Suara alarm ponsel menggema di dalam kamar milik perempuan cantik bermata sipit yang bernama Melly Kemala Deviyanty. Dia merupakan anak satu-satunya dari pasangan Edi Sudrajat dan Ningrum.
Edi Sudrajat, sang ayah tersebut sudah lama meninggal saat Melly masih bersekolah di bangku SMP. Dan sang bunda saat ini hanya penjual pecel gerobakan, di depan ujung jalan utama dekat rumah peninggalan ayah nya.
Tangan halus nan putih seperti batu pualam itu terulur, meraba nakas samping tempat tidurnya. Tangan itu terus mencari keberadaan ponselnya, yang telah mengusik tidur Melly pagi ini. Hingga tangan itu berhenti, saat mendapatkan keberadaan ponsel tersebut. Melly pun meraih benda pipih itu, seketika mata perempuan itu membola. Rasa kantuknya pun sudah menguar entah kemana, saat dia melihat layar ponselnya di mana jam di sana sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi.
"Mampus… gue telat!!” pekik Melly dan langsung terlonjak, segera beranjak bangkit dari tempat tidur.
"Aww!!”
Ringisan pada telapak kaki saat baru beberapa langkah berjalan, menginjak sesuatu di bawah sana. Dia berdecak melihat pulpen yang tak sengaja terinjak olehnya, "Siapa yang sembarangan taruh pulpen di lantai. Kurang kerjaan." Menggerutu sendiri lalu melemparnya dengan asal ke sembarang arah.
Padahal jelas-jelas kamar itu milik dia, dan sudah di pastikan siapa pelakunya. Tapi tetap saja dia menggerutu kesal. Setelah itu, Melly bergegas hendak keluar kamar untuk mandi dan tidak lupa meraih handuk yang berada di sandaran kursi belajarnya. Dia berlari kecil menuju kamar mandi yang terletak di luar kamarnya.
Jalur cepat dan kilat Melly kerahkan, untuk sesegera mungkin menyudahi aktifitas bersih-bersihnya di kamar mandi.
"Enggak ada yg tahu. Kalau aku cuma cuci muka sama gosok gigi,” gumamnya sembari cekikikan sendiri di depan pantulan kaca. Wajah Melly terlihat sedikit lebih segar walaupun tidak mandi.
Keluar dari kamar mandi dan rapih-rapih. Melly bersiap pergi menuju perusahaan tempat di mana hari ini dirinya mendapatkan panggilan Interview.
"Sarapan dulu— “
"Telat, Bun!" jawab Melly cepat memotong ucapan bundanya. Melly hanya sempat meneguk s**u putih yang sudah disediakan oleh sang bunda.
"Jangan lupa, makan siang nya di bawa,” Ucap sang bunda mengingatkan anak kesayangan nya itu.
"Iya, Bun. Melly berangkat, udah telat. Doa'in semoga Melly di terima kerja ya, Bun?” ujar Melly pamit sembari mencium punggung tangan bundanya.
"Aamiin!"
Dengan mengendarai motor bebek miliknya. Melly berpacu di jalan raya tanpa menggunakan rem. Umpatan dan makian dari pengguna jalan yang lain tidak dihiraukannya. Yang ada dalam otak kecil Melly saat ini adalah, gimana caranya agar dia bisa sampai sesegera mungkin di perusahaan tersebut tepat waktu.
Sekitar hampir setengah jam lamanya menempuh perjalanan. Akhirnya Melly sampai di perusahaan tempat di mana dirinya mendapat panggilan kerja. Melly memarkirkan motornya dengan sembarangan, membuka helm berwarna pink dengan bercorak hello kitty, lalu men-cangklok-kan-nya di atas stang motor. Dengan terburu-buru, Melly masuk ke dalam Loby perusahaan dan langsung di arahkan ke ruang penerimaan karyawan baru.
Semua yang melamar mendapatkan seleksi yang cukup ketat. Sekitar 10 orang menunggu antrian, duduk dengan teratur untuk mereka satu-persatu di panggil masuk ke dalam ruangan Interview. Melly menjadi salah satu karyawan yang mendapat kesempatan untuk seleksi penerimaan karyawan paling akhir.
Mata Melly menyipit ketika manik matanya tanpa sengaja melihat tiga orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut. Dua kakak kelasnya dan satu orang dia tidak mengenalinya. Jantung Melly berdetak sangat kencang, saat memperhatikan satu orang yang saat itu tengah berbicara dengan seseorang.
Sampai di mana nama dia di panggil, dan Melly masuk ke dalam ruangan Interview itu. Perempuan itu terlihat gugup, duduk dengan gelisah. Jantungnya berpacu seperti sedang lari marathon. Keringat mulai bercucuran di keningnya, padahal ruangan tersebut cukup dingin karena menggunakan pendingan udara. Namun atmosfer di dalam ruangan tersebut bagi Melly terasa begitu panas.
Melly mencoba menghela napas dengan perlahan, sebisa mungkin dirinya harus menahan rasa gugup. Dia sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk menopang kehidupannya. Dan dia pun teringat pada sang bunda yang saat ini sudah sering sakit-sakitan.
Keinginan Melly jika diterima bekerja di sini, bunda harus berhenti berdagang. Biar dia saja yang bekerja untuk memenuhi semua kebutuhan sehari-hari.
"Ingat, Mel!! Kamu harus di terima, demi bunda…"
Melly memperkenalkan dirinya sebisa mungkin dia menetralkan kegugupannya untuk menjawab semua pertanyaan yang di lontarkan oleh lelaki yang bernama Richard.
"Seharusnya kamu yang urus ini semua, aku enggak ada waktu kayak gini,” gerutu Richard kepada sang asisten, yang tak lain adalah sahabatnya yang bernama Ivan Sanjaya.
"Kan nanti, kamu yang sering berhubungan dengan sekertarismu. Jadi, kamu harus pilih sendiri lah,” jawab Ivan yang kemudian melirik ke arah perempuan yang tengah duduk di depan sana yang tak lain adalah Melly. Dari mata Ivan dia bisa melihat kalau perempuan yang sedang dia Interview itu terlihat sangat gugup.
"Cuma kamu asisten yang kalau aku kasih tau jawab terus,” dengus Richard. “Kalau bukan karena Papa, sudah kupecat kamu dari kemarin-kemarin."
"Terus maunya gimana?" tanpa menjawab omelan bosnya, Ivan malah balik bertanya kepada Richard.
"Apanya yang gimana? Ya sudah, ini aja. Aku rasa hanya dia yang berkompeten dan bisa mengimbangi apa kemauan aku,” ucap Richard menunjuk CV yang di pegang Ivan. “Kamu urus aja, aku cabut dulu.”
Ivan mendengkus kesal sembari terus menggerutu kepada bos nya.
Melly terus memperhatikan dua orang di depan sana dalam diam. Saat pandangan matanya beradu dengan Ivan, dengan percaya diri Melly menampilkan senyum manisnya. Tapi, seketika senyum itu perlahan luntur saat mata tajam Ivan menatapnya. Melly menundukkan kepala, malu karena senyuman dia tak mendapatkan respon yang baik dari lelaki bernama Ivan itu.
"Kamu… bisa tunggu di luar. Tunggu Pak Toni. Setelahnya, kamu temui saya di ruang kerja saya,” titah Ivan ke arah Melly, lalu lelaki itu beranjak berdiri. Kemudian pergi dari hadapan Melly menuju keluar ruangan tersebut.
Kini Melly dapat bernapas dengan lega, dan dia meyakini dirinya bahwa kali ini dia mendapatkan keberuntungan itu.
"Bun… berkat doa bunda, akhirnya Melly di terima kerja."
Sampai akhirnya Melly di panggil oleh lelaki bernama Pak Toni. Melly di minta masuk ke dalam ruangan HRD untuk membaca kontrak kerja sama dan menanda tanganinya.
"Kamu bisa keruangan Pak Ivan setelah ini. Nanti kamu akan terus berinteraksi dengannya, karena kamu langsung bertugas dan berhubungan dengan Presdir kita, yaitu Pak Richard,” jelas Pak Toni.
Melly mengangguk paham. "Baik, Pak. Saya permisi,” ucap Melly, kemudian beranjak keluar dari ruang HRD.
Perempuan itu melangkah memasuki lift untuk menuju lantai 20 di mana lantai tersebut adalah area ruangan khusus petinggi perusahaan. Melly nantinya akan menempati salah satu ruangan di area depan pintu masuk ruangan pimpinan perusahaan menurut penjelasan Pak Toni.
Melly melangkah menuju ke arah ruangan Ivan sesuai dengan arahan Pak Toni. Sampai di mana dia berdiri mematung saat sudah tiba di ambang pintu. Melly berdehem sejenak, guna menetralkan degub jantungnya yang berdetak tidak karuan. Saat akan mengangkat tangan untuk mengetuk daun pintu, Melly dikejutkan oleh seorang lelaki tampan yang akan keluar dari dalam ruangan tersebut.
"Kamu langsung ikut saya keruangan presdir, karena beliau akan memberikan pekerjaan pertama kamu,” ucap lelaki tampan tersebut yang tak lain adalah Ivan.
"Hah! Ah i-ya, Pak. Ba-ik!" jawab Melly gugup, dia sempat terpesona akan ketampanan seorang Ivan Sanjaya.
Lelaki itu terlihat masih sama seperti dulu saat waktu SMA, hanya sedikit lebih dewasa baik penampilan maupun wajahnya.
Melly tidak menyadari, kalau dirinya tengah tertinggal beberapa langkah jaraknya dari Ivan.
"Cepat sekali langkahnya.” Buru-buru Melly berlari kecil untuk mengikuti langkah kaki Ivan dibelakangnya.
Sampai di mana keduanya masuk ke dalam ruangan Presdir, setelah sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu dan dipersilahkan masuk oleh atasannya itu.
"Kamu ikut saya. Jangan banyak bertanya, apa lagi menjawab pertanyaan seseorang yang akan kamu temui. Lakukan yang saya perintahkan dengan segera. Ingat, saya tidak suka dengan bawahan yang lelet dalam bekerja,” ujar Richard tegas, menatap Melly dengan tatapan dinginnya.
"Ba-baik, Pak.” jawab Melly dengan terbata. Jantungnya semakin berpacu dengan cepat menghadapi dua orang bos yang sama-sama dingin.