Kila merasa risih. Ia menoleh ke belakang, Arkan terus mengikutinya dengan muka tanpa ekspresi. Semua orang yang melihat itu pasti berkata aneh termasuk Kila. Ia berjalan cepat ke kantin. Di sana terdapat belokan. Kila yakin, Arkan tidak akan mengikutinya lagi. “Bi, aku pesan yakult nya satu.” Usai makanan yang ia pesan didapat, Kila menoleh ke kanan kiri, berharap tidak ada Arkan. Namun, harapannya pupus setelah menyadari Arkan duduk di salah satu bangku kantin. “Lo ngikutin gue?” tanya Kila. “Iya, Kak.” “Lo gak mau masuk ke kelas? Sebentar lagi bel masuk bunyi, loh.” Kila mencoba mengusir Arkan secara halus. Jika ini tidak berhasil, maka dia akan meng— “Gak, Kak. Aku bareng sama Kakak aja.” Tuh, kan! Baru saja Kila membatin, Arkan malah berbicara memberikan jawaban yang menyeba

