Malam semakin larut, Melly sama sekali sulit untuk memejamkan matanya. Membuka tirai pintu kaca kamarnya, yang dia lihat satu rumah sederhana yang cukup besar di antara jejeran rumah yang lain tepat di sebrang toko roti milik Melly. Membuka pintu itu, lalu keluar di sana menuju balkon. Memegang besi pembatas sembari memejamkan mata. Membiarkan angin berhembus menerpa wajah juga helaian rambutnya. Malam ini udara cukup dingin, karena hari ini hujan turun saat pagi dan sore hari. Membuka mata, tanpa sengaja netranya melihat sosok lelaki tengah melambai ke arahnya. Dering ponsel di dalam kamar terdengar di indera pendengarannnya membuat dia menoleh sesaat. Perempuan itu enggan untuk mengangkatnya. Namun, netra itu tak sengaja melihat orang di sebrangnya mengangkat sesuatu ke udara. Melly

