Cemburu

816 Kata
 “vielo, ya tuhan . tolang janga seperti ini vielo, apa yang terjadi, bangun sayang, aku mohon.” Erlangga mengguncang tubuh vielonica berharap vielonica akan sadar. Namun tetap tidak sadar. Erlangga memeluk tubuh vielo yang tak sadarkan diri itu samb il terus berderai air mata. “angga, cepat bawa vielonica, dia harus mendapatkan pertolongan dulu, aku sudah memanggil dokter untuk menanganinya” perintah abimana. Erlangga langsung membawa tubuh vielonica menuju sebuah kamar yang aman, dan menidurkannya di atas ranjan. Tak tunggu lama dokter yang dihubungi abimanapun tiba dan langsung memeriksa keadaan vielonica dan langsun memberika infusan di salah satu tangannya. “ bagaimana keadaannya dokter?” Tanya erlangga khawatir, wajahnya masih terlihat sangat menegang menantikan penjelasan dari dokter itu. Dokter itu tersenyum lalu berkata. “ keadaannya baik-baik saja tuan, dia hanya mengalami sok saja hingga dia pinsan. Biarkan saja dulu dia istirahat dan tenang.” Kata dokter itu membari penjelasan “ saja rasa, saya harus pergi dulu tuan. Nanti saya akan kembali untuk melepas infusaannya.” Dokter itu membungkuk sopar sebelum meninggalkan itempat itu. Sedangkan erlangga hanya membalas dengan anggukan kepala. Setelah dokter itu benar-benar pergi, erlangga mendekati vielonica dan menggengam tangannya lalu mengecup punggung tangan itu dengan penuh kasih sayang. “siapa yang berani melakukan ini kepada wanitaku? Kalau aku menemukan mu maka aku akan membunuhmu”  guman erlangga dengan mengepalkan tangannya. “maafkan aku yang tidak bisa menjagamu. bangun vielo, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengsn dirimu” menciup kening dsn bibir vielonika penuh cinta. Merasa ada sesuatu yang menyentuh bibirnya vielonica mulai mengerjap-erjapkan matanya dia mulai tersadar dan perlahan membuka kelopak matanya. Ada sinar cahaya masuk kematanya. Ia menatap sekeliling ruangan yang terang benderang. Dinding kamar yang di domimasi warna putih. Tidak seperti wakti sebelum dia pingsan yang gelap gulita. “emhh… dimana ini” lirihnya lemas. “vielo, kamu sudah bangun honny? Kamu aman bersamaku, jangan takut,aku akan melindungi mu” kata erlangga menenangkan vielo tak kala dia masih menangkap ekspresi ketakutan dari sorot mata vielonica. Tangannya membelai kepala vielonica dengan lembut, vielonika mencoba bangun dan duduk berdandar pada divan ranjang. “akhh… kepalaku sangat pusing” keluhnya. Dengan sigap erlangga duduk disampingnya dan memeluk bahu vielonica. “kamu jangan banyak bergerak dulu, istirahatlah kondisimu masih lemah” kata erlangga lembut. “angga!” lirih vielo yang mendapati kekasihnya yang sudah ada di sampingnya dan memeluknya. “siapa yang membawaku kemari? Bukankah tadi aku ada di sebuah kamar yang gelap gulita dan terkunci disana” kata vielonica. “ kau fikir siapa lagi kalau bukan pacarmu yang tampan ini” ucap erlangga percaya diri. “ sekarang kamu ceritakan sama aku. Siapa yang melakukan ini kepada mu. Akan aku habisi dia” kata erlangga perapi-api” vielo, yang melihat amarah itu langsung berbicara “apaan sih, emangnya siapa yang akan kamu habisi, aku tidak mau punya kekasih seorang pembunuh.” Kata vielonica menatap erlangga dengan tatapan sendunya. “akau tidak peduli, jika itu tentang dirimu, akan aku lakukan walau harus menjadi pembunuh sekalipun” jawab erlangga tegas. “tidak angga, kalau kamu sampai jadi pembunuh kita akan putus” wajab vielo mengancam, “lagian aku baik-baik saja, orang itu tidak menyakiti ku secara fisik, dia hanya menarikku ke kamar gelap itu dan menguncinya. Aku pingsan karena sangat sok, itu saja” kata vielo memberi penjelasan kepada erlangga. Dia sangat takut kekasihnya itu benar-benar melaksanakan ucapannya untuk membunuh mengingat betapa keras kepala kekasihnya itu jika sudah terusik. “baiklah sayang, tapi katakana padaku, bagaimana rupa orang itu, dia laki, laki atau perempuan?” Tanya erlangga hati-hati. Karena sekarang dia mulai berfikir untuk membalas orang yang sudah menyakiti kekasihnya iru tampa harus ketahuan pada sang kekasih.takut kalau sang kekasih benar-benar melaksanakan ancamannya untuk memutuskan dirinya. “aku tidak tau, aku tidak melihatnya dengan jelas. Tapi aku fikir dia seorang pria, karena waktiu dia menarik tanganku aku sempat menabrak d**a orang itu, aku sempat berfikir itu dirimu jadi aku menyandarkan kepalaku di d**a itu dan itu sangat pas seperti kita berdiri sejajar dan aku menyandarkan kepadaku didadamu. Tapi aku tau itu bukan kamu Karena aroma farfum mu berbeda.”jelas vielonica panjan lebar, sedangkan erlangga seperti terbakar cemburu mendengar penjelasan vielonica jika kekasihnya itu menyandarkan kepalanya di d**a bidang  pria lain. Saat vielonica akan lanjut menjelaskan, suara erlangga menghentikannya. “cukup!” ada nada emusi yang ditahan. Sengaja menghentikan vielonica karena tidak mau memdengar hal lain yang akan membuat dadanya  semakin sesak karena cemburu. “aku rasa penjelasan mu sudah cukup” ucap erlangga. Dia meresa penjelasan vielo itu memang sudah sangat cukup dan untuk selebihnya dia akan mencari tau sendiri lewat CCTV yang ada di hotel itu. Yang memang bagi erlangga tidak akan sulit untuk mendapatnya sebuah rekaman CCTV. “kamu tidurlah lagi, sampai cairan infus ini benar-benar habis dan keadaanmu benar-benar pulih” perintah erlangga pada yang kekasih. Tak lama kemudia vielo benar-benar tertidur.dan terlihat erlangga yang mengobrol serius dengan seseorang di sebrang telpon genggem miliknya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN