Waktu telah menunjukkan pukul 21.00 malam. Ivan dan Melly kini tengah berbaring saling menghadap satu sama lain. Melly akan mengingat setiap sudut pahatan wajah tamban bak dewa, lelaki yang ada di hadapannya itu di dalam Memory ingatan dia. Entah sampai kapan dia akan terus selalu bisa memandangi wajah itu lekat-lekat. Tersenyum samar kala inagtan dia kembali pada pagi hari tadi, tentang kenyataan pahit yang harus dia terima. "Kamu nggak capek?" "Capek aku hilang, kalau udah lihat wajah kamu dan deket sama kamu." Kecup kening Melly lama. Ivan meresapi dan menyalurkan apa yang kini dia rasakan. Melly sama sekali tidak mau menanggapi apapun ucapan Ivan. Entah lelaki itu tengah jujur atau berbohong. Melly sudah tidak mau memikirkan itu. "Van... apa ada sesuatu yang kamu ceritakan? Aku s

