Kaki jenjangnya melangkah masuk ke dalam ruang yang di atasnya bertuliskan 'kamar jenazah'. Suara sepatunya memecahkan keheningan.
Kila memegang daun pintu. Perlahan ia mendorong pintu tersebut. Tampak dua jenazah ditutupi oleh kain putih polos, tetapi terdapat bercak-bercak darah. Tubuh Kila gemetar hebat, ia berusaha kuat agar bisa mengetahui siapa dua jenazah itu.
Pertama, Kila memilih untuk berdiri di samping jenazah bagian kiri. Jemarinya yang gemetar perlahan membuka kain putih.
Satu detik.
Dua detik.
Kila memejamkan mata usai melihat wajah sang jenazah yang sudah tidak berbentuk sehingga sulit dikenali. Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam mengatakan Kila untuk membuka mata.
Samar-samar ia kembali melihat wajah jenazah perempuan tersebut.
Kila sama sekali tidak bisa mengenalinya. Ia beralih melihat tangan sang jenazah perempuan. Meski berlumur darah, Kila tak ragu untuk memegang. Cincin emas tersemat di jari manis sang jenazah. Kila mengusap cincin tersebut untuk memperjelas.
Dan... Kila tersentak.
Untuk sesaat, ia tak bisa bernafas. Dunia seakan berhenti.
Cincin itu... mirip seperti cincin pernikahan ibunya.
Tinjauannya beralih pada jenazah di samping mayat ibunya. Ia mengecek lengan kanan tepatnya di jari manis.
Benar.
Cincin mereka sama. Artinya, mereka sepasang suami istri.
Kila berteriak histeris. Tubuhnya ambruk di antara dua jenazah tersebut. Setelahnya ia tergeletak tidak sadarkan diri.
Dia kira, kedua orang tuanya akan kembali. Takdir memang tidak bisa diduga. Orang yang sekarang bersama kita, bisa jadi besoknya akan terbujur kaku. Meninggalkan kenangan yang bila diingat, kita hanya akan merasa tidak ikhlas atas kepergian mereka. Lebih parahnya, berharap orang itu kembali padahal sudah jelas bahwa orang tersebut sudah tak bernyawa.
****
Sherren dan Glen lari terburu-buru memasuki ruangan tempat Kila berada. Kebetulan Dokter telah selesai memeriksa. Orang berseragam putih itu langsung dihadang oleh Sherren dan Glen.
"Saudara pasien?" Dokter memastikan.
"Bukan, kami orang tua angkat pasien." sahut Sherren dengan wajah amat panik.
"Baiklah. Pasien syok sehingga dia pingsan. Mentalnya mungkin sedikit terguncang. Saya sarankan, kalian mendampingi dan menghibur pasien." jelas Sang Dokter.
Sherren lemas. Glen memegang pundak Sang istri, berusaha menenangkan.
"Saya tinggal dulu." sang dokter pamit. Glen mengangguk sekali sebagai jawaban.
"Nasib anak itu benar-benar menyedihkan, Mas. Aku janji bakal jadi ibu yang baik buat dia." isak Sherren. Glen membawa Sherren dalam pelukannya.
Mereka berdua tahu kabar orang tua kandung Kila meninggal karena kecelakaan pesawat dari siaran berita di televisi. Awalnya mereka tidak begitu peduli, namun Bi Ima datang mengatakan tentang dua orang polisi kemari untuk menyuruh Kila melihat jenazah yang diduga mayat orang tua Gadis tersebut. Sejak saat itulah Sherren dan Glen yakin kalau Yana dan Edwin merupakan salah satu korban kecelakaan mengenaskan itu.
Kini keduanya duduk di tepi ranjang rumah sakit. Sherren menggenggam hangat lengan kurus Kila berharap kekuatan darinya menular pada Kila.
Sayup-sayup kedua bola mata Kila terbuka. Sherren makin memegang erat telapak gadis itu.
Hingga akhirnya, mata Kila sepenuhnya terbuka. Ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Detik kemudian, Kila sudah duduk. Hendak berjalan keluar, namun Sherren menahan.
"Jangan, Nak. Kamu istirahat di sini aja dulu..." suara Sherren gemetar. Ia tidak kuat untuk menahan tangis.
"Gak! Aku mau ketemu Mama sama Ayah! Lepas, Tante! Lepas!" Kila memberontak. Sherren hampir saja jatuh. Beruntung ada Glen di dekatnya.
"Mereka udah tenang di atas sana, sayang." parau Sherren.
"Enggak, Tante!"
"Mereka butuh aku!"
"Mereka pasti mau nemuin aku. Mama sama ayah pasti kangen aku. Tante jangan melarang!"
"Tante gak punya hak!"
"Lepasin! Kalian berdua bukan siapa-siapanya aku!"
Mendengar Kila menggertak tanpa henti, Glen melayangkan tangan sehingga terciptalah sebuah tamparan keras yang meninggalkan bekas kemerahan di pipi Kila.
Kila tertoleh. Ia memegang pipinya yang nyeri sekaligus panas.
Sherren memekik. "Kamu kenapa main pukul, Mas!" ia mendekati Kila, namun Kila menepis lengan Sherren.
"Pergi!"
"Aku bilang pergi!"
Kila turun dari ranjang, ia melemparkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Glen memberi tatapan isyarat pada Sang istri. Ia menuntun Sherren keluar ruangan. Jika nanti Kila sudah tenang, barulah mereka masuk kembali.
Tapi, Sherren menghadang suster yang baru saja keluar dari ruangan lain. Suster itu pun bercempera masuk ke dalam ruangan Kila.
Gadis itu masih mengamuk. Untung saja suster itu bisa menghandle dan memberikan suntikan bius supaya Kila terlelap untuk sementara.
Namun, tetap saja. Kila akan sadar kembali. Gadis itu tak mau menerima kenyataan.
Ia sedih, kecewa, marah. Campur aduk.
Padahal Kila ingin melihat wajah kedua orangtua yang tersenyum manis padanya, memujinya dan hadir di acara wisuda kelak. Andaikan ketiga hal itu tercapai, Kila benar-benar akan sangat bersyukur.
Namun terrnyata, Tuhan menyayangi mereka. Oleh sebab itu, Mereka diambil terlebih dahulu.