Bab 2. Gadis Pilihan Kakek

1280 Kata
"Sial! Kenapa kakek begitu ngebet banget nyuruh aku buat nikah. Gila aja." Pria itu menenggak satu gelas whisky dalam satu kali tenggak hingga tenggorokannya langsung terasa panas. "Ah, kenapa aku harus melalui semua ini! b******k!" Alunan lagu menghentak yang mendebarkan jantung tak membuat badannya ingin bergoyang. Semua karena keputusan sang ayah dan kakek yang membuat otaknya penat. Bartender dari club langganannya hanya dapat menggelengkan kepala melihat kelakuan bos muda itu malam ini. "Hai, Beb. Sendirian aja?" Sosok cantik dan seksi kini langsung duduk di atas pangkuan Alex. Wanita itu bahkan tak malu untuk meraup bibir Alex. Namun, keningnya mengernyit kala tak mendapatkan balasan. "Ada apa, hm? Coba cerita ke aku!" Alex hanya diam dan menyingkirkan tubuh seksi itu dari atas tubuhnya. "Gak ada, Sil! Aku cuma lagi pusing aja," ujarnya mengibaskan tangan. Wanita itu menyeringai. "Gimana kalau kamu bercerita sambil di atas ranjang? Bukankah itu bisa membuatmu lebih rileks, Beb," bisiknya di telinga Alex. Alex yang tadinya tidak berminat menjadi terangsang saat wanita tersebut begitu agresif menggodanya. Malam itu pun dihabiskan dengan penuh desahan dari bibir mereka berdua di sebuah ruang khusus untuk tamu VVIP. "Jadi, intinya kamu butuh perempuan buat dinikahi dalam waktu cepat?" tanya Pricilla sambil menatap punggung tegap Alex yang tengah memakai kemeja. "Hm, kamu ada kenalan gak? Urgent, nih!" "Kenapa gak aku saja? Bukankah kita bisa mendapatkan keuntungan satu sama lain?" Satu sudut bibir wanita itu tertarik ke atas penuh tipu muslihat. Alex pun ikut menyeringai. "Kalau gitu, besok pagi aku jemput kamu di apartemen!" "Deal!" sahut Pricilla. Keesokan harinya, Alex datang bersama dengan satu wanita cantik dengan pakaian yang sangat elegan. Makan siang yang memang sudah terjadi beberapa menit yang lalu terinterupsi oleh kedatangan mereka berdua. "Selamat siang, Ma, Pa, Kek," sapa Alex dengan begitu gagahnya. Kemeja mahal yang dipadukan dengan celana belel kesayangan dan rambut yang tidak tertata rapi –sangat Alex sekali– membuat ketiga manusia di sana terheran-heran. "Ada apa? Apa aku membuat kalian terkejut?" "Apa kamu benar-benar sudah menjadi gelandangan? Ada apa dengan celana sobek seperti itu masih kamu pakai!" celetuk Prabu dengan sinis. "Astaga, Kek. Ini tuh fashion masa kini. Masa kakek gak tau, sih!" Selera fashion Alex memang terlihat begitu mengerikan. Namun, berkat ketampanan yang diturunkan langsung oleh keluarga Sasongko membuatnya tetap begitu tampan dan rupawan, walau menggunakan baju gembel sekali pun. Tak mendapatkan respon yang berarti membuatnya dengan cepat merangkul pinggang wanita cantik di sebelahnya. "Kakek, liat! Aku sudah mendapatkan calon istri dengan bibit, bebet, dan bobot yang sesuai dengan keluarga kita. Kakek pasti suka, 'kan? Oh iya, Sayang. Kenalin, mereka adalah kedua orang tuaku dan juga kakekku." "Selamat siang, Om, Tante, Kakek. Perkenalkan, saya adalah Pricilia. Calon istri dari Alex," ucapnya dengan senyum simpul. Mereka bertiga hanya diam, tidak ingin menjabat tangan dari wanita itu. Tentu hal tersebut membuat Priscilla merasa tidak dihargai. Dia menatap Alex dengan kesal. "Ma, Pa, Kakek! Kenapa kalian seperti itu? Bukankah kalian sendiri yang memintaku untuk mencari pasangan hidup? Lalu, kenapa sekarang kalian menjadi seperti ini. Dia adalah wanita cantik yang pernah aku kenal, bahkan Sisil juga pandai memasak, dia juga seorang desainer, dan tentunya pasti tidak akan membuat keluarga kita merasa malu." Alex mulai sedikit terpancing emosi. Kakek sangat tidak terkesan dengan wanita tersebut. Dia kemudian menyeringai sinis sambil duduk bersandar di kursi dengan mata menyorot datar. "Apa kamu pikir dengan membawa wanita itu datang ke sini, niatku untuk menjodohkanmu akan goyah? Tidak sama sekali, Nak. Lagian bukan dia yang akan menjadi istrimu, melainkan seseorang yang memang sudah aku siapkan beberapa bulan ini. Aurora, masuklah!" Dia kemudian memanggil seseorang yang memang sudah sedari tadi ada di belakang. "Dijodohkan? Aurora?" tanya Alex membeo. Mereka berlima dengan kompak melihat kedatangan seorang gadis sederhana yang memakai gaun berwarna putih gading sampai lutut. Terlihat begitu ketinggalan zaman dan Alex benci cewek itu. "Are you kidding me?" Sisil menatap Alex dengan tatapan tajam. "Aku juga gak tau, Sil," ucap Alex. Setelah gadis berusia 20 tahun itu berdiri di samping kursinya, Prabu lalu tersenyum. Senyum yang membuat Alex terheran-heran karena pria tua itu tidak akan begitu mudah memberikannya kepada sembarang orang. "Lalu, siapa sebenarnya Aurora itu dan apa hubungannya dengan Prabu?" Pertanyaan itu hanya bisa diucapkan di dalam hati tanpa bisa terucap. "Aurora, kenalkan dia adalah calon suami kamu," ucap Prabu dengan begitu lugas. "Apa?" Sontak hal tersebut membuat pergulatan yang ada di dalam hati Alex seketika terangkat naik. "Gak! Kakek kenapa menjodohkanku dengan dia? Dia itu tidak cantik, tidak modis, bahkan tampangnya itu begitu kampungan. Nggak! Aku nggak mau nikah sama dia. Pokoknya, aku mau nikahnya sama Pricilla!" tolak Alex keras. Dadu dan Tyas hanya bisa berdiam diri. Mereka berdua sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah bersangkutan dengan Prabu. Segala ucapan yang keluar dari mulutnya itu bagaikan titah yang tidak bisa dibantah. "Duduk!" Prabu berkata dengan begitu santai tanpa sedikit pun merasa terintimidasi oleh tatapan Alex. "Kakek, tolong jangan buat hal ini semakin sulit!" Alex kini datang, bahkan berlutut di samping Prabu. "Aku gak mau nikah sama dia. Dia buruk rupa, bahkan tidak ada cantik-cantiknya sama sekali," cibirnya tak ada perasaan. Prabu menepis tangan Alex. "Siapa yang mempersulit? Kan, kamu sendiri yang membuat ini sulit!" Alex mulai kehilangan kewarasan. Dia ingin membanting semua benda yang ada di depannya. Akan tetapi, diurungkan karena Sisil mencoba menenangkan dengan mengusap punggungnya. "Pokoknya aku gak mau nikah sama gadis kampungan itu!" tunjuk pria itu tepat di depan wajah Aurora. Prabu menyeringai. "Apa hak kamu menolak permintaan dari kakek? Kamu ini tidak punya apa-apa di sini. Asal kamu tahu, Kakek bisa saja memberikan semua warisan yang kakek punya pada Panti Asuhan, atau orang-orang yang jelas membutuhkan. Daripada diberikan kepada cucu kakek sendiri yang hidupnya hanya untuk berfoya-foya!" ucapnya telak. Aurora hanya bisa menunduk takut sambil meremas tangannya sendiri. Gadis cantik dengan bibir berwarna merah alami itu terlihat bingung harus berkata apa. Kedatangan dia ke sini hanya untuk memenuhi undangan dari Prabu. Namun, entah kenapa justru sekarang menjadi ajang perjodohan. "Ma, Pa, kakek nggak mungkin kan jodohin aku dengan wanita kampungan seperti dia? Apa kurangnya Sisil? Dia sudah jelas jauh di atas gadis udik itu. Sisil seorang desainer, sedangkan yang dijodohkan denganku palingan juga hanya seorang pembantu," ucap Alex dengan begitu frontal. "Alex! Jaga bicara kamu!" Dadu langsung menegur anaknya. "Kenapa? Apa ada yang salah dengan kata-kataku, Pa? Dia memang pembantu, 'kan? Lihat saja bajunya," sindir Alex sambil menatap Aurora dengan penuh hina. Alex tidak merasa bersalah sama sekali telah menghina gadis yang akan dijodohkan olehnya. Dia justru semakin menatap membunuh sosok Aurora yang kini tengah berdiri dengan kepala tertunduk perih. "Ma, Pa. Apa kalian nggak malu kalau punya menantu seperti itu? Kalau aku, sih, ogah. Mending aku menjadi seorang perjaka tua daripada harus menikah dengan dia," kata Alex sinis. "Alex, Papa gak pernah didik kamu buat jadi kurang ajar," omel Dadu dengan wajah memerah malu. "Alex, Kakek sedang tidak membuat sebuah penawaran. Kakek di sini berniat untuk menikahkan kalian berdua. Ah, dan Kakek tidak peduli dengan persetujuan kamu atau tidak, Aurora akan tetap menikah dengan kamu minggu depan. Tidak ada bantahan! Dan untuk kamu, Nona. Pulanglah! Keberadaanmu sangat tidak diinginkan di sini!" "Apa?" Setelah mendengarkan ucapan Prabu, Sisil pergi meninggalkan rumah itu dengan segala rasa malu dan kesal. Keluarga Alex sudah membuat harga dirinya jatuh, sejatuh-jatuhnya. Keberadaan dia sendiri hanya untuk membantu, tetapi yang didapatkan justru hinaan. "Jika kamu mengejarnya, maka kamu akan kehilangan semuanya!" ancam Prabu saat melihat Alex berniat menyusul Sisil. Sedang Aurora Cantika Putri, justru terlihat kurang nyaman. Tangannya sudah berkeringat dingin, apalagi saat mata tajam bak elang milik Alex kini menghujaminya. "Oke, kalau memang tidak ada pilihan. Aku akan menikahi gadis udik ini, tapi aku akan membencinya seumur hidup. Lihat saja, apa dia bisa bertahan lama jadi istriku?" batin Alex kembali menatap Aurora penuh kebencian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN