dan Edwin. Oleh karena itu, kami ke sini untuk memastikan karena kondisi jenazahnya sudah tidak bisa dikenali lagi. Apa benar kedua orang tua Anda hilang?"
Aku mendekap mulut. Tubuhku seketika menjadi lemas, hendak ambruk. Aku berpegangan pada dinding untuk menahan. Aku mencoba untuk menenangkan diriku terlebih dahulu. Dengan satu tarikan nafas panjang, aku berkata, "orang tua saya di luar negeri, Pak. Mereka sedang melakukan perjalanan bisnis."
"Pesawat yang mengalami kecelakaan itu berasal dari Jepang. Tujuannya ke Indonesia. Bisa jadi, kedua orang itu ibu dan ayah kamu."
"Apa kamu tahu di negara mana orang tuamu melakukan perjalanan bisnis?" tanya sang polisi berkepala botak.
Aku menggeleng pelan.
"Sebaiknya, Anda ikut kami ke rumah sakit untuk memastikan."
Jika ini mimpi, tolong bangunkan lah aku.
Kegilaan apa lagi yang terjadi? Kalau benar kedua orang tuaku meninggal, aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini.
Duniaku seluruhnya hancur sekaligus hampa.